Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 7


__ADS_3

...***...


DRAP…DRAP…DRAP…


Suara derap langkah kaki menginterupsi telinga mereka, membuat Dean yang tengah membereskan pakaian ke dalam lemari di sana lantas beralih pandang menatap ke arah pintu kamar mereka yang tertutup disana. Suara berisik itu berasal dari balik pintu sana.


Dean beralih pandang pada Nero yang kini tengah berdiri terdiam disana, kepalanya melirik pada arah pintu sama seperti dirinya tadi.


"Kau mendengar itu?" Tanya Dean pada Nero.


"Ya, aku dengar. Warna suara mereka benar-benar jelas dapat aku lihat. Mereka tengah berlari dengan tergesa-gesa, tampaknya ada sesuatu yang berhasil menyita pendengaran mereka," jelasnya.


"Sesuatu?" Dean mengerutkan kening, rasa penasaran sedikit hinggap dalam dirinya.


"Ya. Dan sesuatu itu adalah pertemuan antara dua evolver. Salah satu diantara mereka memiliki kemampuan mengendalikan air dan yang satu memiliki kemampuan mengendalikan api. Si pengendali api tidak terima karena merasa dikekang oleh si pengendali air, sementara itu si pengendali air terlalu perfeksionis dan terkesan tidak ingin orang lain melangkah menghampiri sudut ruangan tempat yang di jamahnya," jelas Nero lagi lebih spesifik.


"K-kau tahu darimana?"


"Asal suara kegaduhan yang semula aku dengar sangat jelas terlihat dari warna-warnanya. Dan aku sudah tahu apa yang terjadi," katanya. Nero kembali memasukkan pakaiannya ke dalam lemarinya itu.


"Aku jadi penasaran, siapa yang sedang bertengkar. Aku ingin mengeceknya sebentar, apakah kau mau ikut?" Tanyanya pada Nero.


"Ikut? Baiklah, aku juga memang sedikit penasaran dengan siapa yang bertengkar," sahutnya yang kemudian menutup pintu lemarinya, dengan langkah sedikit tergesa, keduanya melangkah keluar dari dalam kamar mereka, hendak mengecek siapa yang tengah bertengkar di kamar lain yang berhasil membuat perhatian seisi asrama pria kelas XI itu tersita.

__ADS_1


Tiba di luar, mereka mendapati sebuah kamar yang kini di kerumuni oleh banyak orang yang berdatangan. Pintu masuk yang terbuka di padati oleh mereka. Dean dan Nero bergegas menghampiri mereka mencoba untuk mengecek siapa yang sedang bertengkar.


Sulit untuk melihat apa yang tengah terjadi, apalagi mereka berada di bagian paling belakang. "Aku tidak bisa melihat orangnya dengan jelas," Dean berucap pada Nero yang berada di sampingnya. Orang-orang yang berada di sekitarnya mulai meneriakkan namanya, menyemangati dan mengintruksikan pada mereka untuk tidak saling menyerah. Dean yang menyadari nama siapa yang di teriakkan oleh mereka, lantas bergegas menyela agar bisa masuk.


"Kau mau kemana?" Tanya Nero seraya mencengkeram tangan Dean.


"Aku harus masuk dan memastikan jika dia bukanlah orang yang aku kenal," sahutnya terus berusaha menyela tapi gagal. Kerumunan nya terlalu padat. Nero ikut berusaha untuk masuk tapi sama-sama gagal. Tiba-tiba di belakang sana seorang pria yang baru saja mendengar pertengkaran di kamar orang yang di kenalnya, bergegas berlari menuju tempat kejadian. Ia yang menyadari depan pintu kamar itu penuh dengan orang-orang lantas berhenti.


"Minggir kalian!" Teriaknya keras seraya membentuk gesture tangannya mengibas membuat orang-orang itu terbang seketika saat secara bersamaan angin menghempas keras tubuh mereka. Semua yang ada disana tersungkur jatuh di lantai, tak terkecuali dengan Nero dan Dean.


