
***
Gadis itu berlari. Langkah nya semakin kencang ketika diri nya, mendapati orang-orang di belakang nya semakin dekat ke arah nya. Napas nya terengah-engah, ia bahkan tidak bisa bernapas dengan lancar seperti sebelum nya.
"Tembak!" Seru seorang pria di belakang nya pada salah satu anak buah nya. Pria yang di perintah kan untuk menembak itu, lantas mengangguk. Menaik kan sebelah tangan nya yang mengenakan jam di tangan nya. Ia kemudian mengarah kan jam itu ke arah kaki gadis itu. Ia mengunci nya sebagai target, kemudian dalam satu kali tembak kan sebuah peluru sekecil jarum; melesat keluar dari dalam lubang tembak kan yang berada di jam nya. Peluru itu melesat dengan cepat dan tepat mengenai kaki gadis itu, yang spontan membuat gadis itu tersungkur jatuh ke tanah bersemen.
BRUKKK!!!!
Gadis itu jatuh dengan suara yang amat keras. Tangan nya terluka, begitu pula dengan lutut dan kaki nya yang semula tertembak. Ia meringis kesakitan, kala kulit mulus nya bergesek kan langsung dengan tanah bersemen itu.
"Akh—" ringis nya. Ia bergegas berbalik, kini diri nya tersungkur dalam keadaan menghadap ke arah orang-orang yang mengejar nya itu. Rasa takut mulai menyeruak dalam diri nya, dan wajah nya berubah pucat pasi.
"Sekarang kau tidak akan bisa lari lagi," seorang pria berucap ketika mereka tiba tepat di hadapan nya. Gadis itu bergerak mundur, namun beberapa pria di sana sudah lebih dulu mengepung diri nya membuat gadis itu terkurung tanpa bisa melarikan diri dari kepungan mereka.
Mata gadis itu menatap satu persatu pria berjas hitam lengkap dengan kacamata hitam mereka itu, menutupi mata mereka dengan warna hitam nya.
Gadis itu benar-benar kehabisan energi, bahkan untuk menggunakan kekuatan nya saja ia tidak bisa. Keringat mengucur deras, membasahi kening dan tubuh nya, sementara itu napas nya terus menderu di sertai jantung nya yang terus bergemuruh. Tangan dan kaki nya gemetar.
"A-apa yang sebenarnya kalian ingin kan?" Gadis itu bertanya dengan suara gemetar, ia berucap lirih dengan mata nya yang mulai berkaca-kaca hampir menangis. Salah satu pria yang tampak nya adalah pimpinan mereka kemudian mengangkat tangan nya, menodong kan jam di pergelangan tangan nya ke arah gadis itu.
"Yang kami ingin kan adalah kau ikut dengan kami," tutur nya yang kemudian memencet satu tombol kecil yang secara otomatis melesat kan sebuah peluru kecil yang sama seperti sebelum nya. Peluru berbentuk jarum yang kemudian menancap tepat di leher gadis itu. Dalam hitungan detik, gadis itu terkulai lemas sampai kemudian tergeletak dengan keadaan tidak sadar kan diri di sana.
"Bawa dia!" Titah nya pada beberapa anak buah mereka yang berada di sisi kiri dan kanan nya. Mereka mengangguk lantas bergerak menghampiri gadis itu, meraih sisi kiri dan kanan nya.
*
__ADS_1
"Baik. Ayo!" Nero kembali melangkah dengan Vicenzo yang kini berada di belakang nya. Mereka berjalan hanya berjarak sekitar tiga puluh centimeter. Setelah berjalan cukup lama dari jalanan sepi yang sejak tadi mendominasi, mereka akhir nya; tiba di sebuah gang-gang sempit nan kumuh. Entah kemana Trish akan pergi, namun semakin lama, pria itu semakin jauh melangkah ke dalam gang-gang sempit itu.
