Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 28


__ADS_3

***


"Yang kami inginkan adalah kau ikut dengan kami," tutur pria itu yang kemudian memencet satu tombol kecil pada jamnya yang secara langsung membuat gadis itu pingsan. Nero dan Vicenzo yang melihat nya seketika terbelalak, terkejut bukan main ketika melihat apa yang baru saja di lakukan oleh beberapa orang pria tersebut.


"Dia pingsan?" Nero bergumam pelan.


"Apa yang baru saja dia lakukan? Peluru apa itu? Dan kenapa begitu mematikan?"


"Aku juga tidak mengerti. Tapi sepertinya benda itu benar-benar mematikan, dan apakah mungkin…" Nero menatap ke arah Vicenzo, otak nya baru saja terkoneksi dengan kejadian yang baru saja di lihat nya dan ia baru sadar dengan apa yang terjadi.


"Apa?" Vicenzo menatap nya bingung.


"…Mereka adalah sekelompok orang yang di cerita kan oleh Marko!"


"Huh?" Vicenzo mengerut kan kening nya.


"Apa kau masih ingat mengenai cerita Marko? Mengenai kejadian hilang nya para evolver yang dia bilang tentang salah satu saksi mata. Kau masih ingat?" Tanya Nero. Vicenzo terdiam untuk sesaat, otak nya di sibuk kan menelisik mencari ingatan nya mengenai diskusi mereka di kafetaria waktu itu.


"Iya. Oh dan lagi, ini!" Marko kembali menggeser layar hologram nya, menampilkan sebuah artikel dengan topik yang sama namun dalam kasus yang berbeda.


"Aku dengar ada salah satu saksi mata yang melihat bagaimana cara mereka menghilang, namun perkataan saksi mata itu tidak di percaya oleh orang-orang termasuk polisi karena mereka mengira jika ucapan saksi mata itu tidak dapat di percaya, apalagi karena tidak ada bukti yang kongkrit untuk membuktikannya."


"Huh? Memangnya apa yang di katakan oleh saksi mata itu?"


"Salah satu saksi mata itu mengatakan jika ia melihat kejadian ketika salah satu korban itu hilang, korban di datangi oleh beberapa orang lelaki dengan pakaian rapi. Serba hitam lengkap dengan kacamata, dan mereka tiba-tiba saja menyerang korban. Sampai kemudian salah satu diantara nya mengembak si korban dengan sebuah peluru yang membuat korban tidak sadarkan diri."


"Tapi bukankah yang hilang adalah para evolver? Bukankah setiap evolver memiliki kekuatan pertahanan untuk melindungi diri? Tapi bagaimana caranya mereka bisa kalah?" Nero mengajukan tanya disana.


"Nah, ini juga yang membuat saksi mata itu tidak di percaya. Karena seperti apa yang kita ketahui para evolver pada umumnya memiliki ketahanan tubuh yang berbeda dengan manusia biasa dan kalaupun orang itu menembaknya, tidak akan mungkin tidak sadarkan diri begitu saja karena pada dasarnya para evolver memiliki ketahanan untuk memulihkan diri. Maka dari itu saksi mata yang mengaku melihat kejadian itu kemudian di cap sebagai orang yang menyebarkan berita bohong."


"Tapi bukankan bisa saja jika para pria itu menembaknya dengan peluru dan obat tidur khusus yang dapat membuat evolver lemah?" Vicenzo memberikan kemungkinan.


"Bisa jadi," Taz setuju.

__ADS_1


"Tidak. Aku rasa tidak mungkin ada obat seperti itu, lagipula kalian tahu sendiri kan, jika kita para evolver tidak terlalu memerlukan obat seperti itu, dan lagipula kita tidak pernah terserang penyakit apapun dan dokter tidak pernah menangani para evolver, kebanyakan mereka hanya menangani para manusia biasa yang memang pada dasarnya memiliki sistem imun yang berbeda dengan kita," Marko tidak setuju. Lelaki itu lantas melahap makanannya kembali.


