Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 70


__ADS_3

...***...


"Louis" ucapnya dalam hati dengan kedua mata yang terpejam, berusaha memanggil sang teman imajiner yang selalu hadir di saat ia membutuhkan.


Rei membuka kedua matanya pelan. Dan begitu ia membuka mata, sosok teman imajiner nya itu sudah hadir tepat di hadapannya.


Louis. Pria berambut albino dengan wajah yang tak kalah tampan darinya, tingginya hanya berbeda beberapa centimeter saja, begitu pula dengan usia mereka.


"Ada apa tuan?" Tanya Louis begitu ia muncul di hadapan Rei. Rei menatap sosok Louis lekat.


"Apa yang sedang terjadi pada Nero sekarang? Apakah dugaanku mengenai evolver pengendali kabut mimpi itu benar?" Rei bertanya pada Louis.


"Nero belum sadar sampai saat ini, karena dia memang sudah masuk ke dalam jebakannya. Dan mengenai dugaan tuan… itu benar."


"Jadi… pria itu benar-benar reinkarnasi dari dia? Sosok yang dulu pernah kita lawan?"


"Betul tuan. Dia adalah reinkarnasi darinya. Hanya saja, dia mendapatkan penyempurnaan kekuatan."


"Maksudmu?"


"Kali ini kekuatannya sedikit berbeda di bandingkan dulu sebelum ia bereinkarnasi. Metode nya menarik korban juga sedikit berbeda, di tambah lagi. Ia menggunakan kabut yang dapat membuat orang pingsan dan masuk ke dalam dunianya."


"Benarkah?"


"Benar tuan."


"Jadi maksudmu, dia tidak beraksi seperti dulu? Berpura-pura menjadi penjaja minuman kemudian memberikan sebotol minuman pada korban yang di tujunya, lalu bertanya pada mereka mengenai ketakutan terbesar mereka?"


"Benar tuan. Dan lagi, dulu setiap korban yang menerima pertanyaan seperti itu darinya, mereka akan langsung tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang menjadi kunci sekaligus pintu menuju dunianya. Sementara sekarang, metode nya berbeda. Korban hanya di berikan minuman dan asalkan mereka menghirup aroma dari minumannya, mereka akan langsung di tarik masuk menuju dunianya."


"Itu berarti… Nero dalam bahaya," Rei beralih pandang pada Nero yang kini terbaring di sampingnya. Pria yang tengah terlelap itu secara tanpa sadar mengeluarkan air mata di setiap ujung matanya.


"Dia menangis," gumam Rei yang baru menyadari hal itu. Ia menggeser posisi duduknya kemudian menyeka air matanya dengan sapu tangan yang ada di atas meja miliknya.


"Tampaknya mereka mulai menjalankan aksinya."


"Kau benar. Tapi tampaknya kali ini lebih cepat. Aku takut, Nero mulai kehilangan ingatannya mengenai kita. Hal ini akan membuat kita kesulitan untuk membawanya keluar dari dalam sana," gumam Rei.

__ADS_1


"Itu artinya kita tidak memiliki banyak waktu tuan."


Rei beralih pandang pada Louis di sana. Apa yang di ucapkan oleh pria itu benar. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk bisa menolong Nero.


"Kau benar. Aku harus segera menolongnya. Tapi untuk itu, aku membutuhkan Elvina dan William untuk memastikan jika kami baik-baik saja," tutur Rei. Louis terdiam membenarkan perkataan dari tuannya.


"Aku harus mengecek keadaan mereka lebih dulu dan memastikan jika mereka sudah benar-benar pulih," kata Rei. Louis menganggukkan kepalanya di sana.


Rei menutup kedua matanya perlahan, dan dalam hatinya berkata "pergi." Saat membuka kedua matanya, sosok Louis yang baru beberapa saat berbicara dengannya itu lantas lenyap dari pandangannya.


Rei beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia melangkah keluar dari dalam kamar yang kini di tempati oleh Nero, menutup pintu kamarnya rapat dengan sangat tenang. Ia kemudian melangkah menuju arah kamar dimana Elvina dan William terbaring tak sadarkan diri.