Pria dengan kekuatan angin itu lantas masuk ke dalam sana, namun berhenti ketika melihat pertarungan yang sulit untuk di lerainya.


Di sisi lain, Dean yang mendapatkan kesempatan, lantas bangkit dan bergegas lari ke dalam sana. Nero ikut di belakangnya dengan tergopoh-gopoh. Mereka masuk ke dalam kamar yang kini amat berantakan itu, Nero berdiri terpaku dengan pria berkemampuan angin di sampingnya. Sementara itu Dean tanpa pikir panjang menghampiri Vicenzo si pria albino untuk melerainya.


"A-arrggghhh!" Dean berusaha mematikan apinya. Sontak fokus Vicenzo teralihkan, dengan kekuatannya ia membantu memadamkan api di tubuh Dean yang hampir menjalar di bagian tubuhnya.


"Taz!" Pria disana berteriak memanggil namanya, menghampiri Taz lantas berusaha menenangkan pria yang menjadi sepupunya itu. Sementara Nero menghampiri Dean yang kini tengah bersama dengan Vicenzo disana.


"Dean, kau tidak apa-apa?" Tanya Nero khawatir, lengan bajunya yang terbakar menciptakan luka bakar yang cukup serius disana.


"Aku tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kita bawa Vice keluar dari sini, ayo!" Tuturnya seraya menarik tubuh pria itu keluar bersama dengannya dan Nero di belakangnya, meninggalkan Taz dengan pria berkemampuan angin di dalam sana.


Mereka keluar, melewati orang-orang yang masih tersungkur di lantai sana. Tubuh orang-orang itu terhempas amat jauh hingga mencapai dua puluh meter kesana, tepat menghantam dinding yang menjadi jalan alternatif menuju arah kamar asrama lain.

__ADS_1


Dean dan Nero membawa Vicenzo menuju kamar mereka, berusaha membuat pria itu untuk tenang. Dari suara langkah Vicenzo, Nero dapat melihat seberapa kesal pria itu.


Tiba di dalam kamar mereka, Dean menarik kursi disana dan mendudukkan lelaki itu disana. "Kau harus tenang," tutur Dean padanya seraya menepuk kedua bahu pria itu untuk menenangkannya.


"Huft~" Vicenzo menghela napasnya, dan Nero dapat melihat jika pria itu tampaknya mulai tenang.


"Kau sudah tenang?" Tanya Dean memastikan, Vicenzo hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Bagus. Sekarang ceritakan, kenapa kau bertengkar dengannya? Karena setahuku, kau bukankah orang yang mudah untuk marah," tutur Dean.


"Tunggu! Aku ingin bertanya, kenapa kalian tampak sangat dekat. Apakah kalian sudah saling kenal sebelumnya?" Tanya Nero spontan ketika menyadari sesuatu yang membuatnya penasaran, warna suara yang timbul dari Dean tampak seakan-akan dirinya begitu dekat dengan Vicenzo, bahkan Dean sampai bisa membuat emosi pria itu mereda.


Dean dan Vicenzo menoleh serentak ke arah Nero yang menatap mereka dengan penasaran.


"Oh, Vice—maksudku Vicenzo adalah teman sekamarku tahun lalu," ujar Dean yang hanya ditanggapi anggukan dan kata ‘oh’ oleh Nero.


"Jadi ceritakan! Ada apa sebenarnya?"  Tanya Dean. Vicenzo masih berusaha untuk menenangkan dirinya, ia menghela napas beberapa kali sebelum ia berucap.


"Aku hanya membuat garis pembatas di antara tengah-tengah kamarku, setelah itu dia bilang jika dia tidak terima dan marah-marah karena tidak ingin garis itu ada. Dia bilang itu membatasi ruang geraknya, setelah itu dia bilang jika aku kekanak-kanakan, benar-benar menjengkelkan dia itu," ucapnya kesal.


"Ternyata begitu ya," Dean menanggapi.


"Iya," sahut Vicenzo yang mulai tenang. Sementara keduanya bercakap, Nero hanya terdiam berusaha untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi, sungguh ini membuatnya bingung.

__ADS_1


...***...


__ADS_2