Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 10


__ADS_3

...***...


Nero terus melangkah disana. Melangkah menuju gedung asrama putri untuk menemui Nataliya yang menjadi sepupunya itu.


Kedatangan Nero yang secara tiba-tiba di depan gedung asrama putri itu spontan membuat orang-orang berfokus padanya, menatap sosoknya yang good looking. Tidak sedikit orang yang terpana akan parasnya, dan tidak sedikit pula orang-orang yang memperhatikannya ketika mereka tengah berjalan. Berlalu-lalang di hadapannya.


Walaupun begitu, Nero tak menghiraukan mereka dan masih terus fokus pada ponsel pintarnya yang tengah di genggaman olehnya. Ia tengah berkirim pesan dengan Nataliya hendak meminta gadis itu untuk menemuinya di depan gerbang, sempat beberapa kali tidak ada balasan, tapi Nero tidak menyerah dan terus berusaha untuk menghubungi sepupunya itu.


"Astaga, dimana kau Nat!" Tuturnya yang mulai merasa kesal dengan Nataliya yang tidak kunjung membalas pesannya.


"Kau benar-benar membuatku kesal Nat!" Gerutunya. Nero memecet tombol telpon disana kemudian menempelkan ponsel pintarnya itu di telinga kirinya.


"Awas saja jika kau tidak menjawab telpon dariku!" Gumamnya. Setelah nada ‘tuut…’ beberapa kali, akhirnya sambungan telponnya itu terhubung.


"Aku membutuhkan bantuanmu! Kau dimana! Cepat kemari, aku ada di depan gerbang asrama!" Potongnya cepat tanpa memberikan celah sedikitpun bagi Nataliya untuk berkata.


"A-apa ma—"


"Datanglah sekarang juga!" Potongnya lagi yang lantas dengan cepat memutus sambungan telponnya itu secara sepihak.


"Awas saja jika kau tidak datang," gumamnya bersungut-sungut. Nero lantas memasukkan kembali ponsel nya itu ke dalam kantong celana yang tengah di kenakan olehnya, dan kini ia mulai kembali menunggu disana.


...*...


"Ponselmu berbunyi!" Kata gadis berponi yang menutupi keningnya hingga alisnya juga itu membuat perhatian gadis cantik yang sejak tadi sibuk membereskan barang-barangnya ke dalam lemari itu beralih menatap ke arahnya.


"Huh? Benarkah? Dari siapa?" Tanya nya seraya kembali memasukkan pakaiannya ke dalam sana.


"Kak Nero," ucapnya membaca tulisan yang berderet disana. "Siapa dia? Kakakmu?" Tanya gadis itu, menatap teman sekamar nya itu dengan raut wajah bingung.


"Huh? Kak Nero? Ada apa ya, dia menelepon ku?" Nataliya terdiam sesaat. Ia lantas beranjak bangun dari tempatnya, meraih ponsel pintarnya lantas menekan tombol hijau disana yang langsung membuat telponnya itu terhubung otomatis dengan sang penelepon.

__ADS_1


"Aku membutuhkan bantuanmu! Kau dimana! Cepat kemari, aku ada di depan gerbang asrama!" Potongnya di sebelah sana tanpa memberikan sedikit pun celah untuk nya berkata.


"A-apa ma—"


"Datanglah sekarang juga!" Lagi. Dia memotong perkataannya.


"Halo? Halo? Kak? Kak? Aish!" Ia tampak kesal sekarang.


"Kenapa?" Tanya teman sekamarnya itu dengan raut wajah bingung dirinya menatap gadis yang baru saja menerima telpon dari pria bertuliskan 'kak Nero' itu.


"Kakak sepupuku meminta bertemu di depan gerbang asrama."


"Huh? Benarkah?"


"Iya. Tampaknya aku harus pergi sekarang, dia tampak sangat tergesa-gesa."


"Ooh begitu, apa perlu aku antar?"


"Tidak perlu aku bisa sendiri. Kau tunggu saja disini, oke!"


"Sampai jumpa," ia melambaikan tangan seraya berjalan keluar. Teman sekamarnya itu hanya membalas lambaian tangannya seraya tersenyum.


