
***
Vicenzo melangkah menghampiri jendela di sana, ia terdiam untuk sesaat; menatap ke arah luar jendela. Dan hal yang di lihat nya di luar sana, adalah sebuah taman kecil yang ukuran nya tidak terlalu luas. Dan di ujung taman itu, Vicenzo melihat sebuah tempat yang tampak seperti hutan yang penuh dengan pepohonan tinggi yang menjulang.
"Kenapa aku bisa di sini? Kemana Nero? Apakah dia juga tertangkap?" Vicenzo membatin.
CEKLEK!
Salah satu pintu di sana terbuka. Pintu yang terbuka itu adalah pintu yang berada tepat bersebelahan dengan beberapa lemari di sana. Begitu menyadari pintu itu terbuka, Vicenzo lantas menoleh spontan kearah pintu yang terbuka itu. Dan hal yang pertama kali di lihat nya adalah seorang pria dengan paras rupawan yang kini berdiri di ambang pintu seraya menatap ke arah nya.
"Ternyata benar kau sudah sadar," ucap nya, membuat Vicenzo sedikit bingung dengan ucapan nya.
"Siapa kau? Di mana aku? Dan di mana teman ku?" Tanya Vicenzo beruntun tanpa menghirau kan ucapan Rei.
"Kau ada di tempat kami. Jika kau ingin bertemu dengan teman-teman mu, keluarlah. Mereka sedang duduk dan berkumpul di bawah."
"B-baiklah, kalau begitu tunjuk kan jalan nya," Vicenzo beranjak dari tempat nya. Rei membuka kan pintu untuk nya lantas mempersilah kan Vicenzo untuk keluar. Setelah ia keluar, Rei lalu menutup pintu itu rapat dan ia melangkah bersama dengan nya.
"Ikuti aku," ujar Rei yang kemudian melangkah di depan. Memimpin lelaki itu agar bisa tiba di ruangan tempat di mana mereka berkumpul bersama. Vicenzo di belakang sana melangkah perlahan. Pandangan nya mulai kembali mengedar menatap ke sekeliling nya. Dan setelah melihat isi ruangan itu, Vicenzo jadi merasa bahwa tempat nya cukup nyaman.
Ia terus melangkah sampai akhir nya, Rei menuntun nya hingga tiba di ruangan di mana ke dua rekan nya berada bersama dengan ke empat sahabat Vicenzo.
"Vice!" Dean dan Nero menoleh serentak ke arah nya, menatap pada Vicenzo dengan mata yang tampak senang jika Vicenzo sadar. Taz dan Marko yang mendengar Dean dan Nero menyerukan nama lelaki itu, lantas menoleh serentak ke arah pria itu. Di sana, di belakang Rei, Vicenzo berjalan menghampiri mereka.
Vicenzo tersenyum senang melihat ke empat sahabat nya berkumpul di sana, ia merasa lega ternyata diri nya tidak sendiri di dalam sana.
__ADS_1
"Duduklah," tutur Nero yang kemudian menarik satu kursi kosong yang berada tepat di sebelah nya. Vicenzo mengangguk kemudian duduk tepat di samping nya.
"Aku senang melihat mu sudah sadar," tutur Taz yang tampak lega mendapati teman sekamar nya itu telah sadar dari pingsan nya.
"Kau baik-baik saja?" Kini Dean yang bertanya.
"Apakah ada yang sakit?" Marko ikut bertanya.
"Hei! Hei! Hei! Vice baru saja sadar, jangan menghujam nya dengan berbagai pertanyaan!" Tutur Nero pada ke tiga sahabat nya di sana. "Sudahlah jangan jawab pertanyaan mereka, sekarang lebih baik kau minum," Nero menyodor kan gelas minuman milik nya yang belum sempat ia minum ke arah Vicenzo di samping nya.
"Terima kasih," Vicenzo meraih gelas nya, lalu meneguk nya sampai rasa haus nya reda. Setelah nya, ia kemudian menaruh kembali gelas itu ke atas meja.
"Baiklah karena kalian sudah berkumpul, maka aku akan menjelas kan semua pertanyaan yang tadi kalian ajukan," Rei melangkah ke sofa di sana, di mana si merah muda dan si hijau bersandar pada sofa yang menghadap ke arah yang berlawanan dengan mereka.
"Kau hanya ketinggalan momen-momen bagaimana kita bisa di selamat kan oleh mereka, dan aku bertemu dengan Dean, Marko dan Taz, serta bagaimana kita bisa sampai berada di sini dengan segudang pertanyaan yang belum mereka jawab," jelas Nero di samping nya, ia sesekali beralih pandang menatap satu persatu orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Vicenzo yang mendengar nya hanya bisa mengangguk-angguk kan kepala nya, menyimak penjelasan dari Nero.
"Begitu ya."
"Ya," sahut Nero.
"Baik, akan aku mulai dengan pertanyaan yang sejak tadi terus kalian tanya kan. Perkenal kan, nama ku Rei Adhitama Arion, tapi kalian bisa memanggil ku Rei," ujar nya memperkenal kan. Memang sejak tadi, Rei dan kedua rekan nya belum memperkenal kan diri pada mereka, kecuali Nero yang sejak awal sudah tahu dengan Rei kecuali kedua rekan nya di sana. "Dan ini ke dua sepupu ku," ujar Rei seraya menatap secara bergantian pada si merah muda dan si hijau yang duduk di samping kiri dan kanan nya.
Si merah muda di sana tersenyum, senyuman manis yang tampak menghiasi wajah cantik nya. "Nama ku Elvina Tarissa, tapi kalian bisa memanggil ku Elvina. Walaupun aku yang paling pendek di antara mereka, tapi aku yang paling dewasa di sini," tutur si merah muda—Elvina memperkenal kan. "Tapi walaupun aku yang paling dewasa, kalian bisa panggil aku dengan nama depan ku. Elvina," sambung nya.
"Dan nama ku Marva William Kaili," si hijau memperkenal kan, membuat Dean dan ke empat sahabat nya itu menoleh ke arah si hijau yang baru saja memperkenal kan diri nya. "Di antara mereka, aku yang paling muda. Dan aku adalah adik kandung dari El, kalian bisa panggil aku dengan nama tengah ku. Yaitu William," ujar nya. Dean dan yang lain nya hanya mengangguk sebagai tanggapan.
__ADS_1
"Salam kenal," Dean mewakili ke empat sahabat nya yang lain.
"Ya, salam kenal," Rei tersenyum simpul.
"Oh, dan namaku—"
"Dean Apollo. Aku tahu itu," potong Rei yang spontan membuat lelaki itu terkejut, tak kalah terkejut dari ke empat sahabat nya yang lain.
"B-bagaimana kau bisa mengetahui nama ku?" Dean menatap nya dengan raut wajah terkejut. Rei hanya tersenyum seraya melipat ke dua tangan nya di depan dada.
"Aku sudah tahu mengenai kalian semua, nama kalian, apa kekuatan kalian, sifat, wrana kesukaan, asal usul, dan semua nya," ucap Rei yang berhasil membuat mereka semakin terkejut.
"A-apa?" Mereka berucap serentak dengan terbata.
"D-dari mana kau bisa tahu?" Tanya Marko.
"Apakah kalian mengawasi kami selama ini?" Taz menatap mereka penuh selidik.
"Aku yakin, mereka pasti mengawasi kita selama ini," Taz membatin.
"Tidak! Kita mengawasi kalian, jadi jangan pernah berpikir seperti itu… Taz!" Rei menekan kan namanya, membuat Taz terkejut.
"Kenapa dia melihat ku seperti itu?" Batin Taz.
***
__ADS_1