Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 82


__ADS_3

...***...


"Elvina memasangkannya karena dia begitu cemas denganmu. Kalian basah kuyup dan napas kalian mulai menipis, maka dari itu Elvina segera mengambil tindakan," ujar William.


"Itu karena di dalam sana, kami terjatuh ke danau. Aku dan Nero sempat kehilangan kesadaran kami sebelum kemudian Louis membantuku dan Nero untuk bebas."


"Begitu rupanya," Elvina menanggapi.


"Oh, tapi. Dimana Louis sekarang? Aku benar-benar penasaran dengannya," kata Nero yang membuat fokus teman-temannya beralih padanya.


"Penasaran kenapa?" Tanya Marko.


"Aku penasaran karena dia adalah seorang albino sama seperti Vice," Nero menatap Vicenzo di sana.


"Jadi memang benar apa yang di ucapkan Dean? Louis itu adalah seorang albino?" Marko menoleh ke arah Dean di sana.


"Iya. Sudah aku bilang dia itu albino," jawab Dean.


"Aku jadi penasaran seperti apa dia," kata Vicenzo tiba-tiba.


"Aku juga. Aku ingin bertemu dengannya," sahut Taz.


"Apalagi aku," Marko menimpali.


"Lho, memangnya kalian belum bertemu dengan Louis?" Nero menatap mereka dengan raut wajah bingung.


"Tidak. Karena kita tidak akan bisa bertemu dengan Louis di dunia nyata," sahut Marko.


"Huh? Maksud mu?" Nero menatapnya bingung.


"Louis adalah sosok teman imajiner yang hanya Rei yang bisa melihatnya di dunia nyata. Karena dia Louis tercipta dari imajinasi Rei."


"Huh? Benarkah itu? Wah aku tidak menyangka, jadi metode itu benar-benar nyata? Aku pikir hanya karangan saja, " Nero tersenyum kegirangan di sana. Ia menoleh ke arah Rei. Sementara itu ketiga temannya yang lain menatap ke arahnya dengan raut wajah bingung, dan Dean justru diam dengan tatapan biasa ke arahnya. Dean tahu apa yang akan di ucapkan oleh pria itu.


"Apa maksudmu?" Tanya Taz.


"Apakah kau tahu tentang ini?" Tanya Marko


"Ya, aku tahu."


"Benarkah?" Taz menatapnya dengan raut wajah tak menyangka.


"Ng." Nero mengangguk.


"Tapi darimana kau tahu?" Tanya Marko.


"Itu karena, mama nya memiliki buku-buku dari masalalu. Buku-buku yang bahkan sudah berusia berabad-abad lamanya," terang Dean yang berhasil membuat fokus mereka beralih padanya.


"Huh?" Ucap mereka serentak.


"Darimana kau tahu?" Tanya Nero.


"Karena kau berbicara hal yang serupa saat dalam mimpi."


"Mimpi?"

__ADS_1


"Iya. Sebenarnya kita pernah bertemu dengannya dalam mimpi, hanya saja kalian tidak ingat karena Rei menghapus ingatan kalian mengenai mimpi itu."


"Benarkah itu?" Nero menatap ke arah Rei.


"Iya," sahut Rei.


"Tapi kenapa?"


"Karena mimpi itu tidak terlalu penting untuk kalian. Aku membawa kalian ke dalam mimpi itu hanya untuk memberikan petunjuk pada Dean, petunjuk mengenai kekuatan yang ia miliki."


"Benarkah? Jadi apakah kau sudah menemukan jawaban dari kekuatan yang kau miliki itu?" Marko menoleh pada Dean.


"Belum. Untuk saat ini," gumam Dean.


"Tenang saja, karena cepat atau lambat. Kekuatanmu akan kau sadari," sahut Rei di sana.


"Benarkah?"


"Iya."


"Tapi apakah kau tidak bisa langsung mengatakannya saja apa kekuatan Dean?" Tanya Taz di sana.


"Tidak. Aku tidak bisa. Karena kekuatan milik Dean ini hanya bisa muncul saat Dean sadar akan kekuatannya dan percaya akan dirinya. Percaya bahwa dia mampu mengeluarkan kekuatan itu dari dalam dirinya. Dan lagi, kekuatan itu adalah kunci kita agar bisa menyelesaikan semua masalah ini."


"Begitu ya…"


"Begitulah."


