Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 49


__ADS_3

...***...


"Dia memiliki kekuatan seperti Rei," ujar William disampingnya.


"Benarkah?"


"Ya."


"Oh, pantas saja dia tahu. Tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya."


"Tentu saja. Karena hanya Rei yang dapat melihatnya di dunia nyata," sahut William.


Dean mengerutkan kening, ia tidak mengerti dengan ucapan Wiliam barusan. Begitu pula dengan ke tiga sahabat nya yang duduk di sebelah nya. Mereka juga baru tahu jika hanya Rei yang dapat melihat Louis di dunia nyata.


"Maksud mu? Aku tidak mengerti," ujar Dean menatap nya bingung.


"Kami juga tidak mengerti," Nero menimpali. Bukan nya menjawab, William malah tersenyum simpul di sana.


"Sangat sulit untuk di jelas kan. Dan mungkin saja jika aku atau Elvina yang menjelas kan semuanya, kalian tidak akan percaya," sahut William.


"Kenapa begitu?"


"Itu karena pada tahun tempat kita lahir ini sudah terlalu banyak terkontaminasi dengan teknologi dan kemampuan khusus para evolver, maka budaya dan kepercayaan orang-orang sudah mulai berubah seiring berjalannya waktu. Jadi akan sangat sulit untuk bisa di mengerti oleh kalian," kini Elvina yang menjawab.

__ADS_1


Nero, Taz, Marko, dan Dean terdiam seketika. Mereka bingung harus merespon bagaimana. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di benak mereka, tapi mereka menggantung pertanyaan mereka untuk sejenak hingga semua orang di sana berkumpul, begitu pula dengan Rei dan Vicenzo. Setelahnya mungkin mereka akan mendapat kan jawaban yang mereka inginkan dari Rei.


"Oh, ngomong-ngomong sementara menunggu lebih baik kita makan dulu," William mengalihkan pembicaraan.


"Cobalah ini semua enak," Louis mempersilahkan. Pria albino itu tersenyum manis menampilkan deretan giginya yang begitu rapi.


"Baiklah," Marko menyahut, mewakili ketiga sahabatnya yang lain. Sejurus berikut nya, mereka mulai di sibuk kan dengan makan bersama. Benar-benar hari yang sangat cocok untuk piknik di tempat seperti ini. Apalagi dengan pemandangan hamparan ladang bunga yang indah, belum lagi air sungai yang mengalir begitu jernih. Benar-benar membuat mereka merasa tenang di tengah kebingungan mereka.


...*...


Perlahan gelap yang di lihat nya berubah. Vicenzo kini dapat melihat cahaya menyilau kan yang arah nya dari hadapan nya. Ia menyipitkan mata nya. Menaruh kedua tangannya di depan untuk mengurangi cahaya yang amat menyilaukan mata nya itu.


TAP! TAP! TAP!


Di dengar nya langkah seseorang dari arah sana. Dan perlahan, Vicenzo dapat melihat siluet seorang pria bertubuh tinggi yang berjalan membelakangi cahaya yang menembus kegelapan di sekeliling nya.


"Sudah aku duga jika kau masih di sini," gumam Rei begitu ia menemu kan Vicenzo. Pria albino yang di cari nya.


Perlahan Vicenzo menurun kan ke dua tangan nya. Mata nya terbuka secara perlahan dan kini ia dapat melihat dengan jelas sosok Rei yang berdiri tepat di hadapan nya. Pria itu menatap nya teduh, sebuah senyuman terukir jelas di bibir nya.


"Kenapa kau baru tiba? Padahal kau datang lebih dulu di banding kan Dean?" Tanya Rei dengan suara tenang nya.


"Tidak ada alasan. Yang jelas aku hanya sedang ingin menikmati kegelapan ini, dan merenung sejenak," sahut Vicenzo tenang. Dari sikap nya, Rei sudah menduga jika Vicenzo tampak nya mulai terbiasa dengan setiap kemampuan yang di miliki oleh nya. Vicenzo bahkan tampak sama sekali tidak terkejut. Reaksi nya berbanding terbalik dengan Dean dan ketiga sahabat nya yang lain.

__ADS_1


"Melihat dari reaksi mu, seperti nya kau sudah mulai terbiasa dengan kemampuan yang aku miliki. Seperti nya apa yang aku lihat dalam ramalan ku memang benar-benar terjadi."


"Aku hanya sedang membiasa kan diri," sahut Vicenzo.


"Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau renung kan sampai-sampai kau tidak ingin keluar lebih dulu dan menemui teman-teman mu?" Tanya Rei.


"Aku hanya sedang merenung kan mengenai setiap ucapan yang kau bicara kan."


"Ucapan ku? Yang mana?"


"Semua nya. Dan sekarang aku sedang berpikir, sebenar nya apa yang kau dan kedua sepupu mu itu sembunyi kan dari kami. Dan apa sebenar nya tujuan mu membawa kami ke tempat mu."


Rei mengeluarkan smirk nya. Tatapan mata nya masih sama hangat nya seperti sebelum nya. Ia sudah tahu ini akan terjadi, ia sudah bisa melihat sejak awal jika salah satu di antara mereka akan mulai curiga mengenai kehadiran mereka yang tiba-tiba. Dan ia juga sudah tahu jika Vicenzo adalah orang pertama yang akan melontarkan setiap tanya yang mengganjal di benak nya itu. Semua nya sudah ia lihat sebelum nya lewat kilas ramalan dari kekuatan yang di miliki nya.


"Seiring berjalan nya waktu, kau dan teman-teman mu akan tahu siapa aku, Elvina dan William. Seiring berjalan nya waktu juga kalian akan tahu apa yang sebenar nya kami sembunyi kan dan apa yang menjadi alasan kami bertemu dengan kalian," sahut Rei di sana.


"Kenapa kau tidak menjelas kan semua nya sekarang saja? Bukankah itu akan lebih mudah dari pada kau berbelit-belit? Sebenar nya apa yang kau rencana kan?" Vicenzo menatap Rei penuh curiga. Jujur saja ia benar-benar tengah berada di ujung rasa penasaran yang sudah tidak bisa lagi di bendung oleh nya.


"Jika aku jelas kan semua nya sekarang, kau, Dean, Taz, Marko, dan Nero tidak akan percaya dengan apa yang aku dan kedua sepupu ku bicara kan. Beda hal nya jika takdir sendiri yang menuntun kalian menuju kebenaran yang sesungguhnya, mungkin kalian akan lebih mudah untuk percaya karena kalian sendiri yang menjalani nya. Mengalami sesuatu yang bahkan tidak masuk akal dan sulit untuk di mengerti secara akal sehat manusia."


"Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang kau maksud dengan sesuatu yang tidak bisa di mengerti oleh akal sehat manusia? Dan kenapa sejak awal kau terus berbicara jika pertemuan kita ini sudah di rancang sebelum oleh seseorang? Siapa sebenar nya seseorang yang kau maksud itu?" Tanya Vicenzo. Ia menekan intonasi nya pada kata 'seseorang' ia benar-benar lelah terus di hadap kan dengan teka-teki yang di berikan oleh Rei.


"Sudah aku bilang, kau tidak akan percaya jika aku bicara kan semua nya. Terlalu tidak masuk akal untuk di terima oleh akal sehat manusia." Rei berbalik. Sementara itu Vicenzo yang tidak puas dengan jawaban Rei hanya bisa diam seribu bahasa di tempat nya.

__ADS_1


"Sudahlah. Ayo pergi! Yang lain sudah menunggu dirimu!"


...***...


__ADS_2