"Rei?" Suara Marko di sana spontan menghentikan langkah kakinya.


Rei menoleh ke arah datangnya suara begitu sadar Marko tiba di ruang tengah.


"Marko?" Ucap Rei seraya menatapnya.


"Kau sudah mengecek keadaan Nero?"


"Oh ya. Sudah. Omong-omong, kau mau kemana? Aku pikir kau beristirahat bersama yang lain."


"Oh begitu rupanya."


"Ah ya. Bagaimana dengan keadaan Nero? Apakah dia sudah sadar?"


"Masih belum," sahut Rei seraya menundukkan kepalanya.


"Benarkah?"


"Iya. Tapi rencananya aku akan membantunya untuk sadar."


"Membantunya untuk sadar? Maksudmu?" Marko mengernyitkan dahinya. Rei mendongak menatap Marko di sana.


"Akan sulit untuk aku jelaskan. Nanti saja aku jelaskan begitu yang lain berkumpul," tutur Rei.


"Marko, kau sedang apa di sana?! Mana minuman…" ucapan Taz seketika terhenti saat ia tiba di sana bersama dengan Dean dan Vicenzo. Mereka mendapati Rei yang tengah berdiri dan mengobrol dengan Marko.

__ADS_1


"Rei, kau sudah selesai?" Tanya Dean melirik ke arahnya.


"Belum," Rei menggelengkan kepalanya.


"Kami sudah di sini. Jadi apa maksud dari perkataan mu tadi?" Tanya Marko mengalihkan topik. Dean serta kedua sahabatnya yang lain menatap ke arah Marko dengan raut wajah bingung.


"Apa maksud dari perkataan mu barusan?" Tanya Vicenzo bingung.


"Aku akan mengecek Elvina dan William lebih dulu. Jika mereka sudah sadar, maka aku akan jelaskan semuanya," kata Rei seraya membuka kenop pintu di hadapannya. Mendorongnya ke arah dalam dan mendapati kedua sepupunya itu yang masih terbaring di sana masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Rei menghampiri tepi ranjang Elvina dan duduk di sana, menatap sepupunya itu lekat. Untuk saat ini, ia benar-benar berharap Elvina dan William segera sadar untuk membantunya.


Di sisi lain, Marko yang masih penasaran; lantas melupakan tujuannya untuk mengambil air minum. Ia mengikuti kemana arah Rei pergi dan berdiri di ambang pintu bersama dengan Dean serta yang lain.


"El… Will… sadarlah. Aku benar-benar membutuhkan bantuan kalian untuk saat ini. Aku membutuhkan kalian untuk membantuku menyelamatkan Nero dari dalam sana. Aku membutuhkan kalian untuk membantuku membawa nya kembali kemari," batin Rei, penuh harap. Ia memejamkan kedua matanya seraya berharap.


Fokusnya beralih saat secara tiba-tiba Marko di sana berteriak dengan suara yang sedikit kencang.


"Mereka bangun!" Serunya membuat Rei tersadar. Bergegas air muka Rei berubah senang. Kedua sepupu nya itu sudah mulai sadar. Mereka mulai tampak mengerjap kan kedua mata mereka guna memperjelas penglihatan mereka sebelum kemudian pandangan mereka mulai jelas.


"Elvina, William," kata Rei seraya menatap mereka secara bergantian.


Elvina dan William yang semula tidak sadarkan diri, perlahan mulai mengerjap kan mata mereka beberapa kali sebelum akhirnya terbuka.


Rei tersenyum memandangi mereka. Ia senang karena Elvina dan William dapat mendengar kan batin nya yang meminta tolong pada mereka.


"A-argh… aku dimana?" Elvina berusaha untuk bangkit dan Rei bergegas membantunya.


"Kau di rumah," sahut Rei padanya.


"Apa yang terjadi pada kami?" Kali ini William yang bertanya. Rei beralih pandang padanya di sana.


"Kalian pingsan karena kehabisan energi. Ingat?"


"Benarkah?" Elvina memandangi Rei.


"Iya. Dan kalian tidak sadarkan diri cukup lama."

__ADS_1


"Begitu ya," Elvina menanggapi.


...***...


__ADS_2