Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 36


__ADS_3

***


TAP!


Marko mendarat beberapa meter dari tempat dimana Nero terduduk di sana. Ia lantas melangkah beberapa langkah menghampiri Nero yang kini terhalang oleh tiga orang yang entah siapa, ia tidak kenal. Namun yang pasti bagi Marko, mereka cukup aneh pasala nya mengena kan jubah berwarna hitam.


"Nero!" Panggil Marko yang spontan membuat ke empat nya yang tengah berada di sana menoleh ke arah datang nya suara. Ke tiga sosok itu berbalik menatap ke arah nya. Sementara itu, Nero yang melihat kehadiran Marko di sana lantas tersenyum senang.


"Marko," sahut nya yang lantas beranjak bangun dari tempat nya semula duduk. Marko di sana kemudian berjalan menghampiri Nero di sana.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Marko pada nya.


"Ya, aku baik-baik saja. Tapi Vice pingsan, dan rencana nya aku akan pergi dari sini bersama dengan mereka," Nero melirik pada Rei dan ke dua rekan nya.


"Mereka… siapa?" Tanya Marko, ada jeda di tengah kalimat nya. Ia lantas menatap ke arah Rei dan ke dua rekan nya.


"Ah, mereka adalah orang yang telah membantu ku lepas dari beberapa pria tadi."


"Benarkah?"


"Ya, dan mereka benar-benar evolver yang sangat hebat."


"O-ooh," Marko menanggapi.


"Ah ya, ku dengar kau dan Dean serta Taz terpisah ya? Aku baru saja mengubungi mereka."


"Iya, dan sejak tadi aku berusaha mencari kau dan mereka tapi aku tidak berhasil menemu kan mereka," jelas Marko.


"Aku sudah tahu di mana mereka berada, sekarang aku akan pergi untuk menemui mereka."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya. Apakah kau bisa temani Vice di sini sampai dia sadar, sementara aku pergi untuk menjemput mereka?" Tanya Nero.


"Ng… Baiklah, aku akan menemani nya. Dan aku akan berusaha untuk membangun kan nya. Kau pergilah."


"Baik. Terima kasih banyak," tutur Nero.


"Baiklah kalau begitu ayo, akan aku tunjuk kan jalan nya," ajak si hijau pada Nero. Nero mengangguk kemudian melangkah mengikuti si hijau yang kini bergerak normal untuk menyeimbang kan langkah nya dengan Nero.


Sejurus kemudian mereka melenggang pergi meninggalkan Marko bersama dengan Rei dan si merah muda.


*


"Di mana dia? Kenapa dia belum tiba juga?" Taz bergumam, sejak tadi ia terus menunggu Nero tiba untuk menjemput mereka. Namun lelaki yang menjadi sahabat nya itu, tak kunjung datang juga. Sementara itu, Dean yang kini terduduk di samping nya, hanya diam dan terus memperhati kan gerak-gerik dari beberapa pria di belakang sana, yang kini mulai melangkah pergi meninggal kan tempat mereka berada.


"Dean, tidak bisakah kau menghubungi nya dan tanya kan di mana dia berada?" Tanya Taz yang mulai bosan. Dean yang duduk di samping nya menoleh sekilas.


"Tapi ini sudah hampir tiga puluh menit dan dia belum juga datang."


"Mungkin saja jarak nya sangat jauh, maka dari itu memakan waktu yang cukup lama. Kau harus lebih sabar!" Dean mulai merasa terganggu.


"Ta—"


"Dean!" Panggil Nero yang spontan memotong ucapan dari Taz. Mendengar suara pria itu, mereka berdua spontan menoleh ke arah datang nya suara. Mereka berdua lantas bangun seketika.


Nero dan si hijau melangkah menghampiri mereka, tiba di hadapan mereka; si hijau celingukan mencoba memasti kan lebih dulu jika keadaan benar-benar aman.


"Kalian baik-baik saja? Kemana para pria yang kau bicara kan itu pergi?" Tanya si hijau pada Taz dan Dean.

__ADS_1


"Kami baik-baik saja, dan mereka baru saja pergi," sahut Dean.


"Benarkah? Syukurlah. Lalu apakah mereka melihat kalian?"


"Tidak, sejak tadi mereka tidak melihat kami," jawab Taz yang membuat si hijau menoleh ke arah nya bersamaan dengan Nero.


"Bagus. Kalau begitu lebih baik sekarang kita pergi dari sini, di sini bukan tempat yang aman untuk kalian."


"Benar, ayo kita pergi," Nero menimpali.


"Tapi tunggu, bagaimana dengan Marko? Kita belum bertemu dengan nya, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan nya?" Tanya Taz.


"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah bertemu dengan Marko. Dan saat ini Marko bersama dengan Vice dan yang lain nya."


"Benarkah? Syukurlah, aku lega mendengar nya," Taz kini bisa merasa lebih lega.


"Oke, kalau begitu ayo pergi dari sini!" Nero berbalik bersamaan dengan si hijau, Dean dan Taz yang kini melangkah bersama dengan nya.


*


"A-arrggghhh" perlahan ke dua manik mata nya terbuka, kepala nya sedikit terasa pusing. Ia mengerjap kan mata nya beberapa kali sampai pandangan mata nya benar-benar jelas. Hal yang di lihat nya pertama kali adalah ruangan gelap yang hanya di terangi oleh cahaya remang-remang yang tampak asing dalam ingatan nya. Vicenzo lantas mengangkat punggungnya, membuat ia terduduk di atas ranjang yang kini ia tempati. Ia memegangi kepala nya yang terasa sakit.


"Argghhh…" Vicenzo mengerang lagi, saat rasa sakit di kepala nya masih terasa jelas. Ia kemudian memijat nya secara perlahan berusaha meredakan rasa sakit di kepala nya. Baru detik berikut nya, Vicenzo mendongak berusaha untuk memperjelas ingatan nya di mana ia berada saat ini.


Vicenzo mendongak, mengedar kan pandangan nya menatap ke sekeliling. Ruangan itu cukup besar, tapi tidak lebih besar di banding kan dengan kamar asrama nya. Vicenzo terus menatap ke sekeliling, dan setiap kali ia memperhati kan detail ruangan itu, setiap kali itu juga pertanyaan mulai bermunculan di benak nya.


"Di mana aku," gumam nya ketika sudah benar-benar sadar jika tempat nya berada saat ini tidak di kenali oleh nya. Perlahan Vicenzo beranjak dari tempat nya semula duduk, ia lantas melangkah mengelilingi ruangan itu. Di sana terdapat beberapa barang yang mengisi ruangan nya. Terdapat beberapa lemari dengan ukuran yang berbeda, letak nya berada di sudut ruangan dekat dengan ranjang tempat nya semula terbaring, tepat di sebelah lemari-lemari itu, terdapat satu pintu yang tampak nya menuju ke luar.


"Apakah jangan-jangan aku tertangkap oleh mereka?" Vicenzo bergumam, ia terus melangkah sampai diri nya tiba di jendela kaca yang menghadap ke arah luar. Jendela itu sangat besar, panjang nya dari dekat kepala ranjang sampai ke dekat ujung tembok ruangan itu. Dekat dengan cermin besar dan satu pintu lain di sana.

__ADS_1


Vicenzo melangkah menghampiri jendela di sana, ia terdiam untuk sesaat; menatap ke arah luar jendela. Dan hal yang di lihatnya di luar sana, adalah sebuah taman kecil yang ukurannya tidak terlalu luas.


***


__ADS_2