Nataliya Zola, itu namanya. Seorang gadis berusia 16 tahun yang baru saja masuk SMA tahun ini. Hari ini adalah hari pertamanya menginjakkan kakinya di SMA, menjadi siswa kelas sepuluh yang baru saja tiba. Nataliya memiliki wajah yang cantik, tinggi, berkulit putih, dengan tubuh yang ideal. Warna matanya sama seperti warna mata Nero, hijau. Dengan rambut yang serupa, hanya saja Nataliya memiliki warna rambut yang lebih terang di bandingkan Nero. Nataliya memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Nero. Hanya saja bedanya, jika Nero dapat melihat warna suara, beda halnya dengan Nataliya. Gadis itu memiliki kemampuan untuk melihat warna aroma, dan kemampuan pertahanannya adalah memperbaiki barang-barang yang sudah rusak, atau lebih singkatnya adalah mengembalikan apa yang sudah rusak.


Gadis itu berlari menyusuri koridor yang di penuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Matanya yang amat sensitif dapat melihat warna aroma yang berbeda yang menciptakan warna warni di antara dirinya. Nataliya tak menghiraukan warna-warna itu dan terus berlari, hingga akhirnya tiba di depan gerbang asrama putri.


Tiba disana, kedua manik matanya menangkap sosok nero yang tak asing dimatanya. Bergegas ia menghampirinya disana.


"Ada apa kak? Tampaknya amat penting?" Tanya Nataliya yang baru saja tiba di hadapannya.


"Aku membutuhkan bantuanmu, ikut aku!" Sahut Nero yang lantas menarik tangan Nataliya keluar dari asrama.

__ADS_1


"K-kak Nero mau membawaku kemana?" Nataliya bingung.


"Ikut saja. Kita harus bergegas sebelum guru-guru mulai berdatangan untuk mengecek siswa-siswinya!" Tukasnya.


"H-huh? Maksudnya?"


"Sudahlah jangan banyak bertanya!" Nero mulai kesal. Dengan segera ia membawa Nataliya menuju asramanya. Ia lantas membawanya menuju lantai dua asrama, tempat dimana para siswa kelas sebelas berada. Dengan di seret Nataliya berjalan. Keduanya yang berjalan amat tergesa membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arahnya.


"T-tunggu! Kenapa kak Nero membawaku kemari?" Nataliya kelabakan.


"Sudahlah diam saja, nanti kau juga tahu!" Katanya yang terus berjalan menarik tangan Nataliya.


BRAKKKKK


Dengan sedikit keras Nero membanting pintu kamarnya, membuat Dean, Taz, dan Marko yang tengah mengobrol di dalam sana terperanjat kaget dibuat nya. Spontan mereka menoleh serentak ke arah datangnya suara, diambang pintu sana mereka mendapati sosok Nero yang baru saja tiba dengan gadis yang mereka perkirakan itu adalah Nataliya.


"Aku membawanya," tuturnya kepada ketiga temannya.


"Huh? Tunggu, ada apa ini?" Nataliya masih tidak mengerti.


"Kau harus membantu teman-temanku dengan kemampuan yang kau miliki! perbaikan beberapa kerusakan di kamarnya sebelum guru-guru tiba," jelas Nero.


"H-huh?" Nataliya masih tidak mengerti.


Kegaduhan yang ada membuat Vicenzo yang tengah terlelap disana terusik. Kedua matanya yang semula terpejam lantas terbuka. Jujur saja, ia benar-benar benci dengan kebisingan. Vicenzo bangun secara perlahan, terduduk di atas ranjang sana seraya menatap ke arah pintu masuk. Kedua tangannya mengucek matanya berusaha memperjelas penglihatannya.


"Astaga, apakah kalian tidak bisa pelankan suara kalian? Aku disini terganggu!" Tukasnya dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur. Spontan semua orang disana menoleh ke arah Vicenzo yang baru saja berucap disana.


"K-kau sudah bangun?" ucap Dean seraya menoleh ke arahnya. Vicenzo menatap ke arahnya.


"Ada apa ini?" Tanyanya. Disisi lain, nataliya yang baru saja sadar dengan pria yang di lihatnya itu berdiam terpaku di tempatnya, ia benar-benar terpesona akan ketampanan pria dengan rambut albino itu.

__ADS_1


"KYAAA!!!!" Teriaknya membuat seisi orang di dalam sana terkejut.


...***...


__ADS_2