
***
"Aku memiliki ide!" Kata Marko dengan mata berbinar, menatap ke arah ke empat sahabat nya dan tidak menghiraukan gerutuan dari Vicenzo.
"Bagaimana, jika kita awasi setiap pergerakan dari pak Tris?" Sambung nya, yang berhasil membuat ke empat sahabat nya itu terbelalak. Tidak kalah terkejut di banding sebelum nya.
"APA????" Pekik mereka serentak, mulut mereka menganga terbuka sempurna.
"Iya, kita awasi pak Trish," kata Marko seraya tersenyum.
"Kau sudah gila? Untuk apa?" Ujar Vicenzo.
"Tentu saja untuk meyakinkan kita, dan mencari tahu apakah tuduhan ku benar atau tidak! Lagipula kalian sendiri kan yang bilang jika aku tidak boleh menuduh tanpa bukti? Dengan begini, dengan kita mengawasi setiap pergerakan dari pak Trish, bukankah kita bisa tahu yang sebenarnya dan kita tahu apakah tebakan ku benar atau tidak? Bagaimana? Kalian setuju kan?" Jelas Marko yang diakhiri tanya.
"Sepupu mu tampak nya benar-benar sudah gila," bisik Vicenzo pada Taz yang duduk di sana.
"Ya, aku setuju," sahut Taz yang satu pemikiran dengan Vicenzo.
"Apakah ini perlu?" Tanya Nero.
"Ya, perlu. Agar kita tahu kebenaran nya, bagaimana? Kalian setuju?" Ucap Marko.
"Baik! Aku setuju!" Ucap Dean tiba-tiba yang spontan membuat ke tiga sahabat nya yang lain menoleh ke arah nya dengan raut wajah terkejut.
"Apa?!!" Ucap mereka serentak, menoleh ke arah Dean.
"Kau setuju?" Marko berbinar mendengar nya.
"Iya, aku setuju!" Dean memperjelas.
"Dean! Kau gila?" Vicenzo menatap lelaki itu tidak percaya.
"Tidak," Dean menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau menerima saran nya?"
"Karena, ada sesuatu yang ingin aku cari tahu."
"Jangan bilang jika ini mengenai apa yang kau temukan?" Nero menebak. Dean menoleh ke arah nya seraya tersenyum, ia kemudian mengangguk kan kepala nya sebagai jawaban.
"Jadi untuk tahu semua nya, maka aku harus mencari tahu," ucap Dean.
"Kalau begitu, aku juga setuju!" Taz yang sejak tadi tampak berpikir dan menimbang-nimbang akhir nya setuju.
"Kau serius?" Marko semakin berbinar.
"Iya," Taz mengangguk. Vicenzo semakin tidak habis pikir dengan orang-orang di sana, ia menoleh ke arah Taz dengan raut wajah penuh tanya. Baru beberapa menit yang lalu, lelaki itu setuju dengan ucapan nya bahwa ide Marko itu gila; namun sekarang? Dia malah ikut-ikutan.
"Kau ini kenapa?" Ucap Vicenzo pada Taz.
"Aku tidak apa-apa, memang nya ada apa dengan ku?" Taz tampak bingung.
"Maksud ku, kenapa kau setuju dengan ucapan nya?"
"Huft~" Vicenzo menghela napas berat. Ia memijat pelan kening nya yang terasa pusing menanggapi sahabat-sahabat nya itu.
"Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah kalian masih tidak ingin ikut dengan ku?" Tanya Marko pada Nero dan Vicenzo. Kedua lelaki itu kemudian mendongak menatap ke arah diri nya. Marko di sana tampak tengah menunggu jawaban dari kedua sahabat nya yang lain.
Nero dan Vicenzo untuk sesaat saling pandang, saling melempar tanya dengan tatapan mata mereka. "Baiklah aku ikut," ucap Nero yang berhasil membuat Marko bersorak kegirangan, sementara itu Vicenzo benar-benar di buat menggeleng kan kepala oleh mereka.
