
***
Sudah sangat lama Dean dan Taz melangkah, sampai-sampai jarak nya dengan tempat semula Trish berada sudah sangat jauh. Dean dan Taz sudah melangkah jauh dari tempat mereka berada.
"Aku sudah lelah," Taz melangkah gontai di samping Dean yang tampak baik-baik saja. Ia lantas berhenti dan berusaha untuk mengatur napas nya yang tersengal. Dean yang melangkah di samping nya, lantas berhenti dan menoleh ke arah nya.
"Huft~" Taz menghela napas nya panjang. "Astaga, kemana Marko?! Kenapa dia belum kembali juga sejak tadi? Sampai kapan dia akan terus terbang mencari nya, aku benar-benar sudah tidak kuat untuk melangkah lagi," gerutu nya kesal. Marko sepupu nya yang tadi hendak pergi mencari keberadaan Nero dan Vicenzo tak kunjung kembali.
"Aku juga tidak tahu," sahut Dean.
"Ayo istirahat lebih dulu, aku benar-benar tidak kuat."
"Baiklah ayo istirahat," sahut Dean. Mereka melangkah hendak beristirahat di tepi gang tersebut, namun belum sempat ia melangkah. Fokus nya sudah lebih dulu teralih pada dua sosok pria yang memakai jas berjalan beberapa puluh meter dari tempat mereka berada. "Taz!" Dean memanggil nama nya. Taz mendongak menatap Dean.
"Ada apa?"
"Kau lihat mereka!" Ucap Dean seraya menunjuk pada kedua pria itu. Taz memandang ke arah yang di pandang oleh Dean.
"Siapa mereka?" Taz menatap nya bingung. Dean menarik cepat tubuh Taz untuk bersembunyi di balik dinding di sana. "Kenapa kita harus bersembunyi?" Taz menatap nya dengan raut wajah yang semakin bingung.
"Jangan terlalu keras, kita harus berjaga-jaga. Bisa saja mereka adalah salah satu orang yang tadi di bicarakan oleh Vice!" Ucap Dean dengan setengah berbisik.
"A-ah, ya. Kau benar, bisa jadi mereka adalah kelompok nya."
"Maka dari itu, kita harus berhati-hati," gumam Dean yang kemudian mulai diam mendengar kan pembicaraan mereka.
"Kau baik-baik saja?" Tanya pria itu memastikan pada rekan nya yang baru saja terbakar oleh api biru yang membakar tubuh nya. Sekarang keadaan nya kacau, pakaian yang ia kenakan hangus terbakar; hanya tersisa beberapa potong saja.
__ADS_1
"A-ah ya, aku baik-baik saja," gumam nya yang mulai bisa bernapas lega. Api yang semula membakar tubuh nya, sekarang sudah padam dan ia bisa tenang.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa kita perlu kembali ke sana?"
"Tidak perlu, jika kita pergi ke sana pun, mungkin saja mereka sudah melarikan diri. Akan sia-sia kita pergi ke sana jika mereka sudah pergi."
"Benar, tapi bagaimana dengan—"
BRUKKK!!!!!
Tiba-tiba saja suara sesuatu yang jatuh, menyita perhatian mereka. Kedua nya tersentak bukan main akibat suara yang muncul secara tiba-tiba itu. Sontak mereka berdua mencari keberadaan suara yang mereka dengar.
"Suara apa itu tadi?" Tanya pria itu.
"Ayo kita periksa," sahut yang baju nya terbakar. Mereka berdua lantas melangkah mencari keberadaan asal suara itu. Namun diri nya di kejut kan dengan satu rekan mereka yang semula tidak sadarkan diri. Pria itu jatuh tepat ke arah bak sampah besar yang di penuhi tumpukan kantong sampah. Jatuh tidak sadarkan diri di sana, dan tutup bak sampah yang tertimpa tubuh nya sampai penyok akibat hantaman yang keras oleh tubuh nya.
*
"A-aku baik-baik saja, tapi… kalian siapa?" Ucap Nero dengan sedikit terbata karena berusaha menarik keluar suara nya yang tertahan. Si biru kemudian melangkah menghampiri Nero, mengikis jarak di antara mereka; kemudian mengulur kan tangan nya pada Nero. Nero mendongak menatap sosok pemilik pria yang mengulur kan tangan ke arah nya. Mereka beradu pandang, dan si biru tersenyum ke arah nya yang berhasil membuat Nero semakin penasaran dengan siapa mereka sebenar nya.
"Namaku Rei!" Tutur nya. "Rei Adhitama Arion," sambung nya yang berhasil membuat Nero semakin terpaku mendengar suara berat nya yang tampak begitu indah dan merdu di dengar nya.
"S-suaranya… benar-benar merdu. Bahkan aku bisa melihat warna suara indah yang di ciptakan oleh suara nya," Nero membatin. Si biru—Rei tersenyum.
"Terima kasih atas pujian nya," ucap nya yang sontak membuat Nero terkejut.
"K-kau bisa membaca i-isi hatiku?" Nero menatap nya tidak percaya.
__ADS_1
"Apakah itu penting untuk sekarang?" Tanya Rei pada nya. Nero benar-benar tidak bisa berkata-kata di buat nya.
"Jangan takut pada kami. Kami tidak memiliki niat buruk pada kalian sama sekali," si merah muda berjalan menghampiri Nero. Berjongkok tepat di hadapan nya dan menatap nya seraya tersenyum.
"Benar. Dan lebih baik sekarang kita pergi, tidak aman kita tetap berada di sini. Mungkin bisa saja mereka kembali dengan membawa lebih banyak orang," ucap Rei.
"Pergi dari sini?" Nero menatap ke arah mereka secara bergantian.
"Iya," sahut si merah muda.
"Tapi… aku tidak mungkin pergi meninggalkan teman-teman ku yang lain," tutur Nero. Mendengar itu, si hijau melangkah; berjongkok sebentar untuk meraih walkie talkie di sana kemudian berjalan menghampiri Nero.
"Kau bisa hubungi mereka," tuturnya seraya menyodorkan walkie talkie di tangan nya ke arah Nero.
"Baiklah," Nero meraih walkie talkie-nya kemudian mulai di sibukkan berusaha mencoba menghubungi Dean yang kedua sahabat nya yang lain.
*
"Ah benar-benar menyebalkan! Dimana mereka?!" Marko berucap, ia lantas menghentikan laju terbang nya. Mengapung di antara gedung-gedung tinggi di sana.
Sudah hampir satu jam diri nya berusaha mencari keberadaan Nero dan Vicenzo, namun tidak kunjung ia temukan. Di tambah lagi yang ia cari sekarang bukan hanya mereka berdua, tapi juga Dean dan Taz yang hilang entah kemana akibat diri nya meninggal kan mereka sendiri di tempat mereka berpisah terakhir.
"Mereka benar-benar menyebalkan, meninggalkan aku seorang diri seperti ini," gerutu nya kesal. Marko lantas melayang menuju satu gedung di sana, mendarat dengan kedua kaki nya pada lantai di roof top tersebut. Yang ia butuh kan untuk saat ini, adalah beristirahat sejenak. "Lebih baik aku beristirahat sebentar sebelum mencari lagi. Aku benar-benar harus menghemat energi yang aku miliki."
Marko melangkah menuju dinding pembatas di sana. Ia kemudian berusaha untuk mencari keberadaan Nero dan ke empat sahabat nya yang lain dari atas sana. Ia mulai mengedar kan pandangan nya dan mulai mencari keberadaan ke empat nya, sampai kemudian ia menangkap sesuatu disana. Tak jauh dari tempatnya saat ini.
***
__ADS_1