Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 33


__ADS_3

***


"Dia bergerak ke arah sana," tutur Dean yang kemudian melangkah bersama dengan Taz dan Marko di belakang nya. Dengan amat perlahan, mereka melangkah mengikuti kemana arah Trish yang semakin lama semakin jauh menuntun mereka menuju gang sempit nan kumuh itu.


"Aku jadi semakin yakin jika dia ada hubungan nya dengan hilang nya para evolver," Marko bergumam pelan. Fokus mata nya sejak tadi tak lepas memandangi setiap pergerakan dari Trish yang bagi nya tampak mencuriga kan.


"Aku masih penasaran kemana dia akan pergi," Taz bergumam.


"Terus ikuti saja, nanti juga kita akan tahu kemana dia akan pergi."


"Sudahlah! Ayo pergi, jika terus mengobrol bisa-bisa kita kehilangan jejak nya," ujar Dean menengahi.


"Baiklah ayo pergi," sahut Marko yang kemudian melangkah bersama dengan Taz di belakang nya. Melangkah bersama dengan Dean yang berjalan memimpin di depan. Di tangan nya, Dean memegang walkie talkie yang sama yang di bawa oleh Nero dan Vicenzo.


Baru beberapa kali mereka melangkah, tiba-tiba walkie talkie yang di pegang oleh Dean itu berbunyi, menanda kan panggilan yang berusaha masuk dan terhubung dengan nya. Dean bergegas mengangkat nya, namun ketika sambungan nya sudah terhubung; mereka tidak dapat mendengar suara Nero ataupun Vicenzo dari seberang sana, hanya terdengar sebuah bunyi tidak jelas seperti sinyal yang terganggu oleh sesuatu. Mereka bahkan tidak dapat menangkap suara Vicenzo dan Nero dengan baik, padahal walkie talkie milik mereka, seharus nya tidak akan terpengaruh oleh gangguan sinyal dari sistem lain. Kecuali jika ada yang benar-benar sengaja mengganggu nya.


"Vice! Masuk!" Dean berucap namun lagi-lagi ia tidak bisa mendengar suara lelaki itu.


"Ada apa dengan nya?" Tanya Taz.


"Aku tidak tahu, tidak ada suara yang aku dengar. Hanya bunyi sinyal yang terganggu."


"Benarkah? Tapi kenapa bisa? Apakah sinyal mereka terganggu?"


"Tidak mungkin, walkie talkie kita ini tidak mudah terganggu sinyal nya oleh sistem lain. Kecuali…" Marko menggantung kan ucapan nya, tampak berpikir sejenak. "…Kecuali memang ada yang dengan sengaja berusaha menghalangi server sinyal nya agar tidak bisa berkomunikasi langsung dengan kita," sambung nya.


"Ada apa sebenar nya? Aku jadi merasa tidak enak, apakah jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka?" Dean memandangi walkie talkie di tangan nya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku yakin mereka baik-baik saja. Mungkin mereka hanya tersesat atau kehilangan jejak kita. Maka dari itu, mereka berusaha menghubungi kita. Tapi aku yakin mereka baik-baik saja," ujar Marko.


"Ya, aku harap begitu."


"Sudahlah, lebih baik kita pergi. Jangan sampai kita kehilangan jejak nya lagi, untuk soal Nero dan Vice, kita akan cari mereka nanti," Marko melangkah di depan yang kemudian di ikuti oleh Taz dan Dean yang melangkah perlahan di belakang kedua nya.


*


Semakin jauh mereka melangkah, dan Trish semakin tampak mencuriga kan. Pria yang menjadi guru olahraga mereka bertiga itu sejak tadi terus saja bergerak dengan kepala nya yang tidak henti-henti nya mendongak mencari sesuatu yang entah apa. Sesekali pria itu celingukan seakan-akan mencoba mengawasi keadaan sekitar dan memastikan jika ia dalam zona aman.


