Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 46


__ADS_3

...***...


Rei melangkah menghampiri kulkas yang sengaja di simpan nya di lantai dua itu, ia membukanya kemudian mengambil beberapa minuman di dalamnya.


Fokus pria itu beralih seketika saat ia mendengar suara beberapa orang yang tengah berbincang. Dan disana, diberanda lantai dua. Dirinya dapat melihat Dean dan Vicenzo yang tengah berdiri bersama seraya mengobrol menghadap ke arah pemandangan taman sampingnya.


Rei berjalan menghampiri mereka dengan tiga kaleng soda ditangannya, ia sudah tahu jika ia akan bertemu mereka saat mengambil minuman.


"Kalian belum tidur?" Tanyanya saat tiba di dekat mereka. Dean dan Vicenzo terkejut di buatnya. Spontan kedua nya beralih pandang menatap diri nya yang baru saja tiba di sana.


"Rei?" Ujar mereka serentak dengan raut wajah terkejut. Rei berdiri di samping Vicenzo, menyodorkan soda di tangannya ke arah mereka, memberikan mereka satu kaleng masing-masing. Fokus nya kini beralih menatap ke arah di mana Dean dan Vicenzo memandang.


Untuk sesaat hening, yang dapat di dengar mereka saat ini hanyalah suara Rei yang membuka tutup kaleng soda kemudian meminumnya.


Semilir angin malam berhembus menghiasi kebersamaan mereka bertiga.


"Kalian belum tidur?" Rei mengulangi pertanyaan yang sempat di lontarkan nya pada mereka namun belum sempat mereka jawab.


Dean dan Vicenzo menoleh ke arah Rei yang kini berdiri tepat bersebelahan dengan mereka. Tatapan mata pria itu lurus menatap ke arah taman di hadapannya, tangannya kini kembali bergerak meneguk soda dalam kaleng dalam genggamannya.


"Kami tidak bisa tidur," sahut Vicenzo kemudian. Tangannya kini bergerak membuka kaleng soda yang tadi di berikan Rei, ia membukanya kemudian meminumnya sedikit.

__ADS_1


"Kalian tidak bisa tidur, pasti karena kalian terus kepikiran mengenai apa yang aku ucapkan kan?"


Dean dan Vicenzo yang baru saja mendengar ucapan Rei spontan menoleh ke arah pria itu. Raut wajah keduanya tampak benar-benar terkejut, menatapnya penuh tanya.


"Kenapa dia bisa tahu?" Dean membatin.


"Sudah aku bilang jika aku mengetahui segalanya," sahut Rei yang dapat mendengar suara hatinya. Pria itu lagi-lagi meneguk sodanya. Berbicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah keduanya. Dean dan Vicenzo hanya bisa diam tanpa merespon, mereka masih belum terbiasa dengan kemampuan Rei yang masih abstrak menurut mereka. Keduanya masih bingung mengenai kekuatan evol apa yang sebenarnya di miliki oleh Rei. Ia bahkan memiliki lebih dari dua kekuatan dalam dirinya.


"Oh, dan… berhenti menatapku seperti itu," Rei beralih pandang menatap keduanya. Dean dan Vicenzo beralih pandang ke arah lain, ia benar-benar merasa tidak nyaman jika harus bertatap mata langsung dengan Rei.


Rei beralih posisi, kini ia berdiri berlawanan arah dengannya. Bersandar pada pagar besi yang membatasi beranda di lantai dua.


"Aku mengerti kehadiranku bersama dengan kedua sepupuku membuat kalian berlima terkejut. Karena kami hadir secara tiba-tiba untuk membantu kalian. Tapi asal kalian tahu saja jika sebenarnya aku dan kedua sepupuku tidak bermaksud untuk berbuat jahat pada kalian. Karena kami di sini dengan misi, yang membuat kami harus berusaha membantu seseorang menghentikan masalah yang saat ini sedang terjadi," Rei melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ya, seseorang," sahut Rei yang kembali meneguk minumannya.


"Siapa seseorang yang kau maksud itu?" Tanya Vicenzo yang juga merasa penasaran.


"Aku tidak bisa berbicara yang sejujurnya, karena akan sangat sulit untuk di terima akal sehat manusia pada umumnya. Tapi yang pasti, apa yang aku bicarakan itu berdasarkan pada kenyataannya."


Lagi-lagi Dean dan Vicenzo terdiam mendengar ucapan Rei yang sulit untuk di cerna otak mereka. Fokusnya tersita saat secara tiba-tiba Rei beranjak dari tempatnya, melangkah masuk kembali ke dalam.

__ADS_1


"Tapi jika kalian ingin mengetahui banyak hal yang menjadi pertanyaan kalian, tidurlah dan bergabung dengan teman-temanmu yang lain, yang saat ini sedang menanyakan berbagai pertanyaan padaku," ujar Rei seraya terus melangkah. Tangannya kemudian bergerak menaruh kalengnya ke atas meja di ruangan itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Dean dan Vicenzo dalam berbagai pertanyaan yang bermunculan dibenaknya.


"Apa maksud dari perkataannya tadi?" Tanya Dean yang tidak mengerti.


"Aku juga tidak tahu," sahut Vicenzo yang kini terdiam dalam lamunannya. Ia masih berusaha mencerna ucapan Rei barusan.


"Apa sebenarnya maksud dari perkataannya tadi ya?" Dean menolong, ia lantas terdiam dalam lamunannya, sama halnya dengan Vicenzo yang saat ini tengah berusaha mencerna ucapan Rei.


"Ah, sudahlah lebih baik kita tidur. Ini sudah malam, besok juga kita harus bangun pagi-pagi untuk pergi ke sekolah," Vicenzo akhirnya menyerah. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Rei. Pria itu lantas beranjak dari tempatnya semula. Melangkah masuk ke dalam rumah kemudian menaruh kaleng berisi soda di tangannya ke atas meja di sana, tepat bersebelahan dengan kaleng soda yang semula di taruh Rei.


Dean beranjak mengikutinya dari arah belakang, sama hal nya dengan Rei dan Vicenzo; ia juga menaruh kaleng minuman yang belum sempat di minum nya itu ke atas meja. Setelah nya Dean beranjak menuju kamar nya.


BLAM!


Pintu masuk itu di tutupnya rapat. Dean lantas berjalan menuju tempat semula diri nya terbaring. Dean berbaring tepat di samping Vicenzo yang kini terbaring dengan posisi menghadap ke arah Dean.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan setiap kalimat yang di ucapkan Rei barusan," Dean bergumam pelan, menolong dengan diri nya sendiri seraya menatap langit-langit kamar nya. Sekarang semakin bertambah hal yang mengganggu pikiran nya. Bukan hanya mengenai ucapan Rei yang menyatakan jika diri nya memiliki kekuatan sama seperti yang lain nya, namun juga mengenai ucapan Rei barusan saat mereka tengah menikmati malam bersama.


"Sudahlah jangan terus di pikirkan. Ini sudah larut dan kau harus tidur! Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali agar tidak terlambat berangkat ke sekolah," ucap Vicenzo yang menyadari jika Dean di samping nya masih belum tidur. Pria itu berucap dengan keadaan kedua mata yang terpejam, ia berusaha untuk tidur.


"Ah ya, kau benar," sahut Dean yang kemudian memejamkan matanya secara paksa, berusaha untuk tertidur walaupun pikiran nya terus dihantui oleh berbagai pertanyaan yang bermunculan di otaknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2