Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 41


__ADS_3

***


Trish menghampiri pintu di hadapan nya, ia hendak mengetuk nya sebelum kemudian sebuah suara seorang wanita menginterupi gendang telinga nya yang spontan membuat diri nya berhenti dan menoleh ke arah datang nya suara.


"Kau siapa?" Tanya wanita itu yang berhasil membuat Trish menoleh ke arah diri nya disana. Memandangi wanita yang kini berdiri sekitar tiga meter di belakang Trish.


"A-ah aku sedang mencari pemilik rumah ini, apakah kau mengenal pemilik rumah nya?" Tanya Trish yang lalu memutar tubuh nya menjadi menghadap ke arah wanita itu. Wanita itu tampak cukup cantik, mata nya juga cukup indah. Hanya saja style nya yang terkesan berantakan menyembunyi kan semua itu. Pakaian nya berantakan seperti seorang kuli bangunan, tubuh nya kurus tapi tinggi, rambut nya berantakan terikat satu ke belakang. Wanita itu memakai kemeja berwarna biru kucel yang lengan nya di lipat sampai sikut nya, dua kancing atas nya terbuka membuat tank top putih yang di pakai nya terlihat, ia juga memakai celana jeans yang sangat pas membentuk kaki jenjang nya. Ia benar-benar tampak sangat tomboy, apalagi jika di teliti dari cara berdiri nya saat ini.


"Untuk apa kau mencari pemilik rumah ini? Ada perlu apa kau?" Wanita itu tidak menghirau kan ucapan Trish dan malah balik melontar kan pertanyaan pada Trish. Kini ia melangkah menghampiri Trish dan berdiri tepat setengah meter dari tempat Trish berdiri saat ini.

__ADS_1


"Ada beberapa hal yang ingin aku tanya kan pada pemilik rumah ini, apakah kau kenal dengan wanita yang tinggal di sini? Ku dengar dia tinggal seorang diri di sini karena ke dua orang tua nya telah meninggal beberapa belas tahun yang lalu, apakah kau tahu?"


"Memang nya kau siapa? Dan apa yang ingin kau tanya kan pada nya?" Wanita itu terus memutar pertanyaan pada Trish membuat pria itu bingung di buat nya.


"Kenapa wanita ini terus memutar pertanyaan pada ku? Apakah ada sesuatu yang ia coba sembunyi kan? Kenapa dia tidak mau menjawab pertanyaan ku?" Trish membatin. Trish meliriknya penuh selidik.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?!" Ujar wanita itu yang spontan membuat Trish tersadar.


"S-sial, kenapa dia bisa berpikiran begitu?!" Wanita itu membatin, mata nya beradu pandang dengan Trish di hadapan nya.

__ADS_1


"…Wanita yang aku cari?" Sambung nya yang kemudian berhenti ketika wajah mereka benar-benar berdekatan, hanya lima centimeter lagi saja maka hidung mereka akan bersentuhan. Trish menatap ke dua manik mata wanita itu, menatap nya amat lekat dari jarak yang sangat dekat. Wanita itu masih balik memandangi diri nya. Wajah nya kini tampak berubah merah melihat wajah Trish dalam keadaan sedekat ini.


"A-aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicara kan! Minggir! Aku ingin pergi," wanita itu mendorong tubuh Trish berusaha membuat nya pergi dari hadapan nya. Ia lantas melangkah pergi dari tempat nya saat ini, meninggal kan Trish seorang diri di sana.


*


"Argghhh!!! Kenapa dia belum juga pergi!" Wanita itu menggerutu sebal, sudah hampir delapan jam diri nya berdiri di sana, di sudut jalan gelap yang kini tampak sepi. Jalan nya tidak terlalu jauh dari tempat di mana diri nya tinggal. Ia kini tengah bersembunyi, berusaha menghindar dari pria yang semula ia pergoki tengah berdiri di depan rumah nya, dan sial nya; pria itu sampai saat ini. Sampai malam-malam seperti ini, masih belum juga beranjak dari tempat nya semula berada. Pria itu bahkan tampak tidak ingin menyerah, menunggu sang pemilik rumah membuka kan pintu untuk nya. Padahal ia tidak tahu saja, jika sebenar nya wanita yang tadi sore bertemu dengan nya, adalah wanita yang tinggal di rumah yang kini di tunggu nya.


Wanita itu mengacak-acak rambut nya membuat rambut nya semakin berantak kan. Ia benar-benar tidak tahan lagi berada di sana, rasa nya ia ingin segera berlari menghampiri rumah nya dan masuk tanpa menghirau kan pria itu. Tapi semua itu mustahil ia lakukan, pasal nya pria itu kini bersandar pada pintu masuk rumah nya, dan yang lebih sial nya lagi. Hanya ada satu akses jalan bagi nya untuk masuk ke dalam rumah nya, dan satu-satu nya pintu itu adalah pintu yang kini di tempati oleh pria di sana. Pria yang kini tampak mulai kelelahan dan sesekali kepala nya terhantup keras ke dinding menahan kantuk yang selama beberapa jam yang lalu menghampiri nya.

__ADS_1


Tessa Illinois, itu nama nya. Merupakan seorang wanita berusia dua puluh enam tahun yang hidup sebatang kara di tempat yang kumuh dan terpencil, tempat yang jauh dari keramaian kota dan hiuk-piuk kota Jakarta. Tessa bekerja sebagai mandor bangunan yang beberapa hari ini tengah menggarap proyek besar yang berada tidak jauh dari tempat nya tinggal. Dulu diri nya bercita-cita ingin menjadi seorang reporter sama seperti sang ibu yang kini telah tiada. Namun semua harapan dan cita-cita nya itu pupus kala diri nya harus di hadapkan dengan kenyataan pahit bahwa kedua orang tua nya meninggal, bahkan sebelum mereka bisa melihat diri nya sukses bekerja sebagai reporter. Semenjak kematian kedua orang tua nya, Tessa lantas memutus kan untuk pindah ke tempat yang lebih aman. Pasal nya jika diri nya tinggal di kota yang cukup mendapat perhatian pemerintah, maka diri nya akan terancam dalam bahaya. Beberapa kali orang-orang dari pemerintahan mendatangi kediaman nya untuk bertemu dan berbicara dengan nya, namun Tessa enggan untuk menemui mereka. Karena ia tahu apa yang akan mereka tanya kan pada diri nya. Hal itulah yang membuat Tessa sering bersikap paranoid dan waspada ke setiap orang yang datang ke rumah nya. Ia hanya ingin berjaga-jaga dan memastikan jika orang yang mendatangi rumah nya itu, bukanlah orang suruhan pemerintah yang hendak membawa nya untuk pergi dan menanyakan berbagai pertanyaan yang enggan dijawabnya.


***


__ADS_2