Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 90


__ADS_3

...***...


"Kalau begitu, bagaimana?" Tanya Elvina.


"Kita tidak mungkin diam saja kan?" William menimpali.


"Aku tahu, kita tidak mungkin diam saja. Karena diriku di masa lalu tengah menungguku untuk datang dan membantunya. Tapi kita tidak bisa datang ke sana tanpa tahu arah kemana kita harus melangkah," ujar Rei seraya menundukkan kepalanya, ia tengah dilanda kebingungan, mencari solusi untuk permasalahan yang tengah mereka hadapi.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita pulang lebih dulu dan kita coba pikirkan kembali caranya di rumah." Elvina menyarankan.


"Iya, ada benarnya juga apa yang di katakan El," William menoleh pada kakaknya. Yang di tatapnya hanya bisa menghela napas menanggapi ketidak sopanan dari adiknya yang selalu enggan menyebut 'kakak' dan lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan 'El' seperti Rei memanggil namanya.


"Baiklah kalau begitu," sahut Rei. Ia lantas beranjak dari tempatnya bersamaan dengan William dan Elvina yang senantiasa menemani setiap langkahnya.


...*...


"Jika mereka mengubah rute perjalanannya, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Hanya ada satu cara," Tessa menatap peta yang berada tepat di hadapannya itu.


"Apa itu?" Trish menatapnya lekat, dari raut wajahnya. Tessa dapat melihat dengan jelas rasa penasaran yang tengah menyelimuti pria itu.


"Kita harus pergi ke tempat dimana mereka akan bertemu dan berkumpul dalam satu waktu yang sama," sahut Tessa seraya menatap pada Trish.


"Maksudmu, kita akan pergi ke sini?" Trish menunjuk ke titik di peta yang menunjukkan dimana pelabuhan yang mereka maksud itu berada.


"Iya." Tessa menganggukkan kepalanya. "Tapi untuk itu, kita masih harus menunggu."


"Apa lagi yang kita tunggu?"


"Mereka akan berkumpul di tempat ini begitu setiap rute yang aku tandai ini sudah mereka lalui, dan saat semua rute ini sudah selesai mereka lalui. Mereka akan bertemu dan berkumpul bersama pada titik ini. Titik dimana aku terakhir kali gagal mengungkap kebenaran yang selama ini aku pertanyakan."


"Kapan mereka akan tiba?"


"Aku tidak tahu, kalau rute nya tetap sama. Mungkin hanya akan memakan waktu sekitar satu Minggu, dan mereka akan bertemu kembali di titik ini."


"Satu Minggu?"

__ADS_1


"Iya. Tapi kalau rutenya berubah, aku tidak bisa memperhitungkan semuanya. Karena bisa saja memakan waktu lebih lama atau justru lebih sedikit di bandingkan sebelumnya. Maka dari itu, mungkin kita harus menunggu di sana dan terus mengamati."


"O-okay… tapi bagaimana mungkin kita terus mengawasi mereka? Maksudku, bagaimana kalau mereka tiba saat kita sedang lengah? Karena bisa saja mereka tiba di waktu-waktu saat kita sedang beristirahat, kan?"


"Untuk hal yang satu itu, aku yakin mereka akan tiba dan berangkat pada malam hari."


"Kenapa kau begitu yakin?"


"Karena saat malam hari, sebagian besar orang sedang beristirahat dan tertidur pulas, maka akan lebih leluasa bagi mereka untuk berangkat."


"Oh kau salah. Saat ini, apalagi pada zaman seperti ini, orang bahkan masih bekerja di kantor sampai pukul sebelas malam."


"Untuk sebagian. Sementara yang lain memberlakukan sistem kerja yang lebih minim, biasanya sekitar lima sampai enam jam per hari. Karena kau tahu? Orang yang di terima bekerja di kantoran memiliki IQ lebih tinggi di bandingkan kita."


"Oh, ya. Kau ada benarnya juga."


"Tapi kalau mengingat ini adalah area yang cukup memiliki banyak gedung kantor, maka bisa di simpulkan mereka akan pergi sekitar dini hari saat dimana malam begitu tenang."


