
...***...
"Dimana ini?" Tutur Dean ketika dirinya sadar tengah berada di tempat yang sama sekali asing baginya.
Gelap. Hanya itu yang bisa di lihatnya. Hitam. Seakan-akan tidak ada warna lain yang dapat menyinari sekelilingnya. Bahkan saking gelapnya, ia sampai-sampai tidak bisa melihat dirinya sendiri.
"Kenapa semuanya gelap? Dimana aku? Dan apa yang terjadi?" Berbagai pertanyaan bermunculan begitu saja di benaknya.
Perlahan. Sangat amat perlahan ia melangkah mencoba mencari cahaya yang semoga dapat menyinari jalannya. Namun raib. Ia sama sekali tidak dapat menemukan cahaya yang dicarinya.
"Dimana ini? Kenapa aku ada di sini? Bukankah seharusnya aku sedang tidur? Seingatku, aku baru saja memejamkan mata dan tertidur. Tapi kenapa tiba-tiba aku berada di sini?" Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya, membuat dirinya bingung. Kepalanya mengedar ke sekeliling, tapi lagi-lagi hanya gelap yang di dapatnya.
"Apakah aku masih berada di dalam kamar? Tapi kenapa begitu gelap dan dingin?" Ia memonolog seraya terus melangkah dengan sangat amat pelan, berusaha berjalan dengan sangat berhati-hati agar tidak jatuh.
"Vice?" Panggilnya berharap pria albino yang menjadi sahabatnya itu ada di antara dirinya.
"Taz?" Tidak ada jawaban sama sekali, hanya hening yang di dapatnya.
"Marko? Nero? Dimana kalian?" Dean memanggil mereka lagi, dan masih tidak ada jawaban. Ia benar-benar sendirian.
"Kemana mereka? Kenapa mereka tidak ada?" Gumam Dean. Tangannya perlahan mulai bergerak meraba sekelilingnya, tapi yang di rasakan nya hanya sebuah udara hampa. "Apa yang terjadi sebenarnya, dan kenapa aku bisa sampai tiba-tiba ada disini?" Dean membatin.
"Apakah ini mimpi? Tapi kenapa aku bisa sadar seperti ini? Seakan-akan aku ini memang benar-benar tidak sedang bermimpi?" Dean terdiam di tempatnya. Ia berusaha untuk mencerna setiap kejadian yang di alaminya.
Fokus Dean seketika beralih saat secara tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat amat terang dan menyilaukan menyinari dirinya. Cahaya yang membuat Dean harus menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya untuk mengurangi cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya.
__ADS_1
TAP! TAP! TAP!
Samar-samar dapat di dengarnya sebuah langkah kaki yang berasal dari arah dimana cahaya itu muncul. Dean tidak dapat melihat sosok nya, karena cahaya itu terlalu menyilaukan matanya.
"Akhirnya kau tiba juga," seorang pria berucap tepat di hadapannya. Dan bersamaan dengan itu, sosok pria yang hanya tampak bagai siluet itu, kini berdiri tepat satu meter dari arahnya.
Entah kenapa Dean merasa jika suara yang di dengarnya itu terdengar tidak asing di telinganya. Dean seakan-akan pernah mendengar suaranya, namun entah di mana ia pernah mendengarnya. Dean tidak ingat.
Perlahan Dean mendongakkan kepalanya, menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajah demi bisa melihat pria di hadapannya itu. Awalnya buram, tapi setelahnya, Dean dapat melihat dengan jelas sosoknya. Ia terkejut bukan main saat menyadari siapa yang saat ini berdiri di hadapannya.
Rei. Pria itu yang kini berdiri tepat di hadapannya. Rei berdiri tegap tepat di sana. Menatap Dean seraya tersenyum simpul.
"Rei?" Dean mengerutkan keningnya. Yang dicarinya adalah keempat sahabatnya, tapi kenapa yang muncul malah Rei.
"Kenapa aku ada di sini? Dimana teman-teman ku? Dan dimana yang lain? Kenapa hanya ada kau dan aku?" Tanya Dean runtut, ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya dan keempat sahabatnya yang lain. Keempat sahabatnya yang hilang entah kemana.
"Mereka sudah menunggu mu sejak tadi. Kenapa kau baru tiba sekarang?"
"Menunggu ku? Dimana?"
"Di tempat yang indah. Mereka sedang menunggumu sambil bersenang-senang di tempat yang indah. Tempat yang hanya bisa mereka temukan di sini."
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan. Kenapa aku berada di sini? Apa yang terjadi?"
"Kau ada di sini karena undanganku," tutur Rei yang membuat Dean semakin bingung.
__ADS_1
"Undangan? Apa maksudmu?"
"Ya undangan, untuk datang kemari. Ke tempat yang tidak pernah bisa kau temukan keberadaan nya."
"Apa? Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapanmu! Memangnya dimana ini?"
"Percaya atau tidak, ini adalah dunia mimpi."
"A-apa?" Dean benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dunia mimpi dia bilang? Oh, yang benar saja. Memangnya ada hal seperti itu di dunia ini? Dean saja bahkan baru mendengar hal konyol seperti itu.
"Aku tahu kau tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, tapi coba kau lihat ini," Rei perlahan menggerakkan tangannya, seakan-akan melambai di udara. Dan bersamaan dengan itu, keadaan di sekelilingnya berubah menjadi langit malam yang indah bertabur bintang. Dean berdiri bersamanya di sebuah padang rumput hijau. Ia seakan-akan berada di ladang bunga yang sangat lebat. Semuanya terasa sangat nyata. Dean bahkan seakan-akan bisa merasakan hebusan angin malam yang begitu dingin.
Angin berhembus, membuat kedua tangannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri. Matanya masih menatap Rei, dan pria itu sekarang menatapnya sekilas sebelum kemudian kembali menggerakkan tangannya. Tapi kali ini, ia menjentikkan jarinya yang dalam seketika membuat keadaan berubah menjadi langit biru di siang hari yang amat cerah. Dean di ambang kebingungan, ia benar-benar tidak bisa mengerti dengan apa yang sebenarnya baru saja di lihatnya.
Di sana dilihatnya Rei kembali menggerakkan tangannya, membuat sebuah gesture lain yang kemudian membuat mereka kembali berada di dalam ruangan gelap yang sama seperti sebelumnya. Semuanya hitam. Di sekelilingnya hanya itu yang dapat di lihat Dean.
"A-apa itu tadi yang baru saja aku lihat?" Dean membatin.
"Yang kau lihat barusan adalah apa yang berada dalam pikiranku. Aku bisa mengendalikan mimpi dan aku bisa mengundang seseorang untuk datang dan masuk ke dalam mimpiku," Rei yang dapat mendengar suara hati Dean kemudian menjawab. Membuat Dean terkejut dan tidak dapat berkata-kata.
"Huft~" Rei menghela napas di sana. "Jika kau masih tidak percaya, ikutlah denganku. Dan akan aku tunjukkan bahwa dunia ini memanglah dunia mimpi yang aku ciptakan," ujar Rei yang kemudian berbalik dan beranjak pergi. Dean tak menjawab, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemana arah lelaki itu berjalan.
Dengan langkah perlahan, Dean berjalan mengikuti Rei dari arah belakang. Mereka melenggang menghampiri cahaya terang menyilaukan yang semula berada tepat di belakang Rei. Cahaya terang tempat dimana Rei tiba-tiba saja muncul dan berbicara sesuatu yang bahkan tidak dapat di mengerti olehnya. Dean dapat melihat cahaya itu semakin terang dan menyilaukan.
...***...
__ADS_1