"Hm… aku rasa ada yang aneh dengan kejadian ini, benar kan?" Tutur Nero.


"Ya, aku setuju. Tampaknya ada yang tidak beres dengan kasus ini. Apalagi kau bilang jika kejadian ini terjadi di seluruh belahan dunia dan tidak ada yang dapat menemukan keberadaan orang-orang yang hilang itu bukan?" Taz melirik pada Marko.


"Iya, benar. Tidak ada yang bisa menemukan keberadaan orang-orang yang hilang itu, inilah yang membuatku merasa perasaan kenapa mereka bisa hilang dan kemana mereka hilang? Tidak mungkin kan jika mereka tiba-tiba hilang begitu saja tanpa jejak?" Sahut Marko. Ke-lima nya disana di landa rasa penasaran yang amat sangat.


Sekilas ingatan nya mengenai kejadian itu terulas di benak nya. Membuat Vicenzo melongo di buat nya.


"O-oh ya, aku ingat sekarang!" Ucap Vicenzo.


"Benar kan? Ini adalah kejadian yang di jelas kan oleh Marko waktu itu!"


"Iya."


"Berarti gudaan ku benar, jika mereka memang mengguna kan sebuah peluru untuk membius nya."


"Kita harus menghubungi Dean dan yang lain nya," tangan Vicenzo beralih pada walkie talkie di tangan nya, namun bersamaan dengan itu; genangan air tadi jatuh ke tanah menciptakan suara percikan air yang berhasil membuat fokus beberapa orang pria di belakang sana tersita.


SPLASH!!!


Suara itu berhasil membuat orang-orang di sana menoleh ke arah datang nya suara. Di sana salah satu di antara mereka mendapati genangan air yang baru saja jatuh menyentuh tanah.


"Suara apa itu?" Salah satu nya menatap beberapa teman nya. Salah satu orang yang berdiri di sana kemudian melangkah beberapa langkah ke arah gang yang di dengar nya.


"Evolver pengendali air," gumam nya pelan, tapi dapat di dengar dengan jelas oleh beberapa rekan nya.


"Apa?" Ketua itu tampak terkejut dengan ucapan nya.


"Benarkah apa yang kau lihat?"


"Iya."

__ADS_1


"Sejak kapan dia di sana?"


"Entah, aku tidak tahu," ujar nya yang terus memandangi jalan disana.


Sementara mereka dibuat penasaran, beda halnya dengan Nero dan Vicenzo yang kini mulai merasa was-was.


"Bagaimana ini?" Nero mulai panik, apalagi ketika dirinya bisa melihat warna suara dari salah satu pria yang kini melangkah perlahan menghampiri mereka.


"Kita harus hubungi Dean dan yang lainnya! Beritahu mereka mengenai apa yang kita lihat!" Tutur Vicenzo.


"Tapi jika kita hubungi Dean dan yang lain, bisa-bisa kita ketahuan!" Nero berbisik. Namun ia lantas terdiam seketika kemudian menatap Vicenzo dengan tatapan horor.


"K-kau kenapa?" Tanya Vicenzo was-was.


"Mereka semakin dekat," gumam nya yang semakin kaku. "Apa yang harus kita lakukan?" Katanya resah.


"Dalam hitungan ketiga," gumam Vicenzo.


"Tunggu! Apa maksud mu?"


"Kita lari dari sini. Kita tidak akan mungkin bisa melawan mereka. Jumlah mereka terlalu banyak, dan yang terpenting bukan hanya itu. Mereka memiliki tembakan yang bisa melumpuhkan kita, dan itu sangat berbahaya. Apalagi jika kita sampai tertangkap!"


"Kau benar."


"Kalau begitu bersiap," ujar Vicenzo, Nero mengangguk.


"Satu…" Vicenzo mulai menghitung.


"…Dua…" Nero ikut menghitung.


"…Tiga!" Vicenzo bergegas berlari bersama dengan Nero di belakang nya, sementara orang-orang dibelakang mulai berteriak begitu melihat mereka keluar dari persembunyian mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2