Mereka melangkah diantara bak-bak sampah besar yang di penuhi dengan kantong sampah, belum lagi jalanan dipenuhi genangan air akibat hujan yang semalam mengguyur kota. Mereka terus melangkah, sampai tiba disebuah gang yang menuju pertigaan. Disana mereka melihat Trish berbelok kearah kiri. Nero dan Vicenzo hendak melangkah mengikuti Trish sebelum kemudian secara tiba-tiba kedua telinga mereka menangkap suara yang berasal dari arah kanan di pertigaan jalan sana.
Nero dan Vicenzo berhenti, kedua nya saling pandang untuk sesaat saling melempar tanya dengan tatapan mereka. Nero kembali menatap ke arah pertigaan di hadapan mereka, namun melihat warna suara yang di lihat nya; bergegas Nero menarik Vicenzo ke belakang dinding di sana untuk bersembunyi.
"Apa yang kau lakukan!" Ucap Vicenzo.
"Sstttt… jangan berisik!" Nero berucap dengan sangat amat pelan. Membuat Vicenzo kebingungan.
"Ada apa?" Vicenzo memelan kan suara nya.
"Aku melihat warna suara yang aneh."
"Ada seorang gadis yang berlari dengan di kejar oleh beberapa orang pria di belakang nya. Pria itu memiliki aura pekat yang sangat jelas, apalagi dari suara yang aku dengar tadi," jelas nya dengan sangat pelan.
"A-apa? Benarkah?"
"Iya," sahut Nero yang kemudian diam berusaha untuk mendengar kan suara kegaduhan di sana.
BRUKKK!!!
Nero dan Vicenzo dapat mendengar suara seseorang yang terjatuh dengan sangat keras. "Akh—" terdengar suara gadis yang meringis kesakitan ketika merasa kan kulit nya bersentuhan secara kasar dengan tanah bersemen di sana.
"Suara perempuan? Kita harus menolong nya!" Ucap Vicenzo namun dengan cepat Nero mencegah nya.
__ADS_1
"Terlalu berbahaya, beberapa pria itu bukan pria sembarangan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin membiarkan mereka menyakiti nya," tutur Vicenzo.
"Aku juga bingung harus bagaimana, tapi yang pasti kita tidak boleh bertindak sembarangan," ucap Nero. Vicenzo kemudian diam, namun fokus nya tersita ketika ia melihat genangan air yang berada di antara gang yang semula mereka lewati. Melihat itu, membuat Vicenzo mendapat kan sebuah ide.
"Aku punya ide," gumam nya yang kemudian menggerak kan tangan nya, membentuk sebuah gesture yang membuat genangan air di sana bergerak mengapung di udara kemudian membentuk sebuah lengkungan yang mirip seperti ombak di laut.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Nero bingung.
"Kita lihat apa yang sedang mereka lakukan," gumamnya. Yang kemudian menahan air itu dalam posisinya. Dan dari pantulannya, mereka dapat melihat apa yang tengah terjadi dibelakang sana.
"Kau jenius," Nero tersenyum ke arah nya.
"Terima kasih," jawab Vicenzo.
Dari pantulan air itu, mereka dapat melihat beberapa pria menghampiri gadis itu. Pria-pria itu mengenakan jas berwarna hitam yang sama dengan kacamata yang mereka kenakan.
"Sekarang kau tidak akan bisa lari lagi," seorang pria yang berlari paling depan bertutur. Pria itu berdiri tepat di hadapan gadis tersebut dengan jarak yang cukup dekat. Gadis itu tampak ketakutan, Nero dan Vicenzo dapat melihat tubuh nya yang gemetar disana.
"A-apa yang sebenarnya kalian ingin kan?" Gadis itu bertanya dengan suara lirih nya.
"Yang kami inginkan adalah kau ikut dengan kami," tutur pria itu yang kemudian memencet satu tombol kecil pada jamnya yang secara langsung membuat gadis itu pingsan.
***
__ADS_1