"Karena empat lawan satu, maka kau kalah! Kau juga harus ikut dengan rencana ku!" Ucap Marko pada Vicenzo.
"Apa? Aku kan tidak bilang jika aku ikut?!" Tutur Vicenzo.
"Tapi tetap saja! Kita ini sahabat, jadi jika empat ikut, maka yang satu juga ikut!"
"Tapi—"
__ADS_1
"Sudahlah terima saja kau ikut! Sekarang ayo buat rencana," Marko kemudian mulai menjelas kan rencana yang hendak mereka lakukan, dan Vicenzo mau tidak mau harus ikut dengan mereka.
*
"Apakah ini benar-benar harus kita lakukan?" Bisik Vicenzo pada Nero yang berada tepat di samping nya.
"Bagaimana pun, kita juga berhak untuk mengetahui kebenaran nya," sahut Nero yang kembali fokus menatap target mereka. Di sana, Trish tengah berjalan menuju suatu jalan; entah apa yang tengah pria itu lakukan, namun yang pasti sejak tadi Trish tidak diam di satu tempat.
Sudah hampir dua hari mereka mengintai pria yang menjadi guru olahraga mereka. Guru yang mereka curigai ada kaitan nya dengan hilang nya para evolver yang berada di sekolah mereka.
"Ah, dia bergerak. Ayo kita ikuti," ucap Nero yang kemudian melangkah keluar dari dalam persembunyian mereka, Vicenzo di belakang nya; ikut melangkah keluar dan berjalan di belakang nya. Mereka berdua berjalan mengendap-endap agar Trish tidak menyadari keberadaan mereka. Entah kemana Trish akan pergi, namun yang jelas untuk saat ini gerak-gerik pria itu mulai tampak mencuriga kan bagi Nero. Pasal nya sejak tadi, Trish berjalan menuju jalan-jalan sepi yang jauh dari area keramaian yang sering di jamah oleh orang-orang yang berlalu-lalang.
"Hubungi Dean dan yang lain nya, tanya kan dimana mereka," Nero menginstruksi kan pada Vicenzo yang kini memegang walkie talkie di tangan nya.
"Baiklah, aku akan berusaha menghubungi nya," sahut Vicenzo yang kemudian berusaha menghubungi Dean dan kedua sahabat mereka yang lain nya, yang mengawasi dari sisi lain.
"Dean! Kalian dimana?" Tanya Vicenzo begitu panggilan nya itu terhubung dengan Dean di seberang sana.
"Kami masih mengikuti nya. Masih di depan seperti sebelum nya," sahut Dean yang terdengar sangat jernih suara nya.
"Bagus, kalau begitu terus pantau dia. Kami tepat di belakang kalian."
"Baiklah, kalau begitu kalian berhati-hati dan jangan sampai pak Trish menyadari kehadiran kalian di belakang nya."
"Iya. Pasti! Kalian juga harus berhati-hati."
"Oke. Jika terjadi sesuatu di belakang, segera hubungi kami."
"Iya," sahut Vicenzo yang kemudian mematikan sambungan nya. Vicenzo kemudian menoleh ke arah Nero. "Mereka masih di posisi, sekarang kita juga harus terus bergerak mengikuti nya."
"Baik. Ayo!" Nero kembali melangkah dengan Vicenzo yang kini berada di belakang nya. Mereka berjalan hanya berjarak sekitar tiga puluh centimeter. Setelah berjalan cukup lama dari jalanan sepi yang sejak tadi mendominasi, mereka akhir nya; tiba di sebuah gang-gang sempit nan kumuh. Entah kemana Trish akan pergi, namun semakin lama, pria itu semakin jauh melangkah ke dalam gang-gang sempit itu.
Mereka melangkah diantara bak-bak sampah besar yang di penuhi dengan kantong sampah, belum lagi jalanan dipenuhi genangan air akibat hujan yang semalam mengguyur kota. Mereka terus melangkah, sampai tiba disebuah gang yang menuju pertigaan. Disana mereka melihat Trish berbelok kearah kiri.
__ADS_1
***