"Benar-benar mencuriga kan. Sebenar nya, kemana dia akan pergi?" Marko bergumam pelan.


"Aku tidak tahu, apakah mungkin ada seseorang yang hendak dia temui di tempat ini?" Taz menyahut.


"Tapi siapa?"


Sementara kedua sahabat nya tengah berbicara mengenai Trish, beda hal nya dengan Dean yang sejak tadi merasa tidak tenang. Ia merasa panggilan masuk lewat walkie talkie di tangan nya, tidak boleh ia abaikan. Namun sejak terakhir panggilan itu masuk, tidak ada lagi panggilan yang berusaha di lakukan oleh Vicenzo di seberang sana.


"Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus mencoba menghubungi mereka balik," gumam Dean yang kemudian memencet tombol yang langsung menghubungkan nya dengan Vicenzo.


"Vice? Masuk!" Ujar Dean, namun suara nya belum terkoneksi dengan Vicenzo di seberang sana. "Vice? Ada apa?" Tanya nya ketika walkie talkie nya sudah bisa terhubung dengan Vicenzo dan Nero di seberang sana. Taz dan Marko yang mendengar Dean menghubungi Vicenzo dan Nero lantas melirik ke arah Dean serentak.


"Dean?" Vicenzo bergegas menjawab sambungan nya. Dean, Taz dan Marko lantas terdiam untuk mendengar kan apa yang terjadi pada kedua sahabat nya yang lain.


"Dean! Aku dan Nero di kejar oleh beberapa orang pria yang selama ini menangkap para evolver!" Tutur nya spontan di seberang sana. Namun perkataan nya tampak nya tidak di mengerti oleh Dean, Taz dan Marko.


"Apa maksud mu?" Tanya Taz.

__ADS_1


"Tidak ada waktu untuk menjelas kan semua nya sekarang! Tapi yang pasti kami sedang di kejar oleh mereka dan kami berusaha untuk lari saat ini," ucap Vicenzo.


"Apa? Dimana kalian? Kami akan kesana sekarang!" Dean mulai resah.


"Aku tidak tahu, kami berlari tak tentu arah," tutur Vicenzo.


"Ayo lari," Dean, Taz dan Marko dapat mendengar suara Nero yang berteriak dan selanjutnya sambungan mereka terganggu.


"Vice! Vice! Masuk!" Dean memanggil nya sekali lagi, namun mereka benar-benar sudah tidak tersambung lagi. Selanjutnya Dean, Taz dan Marko terdiam saling tatap satu sama lain.


"Bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Marko menatap Taz dan Dean di sana.


"Kita harus menyusul mereka dan membantu nya," ucap Dean.


"Tapi bagaimana cara nya kita bisa membantu mereka?" Taz menatap kedua nya bingung.


"Aku akan mengecek mereka," Marko menggunakan kemampuan nya, melayang di udara dan mulai sibuk mencari keberadaan Vicenzo dan Nero. "Aku akan kembali setelah menemukan mereka!" Ujar Marko sedikit berteriak pada Taz dan Dean.


"Baiklah," sahut Taz. Mereka lantas memandang Marko yang semakin menjauh sampai akhir nya hilang di antara gedung-gedung tinggi.


"Kita juga harus berusaha mencari mereka," ucap Dean pada Taz.


"Iya. Kalau begitu ayo pergi," Taz setuju. Mereka kemudian melangkah bersama menuju arah semula mereka datang. Hendak mencari keberadaan Nero dan Vicenzo yang entah berada di mana. Taz dan Dean melangkah di antara gang-gang sempit di sana, menyusuri jalanan yang sempat mereka lewati.


Sementara itu, Marko yang berusaha mencari mereka dari jalur udara, terus di sibuk kan menelisik mencari keberadaan kedua sahabat nya yang lain yang hilang entah kemana. Marko terus mencari ke setiap sudut jalan di sana. Namun karena jarak yang terlalu jauh dan gang yang seperti labirin, membuat diri nya cukup kesulitan untuk menemukan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2