"Omong-omong apakah yang di ucapkan oleh Dean barusan itu benar?" Tanya Vicenzo pada Nero.


"Iya. Apakah itu benar?"


"Iya. Dan aku sering sekali di ajak membaca olehnya, sampai ada salah satu buku yang menjelaskan tentang metode pembuatan teman imajiner. Aku pikir itu hanya karangan saja, dan aku pikir tidak pernah ada orang yang bisa membuktikannya. Tapi ternyata ada?"


"Ya. Memang ada, tapi tidak banyak. Bahkan perbandingan adalah 2 banding 10. Hanya segelintir orang saja yang memiliki kemampuan ini dan tahu tentang ini," sahut Dean mengucapakan kalimat yang sama dengan Rei di dalam mimpinya.


"Ah, begitu rupanya," sahut Vicenzo.


"Jadi Louis adalah teman imajiner yang kau ciptakan dan dia telah membantuku untuk bebas?"


"Ng," Rei menganggukkan kepalanya.


"Iya. Dan Louis telah membantu Rei bebas dua kali," kata William di sana yang sejak tadi hanya diam dan menyimak saja sama seperti kakaknya di sana yang kini hanya menyimak tak berkomentar dan memilih untuk menikmati minuman di tangannya.


"Oh, ya. Aku memiliki pertanyaan," ucap Vicenzo.


"Pertanyaan apa?"


"Kau beberapa kali sempat menyebut-nyebut nama Lucy, siapa itu?"


"Lucy?"


"Iya. Siapa dia?" Tanya Marko di sana.


"Aku juga ingin tahu," kata Dean.

__ADS_1


"Lucy adalah teman kami, atau mungkin bisa disebut saudara kami."


"Saudara?"


"Iya. Lucy adalah kakak sepupu dari suami Elvina," tutur Rei di sana yang kemudian meraih cangkir di tangannya.


"Ooh," sahut mereka serentak seraya menganggukkan kepalanya.


"HUHHH?!! SUAMI?" Pekik mereka serentak seraya menatap ke arah wanita satu-satunya di sana. Elvina hanya diam melihat tatapan mereka yang menatap ke arahnya dengan raut wajah tak percaya.


"Bagaimana bisa?" Taz tersentak.


"Kau sudah menikah?" Tanya Vicenzo.


"Astaga aku tidak menyangka!" Dean di sana benar-benar terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Kau terlihat masih sangat muda, tapi ternyata kau sudah menikah?" Nero menatapnya tak percaya.


"Luar biasa! Kami benar-benar terkejut," kata Marko tercengang.


Elvina diam sesaat, ia lantas meraih cangkirnya lagi dan meneguknya.


"Ekspresi kalian itu benar-benar membuatku takut," gumam nya kemudian menaruh cangkir berisi hot chocolate yang baru saja di teguknya.


"Ya, aku memang sudah menikah. Tapi…" Elvina melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tapi apa?" Tanya Nero.


"Jika kau sudah menikah lalu kenapa kami tidak pernah melihat cincin yang melingkar di tangan mu?" Tanya Taz.


"Kau sudah bercerai?" Tebak Marko asal ceplos.


"Tidak! Tebakan mu salah! Bukannya sudah bercerai, hanya saja… itu sudah menjadi masalalu."


"Maksudmu?" Vicenzo mengerutkan keningnya.


"Apakah suamimu telah meninggal?" Tanya Dean.


"Ng… ucapanmu tidak salah juga Dean. Dia memang sudah meninggal, tapi saat ini aku masih berstatus single dan belum menikah."


"Wah tega sekali kau berbicara seperti itu, menganggap kalau suamimu itu tidak pernah ada untuk menikah denganmu!" Marko menatapnya dengan tatapan horor.


"Enak saja kau bilang! Aku bukan orang yang seperti itu!" Tegas Elvina.


"Lalu jika bukan, kenapa kau menganggap kalau kau belum menikah?!"


"Huft~" Elvina menghela napasnya panjang.


"Dengarkan aku! Aku memang sudah menikah, tapi itu terjadi di kehidupanku yang sebelumnya! Kalian mengerti?" Elvina memperjelas.


"H-huh? Maksudmu dengan kehidupan sebelumnya?" Marko tak mengerti.


"Kehidupan sebelum aku terlahir kembali!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2