Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 13


__ADS_3

***


"Mama!!!!!" Dean seketika membuka kedua matanya, keringat dingin mengucur deras di keningnya, jantungnya berdebar hebat dan napasnya terengah-engah. Ia mengedarkan pandangannya, namun ia baru sadar jika dirinya kini tengah berada dikamar.


Suara teriakan Dean spontan membuat Nero yang tengah berkutat dengan laptopnya disana tersentak. Ia mendongak menatap ke arah Dean yang kini tampak amat ketakutan. Nero menutup laptopnya lalu menghampirinya disana. Duduk tepat di tepi ranjangnya seraya menatapnya bingung.


"D-dean kau kenapa?" Tanyanya yang membuat Dean seketika menoleh ke arahnya. Matanya benar-benar pucat pasi kala mendongak menatap Nero yang tengah menatapnya bingung disana.


"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Nero memastikan. Dean masih berusaha untuk tenang. Otaknya masih memproses kejadian yang baru saja dialami olehnya itu. Mimpi itu benar-benar terasa nyata ia rasakan.


"Dean?" Nero memanggilnya lagi seraya menepuk pundak pria itu, membuatnya seketika tersadar dari lamunannya.


"A-ah ya?" Ia gelagapan.


"Kau baik-baik saja?"


"Y-ya. Aku baik-baik saja," ucapnya terbata.


"Apakah kau bermimpi buruk?" Nero masih penasaran dengan apa yang membuatnya berteriak memanggil mamanya itu.


"A-ah itu…" Dean terdiam, ia berusaha untuk mengingat-ingat kembali mimpinya, namun semu. Mimpi itu seakan-akan hilang dan lenyap begitu saja dari ingatannya.


"A-aku tidak ingat tentang bagaimana isi mimpinya, tapi yang jelas mimpi itu terasa begitu nyata aku rasakan," gumamnya.


"Benarkah?"


"Iya, seakan-akan aku pernah mengalaminya. Tapi aku tidak ingat pernah mengalaminya di kehidupan nyata atau tidak."


"Mungkin hanya perasaan mu saja."


"Ya, seperti nya begitu," gumamnya yang kini mulai tenang. Nero kemudian beranjak bangun dari tempat duduknya, menghampiri tempat dimana ia berkutat dengan laptopnya disana lalu kembali duduk dan di sibukkan dengan membereskan laptop nya.


"Kau mau kemana?" Tanya Dean menatap Nero yang sibuk membereskan laptopnya ke dalam tas yang telah di persiapkan olehnya lebih dulu.


Nero melirik ke arahnya sekilas lalu kembali fokus membereskan barang-barangnya. "Aku memiliki janji temu dengan teman sekelasku di salah satu restoran, jadi aku akan pergi untuk menemuinya. Dia bilang dia akan memperkenalkan aku dengan seseorang yang ahli dalam hal komputer, jadi dia akan sangat membantuku dalam mengerjakan tugasku," jelasnya.

__ADS_1


"O-oh begitu."


"Iya. Dan lebih baik kau sekarang bangun dan bersiap, beberapa jam lagi adalah jam makan malam dan kau jangan sampai terlambat karena Vice dan teman-teman yang lain sudah menunggumu disana."


"Oh, benarkah sudah hampir waktunya?"


"Iya, lihat saja jamnya," Nero menunjuk jam yang tergantung di dinding sana. Jam itu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan tepat sebentar lagi malam akan tiba. Dan hanya beberapa jam lagi saja, makan malam tiba.


"Astaga, berapa lama aku tidur?"


"Ng…" Nero terdiam sesaat, jari-jarinya bergerak membentuk gesture menghitung.


"Kau sudah tidur sekitar… hanya dua jam," sambungnya.


"Ah ternyata cukup lama ya."


"Ya, tampaknya kau sangat kelelahan sampai-sampai tidurmu begitu lelap sampai kau bermimpi," jelas Nero.


"A-ah ya, mimpi…" gumamnya. Dean kembali di sibukkan dengan memikirkan mimpi yang hilang dari ingatannya itu. Namun usahanya sia-sia, ia tidak bisa mengingat nya sedikit pun.


