
...***...
"Bisakah kau ceritakan pada kami semua mengenai isi mimpi yang kau alami?"
"Ya. Kalau begitu duduklah akan aku ceritakan semuanya," tutur Dean.
Rei, Elvina, William, Taz, dan Marko lantas beranjak menghampiri satu persatu kursi yang ada di sana. Duduk bersama di satu meja yang sama. Mengelilingi meja tersebut dan bersiap mendengarkan cerita dari Dean mengenai isi mimpi yang selama ini terus ia alaminya berulang kali. Ketujuhnya menatap kearah Dean serius.
"Jadi bagaimana?" Tanya Marko yang sudah benar-benar tidak sabar.
"Aku ingat seluruh isi mimpinya. Walaupun aku merasa bahwa itu seperti sepenggal dari ingatan yang aku miliki," gumam Dean.
"Apa isi mimpinya?" Tanya Vicenzo.
"Dalam mimpi itu aku di titipkan oleh ibuku pada seorang pria tua. Aku tidak terlalu ingat wajahnya karena dalam mimpiku itu, aku masih sangat kecil. Lalu setelah itu, ibuku berkata pada pria tua itu bahwa dia menitipkan diriku dan memintanya untuk melindungi ku. Oh, dan dalam mimpi itu… ibuku memanggil pria itu dengan sebutan papa," Dean mengambil jeda sejenak. Ia masih berusaha menangkap sisa ingatannya yang masih mengambang dalam memori otaknya. Belum sepenuhnya tersimpan dengan jelas di dalam sana.
"Jadi, bisa di simpulkan dalam mimpi itu kau di bawa oleh ibumu untuk tinggal dengan kakek mu? Begitu? Dan ibumu menitipkan mu di rumah kakek mu?" Marko menyimpulkan.
"Iya. Bisa di bilang begitu."
"Aneh, padahal hanya mimpi biasa. Tapi kenapa kau sampai terus memimpikan nya dan kenapa kau tidak bisa mengingatnya?" Marko bergumam di sana. Baginya mimpi yang di ceritakan oleh Dean adalah mimpi biasa. Tapi beda halnya dengan Rei, Elvina, dan William. Ketiganya sudah tahu bahwa mimpi itu bukanlah mimpi biasa. Melainkan ingatan Dean yang berubah menjadi mimpi, dan mimpi itulah yang nantinya akan menjadi petunjuk jalan mereka menuju tempat dimana mereka akan di pertemukan dengan orang-orang yang telah menculik para evolver dan menyembunyikan nya.
"Lalu, bagaimana lagi?" Taz masih berusaha mencerna cerita Dean. Ia meminta penjelasan lebih atas ceritanya.
"Dalam mimpi itu, ibuku dan kakek ku mengobrol, seakan-akan mereka saling memberikan pengertian satu sama lain. Aku tidak dapat mengingat dengan jelas isi dari percakapan mereka, namun yang aku ingat dalam mimpi itu… aku merasakan sesuatu yang berbeda." Dean menundukkan kepalanya. Entah mengapa perasaan nya bercampur menjadi satu, antara sedih dan senang. Membuat perasaan nya semu berada di antara perasaan yang berbeda.
"Apa maksudmu dengan yang berbeda?" Tanya Nero tidak mengerti.
__ADS_1
"Dalam mimpiku… aku merasa ibuku sangat perhatian padaku, dia tampak begitu mencemaskan ku bahkan tampak sangat sulit untuk berpisah denganku. Sedangkan apa yang aku alami selama ini… justru kebalikannya," gumam Dean pelan.
Yang lainnya terdiam. Mereka mengerti mengenai apa yang di rasakan oleh Dean.
"Selain itu, apa lagi yang terjadi setelah ibumu menitipkan mu pada kakek mu Dean?" Tanya Rei membuat pria itu beralih menatap padanya.
"Setelah ibu ku menitipkan aku pada kakek ku, ibuku pergi. Tapi aku tidak tahu kemana dia akan pergi. Dan dalam mimpi itu, aku berteriak seraya berusaha untuk mengejarnya tapi ditahan oleh kakek ku." Dean mengakhiri ceritanya.
