Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 56


__ADS_3

...***...


Mobil yang ditumpanginya itu lantas berhenti tepat di depan sebuah gedung sekolah yang tampak besar menjulang di balik pintu gerbang di hadapannya.


Setelah sang supir berbicara dengan penjaga yang berada di pos keamanan, ia kemudian membukakan gerbang untuk mereka masuk.


Sang supir memarkirkan mobilnya tepat disalah satu area parkir kosong disana. Sejurus kemudian ia diam menunggu perintah dari pria berambut hitam kebiruan yang duduk tepat di jok belakang.


Pria itu memiliki rahang yang tegas dengan bentuk wajah seperti orang Eropa. Ia mengenakan kacamata berwarna hitam, dengan setelan pakaian serba putih lengkap dengan sarung tangan dan sepatu berwarna serupa.


Pria itu menurunkan jendela kaca mobilnya, melepaskan kacamata yang dikenakan olehnya lantas melongok menatap bangunan sekolah besar yang berada tepat di hadapannya.


"Kau tinggu di sini, aku tidak akan lama," tuturnya pada sang supir.


"Baik tuan," supir itu menjawab lantas mulai di sibukkan dengan memandangi gerak-gerik dari pria yang di sebutnya tuan itu.


Pria itu keluar dari dalam mobilnya. Berdiri tepat di luar benda itu seraya terus menatap bangunan di hadapannya. Ia menarik senyum seraya melepaskan kacamata yang di kenakan olehnya, memasukkan benda itu ke dalam kantong jas yang di kenakan olehnya.


"It's show time," gumamnya. Pria itu melangkah menuju arah pintu masuk di sana. Berjalan dengan langkah elegannya menuju arah ruang guru. Ada seseorang yang hendak di temui olehnya disana.


"Baik, kalau begitu saya permisi," ujar seorang pria berambut kecoklatan yang baru saja keluar dari dalam ruang guru. Ia tampaknya adalah salah satu siswa yang bersekolah di sana, terlihat dari seragam yang di kenakan olehnya.


Pria itu berhenti untuk sesaat, memandangi sosok pria yang baru saja melangkah keluar dari dalam ruang guru dan kini berjalan menuju arah yang sama dengannya.


"Wah, kebetulan sekali," gumamnya yang kemudian kembali melangkah dan berjalan menghampiri ruang guru di sana.


TOK! TOK!


Di ketuknya dua kali pintu itu sebelum kemudian ia mendorong pintunya ke arah dalam. Begitu pintu itu terbuka, fokus orang-orang di dalam sana langsung tertuju pada dirinya yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Ah, t-tuan…" salah satu pria tua dengan kepala botak berujar, ia tampak terkejut dan bergegas bangun dari tempat duduknya seraya bergegas menghampiri pria itu. Yang lainnya hanya diam dan memperhatikan dirinya. "Ada apa anda kemari?" Tanya pria tua itu padanya.


"Aku membutuhkan bantuanmu," pria dengan rambut hitam kebiruan itu merogoh kantong jasnya, ia kemudian menunjukkan sebuah kartu berwarna putih yang kemudian di sodorkan pada pria tua di hadapannya.


Pria itu terdiam sejenak menatap kartu yang baru saja diberikan olehnya, membaca sesuatu yang tertulis di sana. Ia kemudian melirik pria itu lalu tersenyum simpul.


"Saya akan dengan senang hati membantu anda," tuturnya.


"Kalau begitu tunjukkan jalannya," si pria berpakaian serba putih itu berujar seraya sedikit menyingkir dari hadapan pria itu, memberikan dirinya jalan agar bisa lewat.


BLAM!


Pintu itu kembali tertutup begitu mereka keluar bersama. Dan keadaan di dalam kembali seperti sebelum pria itu tiba untuk menyita perhatian mereka.


Tiba di koridor pria yang lebih tua berjalan di depannya, memimpin pria itu sampai kemudian mereka tiba di sebuah persimpangan.


Pria itu menghirup oksigen jernih di taman, ia suka dengan udara jernih yang ia hidup saat ini.


"Aku yakin, ini akan sangat mudah," gumamnya yang kemudian berjalan menghampiri satu bangku kosong di sana. Bangku yang berada di satu pohon rindang besar yang meneduhkan siapa saja yang duduk tepat di bawahnya.


"Mari kita tunggu," ujarnya seraya mengeluarkan dua buah minuman yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ia akan menunggu orang yang di carinya itu tiba disana.


...*...


"Nero!" Panggilnya yang spontan membuat pria itu terkejut dibuatnya.


"A-ah, ya pak? Kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah terkejut. Ia lantas memandangi Cato yang baru saja tiba di ruang perpustakaan dan mengejutkannya.


"Saya hampir melupakan sesuatu tadi saat sebelum kau pergi."

__ADS_1


"Huh? Apa itu pak?"


"Bisakah kau membantu saya untuk membawa barang-barang ini ke gudang? Saya sangat kesulitan untuk membawa barang-barang sebanyak ini sendiri. Maka dari itu, karena kau tidak memiliki kegiatan lain saya memintamu untuk membantu. Tidak apa-apa kan?" Cato menunjukkan setumpuk buku yang baru saja di persiapkan olehnya.


"Oh, tentu saja pak. Saya akan membantu, lagipula saya memang tidak memiliki pekerjaan lain."


"Kalau begitu tolong ya."


"Baik pak," ujar Nero yang lantas meraih beberapa tumpukan buku tebal yang harus dibawanya ke gudang yang letaknya berada cukup jauh dari perpustakaan. Untuk bisa tiba di gudang, Nero harus melewati ruang guru lebih dulu setelah itu berjalan jauh melewati lapangan. Tapi ia bisa tiba lebih cepat jika ia mengambil jalan pintas yaitu lewat taman.


Setelah memperhitungkan semua buku yang akan di bawanya, Nero kemudian melangkah keluar dari dalam ruang perpustakaan dengan setumpuk buku di tangannya. Buku-buku itu memiliki ketebalan yang hampir mencapai tiga puluh centimeter, belum lagi bukan hanya satu atau dua yang harus dibawanya.


"A-astaga," Nero meringis saat tangannya merasa sakit akibat membawa beberapa tumpukan buku di tangannya. Ia bergegas mempercepat langkahnya, memotong jalan menuju taman. Tapi tak di sangka tiba di taman, ia malah menabrak seorang pria hingga tersungkur jatuh dengan beberapa buku di tangannya yang langsung berjatuhan.


"Oh, maaf. Aku tidak melihatmu," ujar Nero yang kemudian membantu pria itu untuk berdiri. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja," tuturnya begitu pria itu berhasil bangkit dari posisinya semula.


"Ah, tidak apa-apa. Lagipula aku tadi tidak memperhatikan jika kau sedang berjalan," pria itu menatap Nero.


"Sekali lagi aku minta maaf," ujar Nero tak enak. Pria yang baru saja di tabrak nya itu lantas beralih fokus pada beberapa buku yang berserakan di tanah berumput.


"Astaga lihat, kau membawa semua buku-buku tebal ini sendirian?" Pria itu berjongkok untuk memungutnya.


"Eh, iya," sahutnya seraya berjongkok untuk membereskan buku-buku yang harus di bawanya ke gudang.


"Biar aku bantu merapikannya," ucap pria itu.


"Terima kasih," tutur Nero. Pria itu mulai sibuk membantu Nero untuk membereskan semua buku-buku di tanah kemudian menumpuknya menjadi satu. "Tampaknya kau lelah, sampai kau tadi menabrakku."


...***...

__ADS_1


__ADS_2