"Ya, hati-hati di jalan."


"Iya," sahut Nero.


Sepeninggalan nya Nero, Dean kembali terdiam. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamarnya, ia berusaha untuk mengingat-ingat mimpi yang di alami olehnya itu, namun benar-benar sulit untuk mengingatnya.


"Mimpi apa sebenarnya itu tadi?" Gumamnya.


*


"Dean! Disini!" Teriak Marko semangat. Ia melambaikan tangannya ke arah Dean yang baru saja tiba di dalam ruang kafetaria. Di tangannya ia memegang nampan berisi makan malam miliknya.


Dean mengangguk lantas menghampiri Marko, Taz dan Vicenzo yang tengah duduk bersama disana. Sudah hampir dua Minggu berlalu sejak kejadian waktu itu. Dan semenjak saat itu, Dean serta ketiga pria itu jadi dekat satu sama lain.


"Akhirnya kau tiba juga. Kau baru tiba?" Tanya Vicenzo ketika Dean baru saja tiba di meja makan mereka, Dean duduk tepat bersebelahan dengan Vicenzo disana.

__ADS_1


"Ya, aku baru selesai dengan kegiatan ku," tuturnya.


"Kegiatan apanya. Aku yakin kau itu tidur sepulang sekolah sampai kau bangun jam lima sore," tuturnya lagi, membuat Taz dan Marko menoleh ke arah Dean.


"Benarkah itu?" Tanya Taz retoris. Dean hanya mengangguk sebagai jawaban, ia acuh dan memilih untuk fokus pada makanannya. Karena jujur saja, bangun tidur membuat perutnya lapar.


"Wah, aku tidak menyangka. Ku kira hanya aku saja yang tidur sepulang sekolah. Ternyata kau juga? Kalau begitu kita sama," Marko senang disana.


"Ya, sama-sama pemalas," Vicenzo menanggapi membuat keduanya menoleh serentak.


"Apa kau bilang?" Kesal Marko.


"Memang benar bukan? Kalian tidur sepulang sekolah karena kalian pemalas, memangnya tidak ada kerjaan lain yang dapat kalian lakukan selain tidur apa?" Vicenzo melahap makanannya, sikapnya masih tenang dan tak menghiraukan kedua temannya yang tampak kesal namun bungkam karena bagaimanapun yang di ucapkan oleh Vicenzo adalah benar.


"Sudah-sudah! Ayo makan, jangan terus berdebat!" Taz berusaha melerai. Marko dan Dean kemudian beralih perhatian, memilih untuk fokus makan bersama disana.


"Oh, ngomong-ngomong dimana Nero? Kenapa kau tidak datang bersama dengannya?" Marko celingukan mencari keberadaan teman sekamarnya tahun lalu itu, namun nihil. Pria berambut cokelat itu tidak ada di manapun di sudut ruang kafetaria disana.


"Dia pergi untuk menemui salah seseorang di luar, jadi dia tidak makan di kafetaria. Mungkin malam nanti dirinya akan pulang," kata Dean.


"Ooh begitu, pantas saja dia tidak datang bersamamu," Marko menanggapi seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sejurus kemudian keempatnya memilih untuk kembali fokus pada makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Berkutat dengan sendok dan garpu disana, lantas menghabiskan makanannya hingga benar-benar tidak tersisa lagi.


TUK!


Dean menaruh gelasnya di atas meja kayu itu. Isinya sudah habis tak tersisa dan kini perutnya kenyang. Begitu pula dengan ketiga temannya disana, mereka sudah selesai makan. Dan sebentar lagi, mereka harus kembali ke asrama mereka masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka.


"Akhirnya perutku kenyang juga," ucap Dean yang kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tengah di duduki olehnya.


"Ah, pekerjaan rumahku malam ini benar-benar banyak," Marko bergumam seraya menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kafetaria yang kini amat terang dengan lampu-lampu yang bersinar disana.


"Pekerjaan ku juga banyak," sahut Taz.


***

__ADS_1


__ADS_2