"Oh, aku mengerti. Jadi kau berteriak setiap kali memimpikan itu adalah saat ibu mu pergi?" Marko berucap. Dean menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Tapi sejauh ini tidak ada yang aneh dengan mimpinya. Yang aneh hanyalah mengapa kau terus memimpikan nya selama berulang kali?" Marko masih tidak mengerti dengan isi mimpi yang di alami oleh Dean.
"Bukan itu yang menjadi pertanyaan nya!" Tiba-tiba Nero dan Vicenzo yang sejak tadi diam itu, berucap serentak seraya menoleh ke arahnya.
Marko tersentak begitu secara tiba-tiba mereka mengejutkan dirinya. Sementara yang lain tampak menatap bergantian pada Marko, Vicenzo dan Nero.
"Yang menjadi pertanyaan nya adalah kemana ibunya Dean akan pergi? Dan kenapa ibunya menitipkan Dean pada kakek nya!" Ujar mereka yang lagi-lagi serentak membuat yang lain tertegun. Keduanya memiliki pemikiran yang sama.
"Kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Tanya Vicenzo.
"Iya… tampaknya kita memikirkan hal yang sama," sahut Nero yang yakin dengan ucapannya.
"Jadi itu yang menjadi pertanyaan nya…" Marko bergumam.
"Jadi maksud kalian adalah tujuan kemana ibunya Dean pergi adalah kunci dari mimpi ini?" Tanya Taz memperjelas keadaan.
"Iya," sahut Nero.
"Tampaknya itulah yang menyebabkan Dean terus-menerus memimpikan hal yang sama. Tujuan kemana mamanya pergi dan alasan mengapa mamanya menitipkan Dean pada kakeknya." Vicenzo menimpali.
__ADS_1
"Dan lagi, alasan kenapa ayahnya Dean tidak muncul dalam mimpinya." Nero menambahkan.
"O-oh… begitu rupanya." Taz dan Marko menanggapi.
"Tapi yang membuatku penasaran justru adalah hal yang lain. Yaitu adalah mengenai alasan kenapa mimpi itu terus muncul dan datang pada mimpi Dean? Seakan-akan mimpi itu bukanlah mimpi biasa yang hanya hadir dan hilang begitu saja," gumam Vicenzo.
"Ya. Aku setuju denganmu. Aku juga memikirkan hal yang sama. Pasti ada tujuannya kenapa otakmu terus memproses mimpi itu beberapa kali, sama halnya seperti kalau seseorang mengalami mimpi buruk terus menerus itu artinya orang tersebut merupakan seseorang yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi dan mimpi buruk itu adalah pertanda dari dunia lain yang berusaha memberikan isyarat pada orang tersebut bahwa ia memiliki kemampuan lain yang tidak disadari olehnya!" Nero menambahkan.
"Oh. Benar. Sama seperti itu, hanya saja bedanya mimpi yang di alami Dean bukanlah mimpi buruk," tutur Vicenzo.
Dean terdiam berusaha mencerna ucapan dari kedua sahabatnya yang memiliki otak lebih cerdas di bandingkan yang lain.
"Aku sebenarnya juga merasa begitu, aku merasa bahwa mimpi ini sebenarnya memiliki makna lain yang tersembunyi di dalamnya dan aku harus mencari tahu apa makna tersirat yang berusaha untuk di sampaikan oleh mimpi itu," kata Dean.
"Benarkah?" Tanya Marko.
"Iya."
"Kalau begitu, memang bisa di pastikan ini adalah sebuah pertanda akan sesuatu hal. Hanya saja kau harus memecahkan semua ini," ujar Nero.
"Sepertinya begitu," sahut Dean.
Sementara yang lainnya sibuk berdiskusi, beda halnya dengan Taz yang kini terdiam. Ia hanya menyimak pembicaraan mereka dan masih berusaha mencerna setiap informasi yang baru saja di tangkap otaknya.
Beda halnya dengan Rei, Elvina dan William yang kini diam dalam perasaan yang berbeda dengan mereka. Bukan rasa penasaran yang mereka rasakan, melainkan sebuah rasa lega karena Dean secara perlahan bisa mengingat mimpi yang dialaminya.
"Akhirnya… semuanya dimulai."
__ADS_1
...***...