"Dini hari?"


"Iya."


"Ya, tidak ada pilihan lain. Karena kita tidak tahu rute perjalanan mereka kemana dan kapan mereka akan tiba di sini, jadi kita harus terus berjaga-jaga."


"Oke, cukup untuk yang satu itu. Lalu bagaimana kalau mereka tidak datang kemari? Maksudku, ada banyak sekali pelabuhan di Indonesia dan bukan hanya satu pelabuhan yang menuju keluar negeri. Bagaimana kau bisa sangat yakin kalau ini adalah titik dimana mereka akan bertemu sedangkan rutenya saja berubah?"


"Huft~" Tessa menghela napas, membenarkan ucapan dari Trish.


"Kau benar. Ada banyak sekali kemungkinan yang bisa saja terjadi," tuturnya pelan, membenarkan ucapan dari Trish.


"Jadi bagaimana? Kau memiliki ide lain?" Trish menatapnya penasaran.


"Sebentar, biarkan aku berpikir sejenak." Tessa diam, berusaha mencari ide untuk memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.


...*...


"Omong-omong aku mulai bosan, bagaimana kalau kita pergi dan temui yang lain?" Ujar Taz pada Marko yang masih asik bermain dalam dunia virtualnya.

__ADS_1


Pria itu berhenti, ia kemudian menoleh ke arah Taz yang kini berdiri di belakang nya.


"Berhenti? Oh ayolah, ini benar-benar menyenangkan dan kau ingin berhenti sekarang?"


"Aku sudah bosan."


"Oh, ayolah. Sebentar lagi saja ya? Lagipula kapan lagi aku bisa memainkan permainan seperti saat ini? Berburu zombie? Ini permainan yang luar biasa. Kalau biasanya kita berlari dari zombie dan zombie yang mengejar kita, tapi ini kebalikannya. Kita memburu dan mengejar mereka. Ini luar biasa, dan ini menyenangkan."


"Aku benar-benar sudah lelah, lebih baik kau bermain sendiri."


"He-hey! Taz! Argh!" Marko mendengus kesal.


Taz keluar dari server game nya, detik berikutnya Marko ikut keluar mengikuti dirinya.


"Sudah cukup bermainnya," kata Taz seraya melepaskan dan menaruh kembali alat yang terpasang di tubuhnya ke tempat semula.


"Kau benar-benar tidak ingin main lagi?" Marko ikut melepaskan perlengkapan game di tubuhnya.


"Tidak. Aku ingin bertemu dengan yang lain."


"Tapi kenapa?"


"Aku ingin tahu apakah Rei dan kedua sepupunya sudah kembali atau belum, dan aku juga ingin tahu apakah Dean sudah berhasil mengumpulkan informasi mengenai mimpinya atau belum."


"Oh, benar. Aku juga penasaran akan hal itu."


"Iya. Maka dari itu, ayo kita pergi."


"Aku tepat di belakangmu…" tutur Marko.


Taz beranjak keluar dari dalam ruang permainan dengan Marko mengekor di belakang nya. Mereka melangkah menyusuri koridor panjang agar bisa tiba di ruang perpustakaan yang jaraknya cukup jauh dari letak dimana ruang permainan yang semula mereka kunjungi itu berada.


"Rumah ini benar-benar luar biasa. Ini bahkan lebih besar di bandingkan dengan rumah yang kita miliki," Marko terus melangkah. Kepalanya tak henti mendongak seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mengagumi keindahan rumah tempat dimana Rei dan kedua sepupunya itu tinggal.


"Ya, aku setuju. Rumah ini memang lebih besar di bandingkan dengan rumah yang kita tempati," sahut Taz tanpa menoleh dan terus fokus berjalan.


"Aku jadi penasaran, apakah Rei, Elvina dan William tidak lelah merawat rumah sebesar ini? Bahkan mereka kan hanya tinggal bertiga?"

__ADS_1


"Untuk itu jangan tanyakan padaku," ujar Taz disana.


...***...


__ADS_2