
***
"Ng… ada apa pak Cato memintaku untuk makan bersama disini? Apa yang ingin bapak bicarakan?" Trish mulai semakin resah di buatnya. Pasalnya sejak tadi, sejak ia tiba dan makan bersama dengan Cato disana, mereka hanya terus fokus pada makanannya masing-masing, dan jujur saja itu membuat Trish semakin resah di buatnya.
Cato yang sejak tadi sibuk pada makannya lantas beralih pandang menatap ke arahnya. Di raihnya gelas berisi minuman yang di pesannya lalu di teguknya pelan. Ia kembali menaruh gelas itu di dekat piring nya begitu selesai meminumnya.
"Begini…" Cato memperbaiki posisinya. Melipat kedua tangannya di atas meja lantas menatap Trish lekat, membuat lelaki yang lebih muda darinya itu merasa gugup dengan tatapannya yang membuatnya kurang nyaman.
"…Aku hanya ingin meminta maaf karena aku berbicara seperti tadi padamu, dan jujur aku jadi tidak enak. Maka dari itu aku memintamu untuk datang dan makan malam bersama sebagai permintaan maafku. Dan lagi…" Cato terdiam untuk sesaat, menggantungkan ucapannya.
"D-dan lagi apa pak?" Trish bertanya dengan suara gugupnya, keringat dingin sebesar biji jagung menetes keluar dari keningnya.
"…Dan lagi, aku hanya ingin memberitahu padamu jika lebih baik kau tidak terlalu ikut campur dengan urusanku atau guru-guru yang lain. Kau harus ingat jika kau bekerja hanya untuk sementara sampai pak Gramercy kembali. Dan lagi, jika kau melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat, aku harap kau tidak ikut campur atau berusaha untuk mencari tahu, karena jika kau ikut campur atau berusaha mencari tahu, maka kau akan menanggung resiko nya. Ingat itu," Cato menekankan setiap kalimatnya agar Trish mengerti dengan apa yang di katakan olehnya. Namun bukannya mengerti Trish bahkan disana hanya bisa mencerna sebagian kata yang terlontar dari bibir Cato, selebihnya ia tidak mengerti dengan apa yang di maksudnya dengan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
"Kau mengerti maksudku kan?" Cato memastikan membuat Trish yang berusaha mencerna ucapan Cato itu seketika tersadar dari lamunannya.
"A-ah ya?"
"Aku bilang kau mengerti dengan apa maksudku kan?" Ulangnya lagi.
"A-ah ya, aku mengerti," tuturnya dengan terbata. Walaupun tidak mengerti tapi ia berusaha untuk mengerti.
__ADS_1
"Bagus. Kalau begitu mari bersulang dan kita nikmati makan malam ini," Cato menjunjung gelas kaca miliknya yang kemudian di ikuti oleh Trish yang lantas mengacungkan gelas nya juga lantas bersulang dan meminumnya.
*
"Kau akan aman berada disini!" Ucap wanita itu seraya memeluknya. Wanita itu lantas beranjak bangun, menatap ke arah pria tua yang kini memegang tangan anak kecil berusia sekitar tiga tahun itu.
"Apakah kau yakin akan melakukannya seorang diri? Bukankah ini terlalu gegabah? Jika kau sampai tertangkap juga, masalahnya akan bertambah rumit. Setidaknya bawalah salah satu anak buahku, dengan begitu kau akan aman," pria tua itu berkata seraya menatap lekat wanita dihadapannya itu.
"Aku tidak bisa pa. Ini terlalu berbahaya untuk papa nantinya. Biarkan aku pergi sendiri, dengan begitu akan lebih aman. Walaupun jika aku tertangkap nanti, setidaknya aku bisa kembali bersama dengan Dam."
"Tapi apakah kau tidak merasa kasihan pada dean? Dia masih sangat kecil, dan dia membutuhkan sosok kedua orangtuanya untuk menemaninya hingga dewasa nanti. Dia akan sangat sedih jika menyadari jika kau sebagai orangtuanya tidak ada disisinya ketika ia berusia sekecil ini."
"Bukannya aku tidak kasihan padanya, dan bukan berarti aku juga tidak menyayangi nya. Tapi bagaimana pun, aku tidak ingin membuat dean berada dalam bahaya. Jika dia terus bersama denganku, yang ada mereka akan berusaha untuk merebut Dean dariku karena mereka tahu jika Dean memiliki DNA istimewa dariku dan Dam. Maka dari itu aku tidak ingin membuatnya terancam bahaya. Lagipula dengan Dean bersama dengan papa, aku yakin dia akan aman karena tempat ini sudah di rancang agar tidak terdeteksi oleh alat apapun. Jadi aku mohon jaga dean dengan baik pa," katanya penuh harap.
"Kalau begitu aku pergi," wanita itu berbalik lantas melangkah pergi. Dean yang melihat wanita itu pergi seketika menangis dan berusaha mengejarnya tapi tidak bisa.
"MAMA!!!!!" Dean seketika membuka kedua matanya, keringat dingin mengucur deras di keningnya, jantungnya berdebar hebat dan napasnya terengah-engah. Perlahan Dean mengedarkan pandangannya, dan kini ia sadar jika dirinya tengah berada di dalam kamar asramanya.
"Dean?!" Nero memanggil namanya membuat Dean yang tengah terbaring dengan wajah pucat pasi itu menoleh ke arahnya. Disana Nero tampaknya baru saja selesai mandi, handuk putih miliknya tergantung di lehernya.
Nero beranjak melangkah menghampiri Dean, duduk tepat di tepi ranjangnya seraya menatapnya dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Tanyanya ketika menyadari jika wajah Dean pucat pasi. Dean beranjak bangun, kemudian duduk di atas ranjangnya disana. Dean terdiam, ia masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Nero lagi seraya menepuk pundaknya pelan. Dean mendongak menatap ke arahnya.
"Ya, aku baik-baik saja," gumamnya pelan.
"Apakah kau bermimpi buruk lagi?"
"Sepertinya begitu."
"Apakah kau memang sering bermimpi buruk seperti ini sebelumnya? Sudah satu bulan sejak kita masuk dan kau terus saja bermimpi buruk setiap hari, dan setiap kali kau bangun kau selalu berteriak memanggil mama mu. Sebenarnya apa yang kau lihat di mimpimu?" Nero mulai penasaran dengan mimpi yang di alamai Dean selama ini.
"Ng… itu…" Dean terdiam. Dan lagi-lagi ingatan tentang mimpinya itu sirna seketika saat dirinya hendak bercerita pada Nero mengenai mimpinya.
"Aku tidak ingat dengan jelas," gumamnya. Lagi. Masih dengan jawaban yang sama dan Nero yang mendengar itu merasa lelah. Setiap kali di tanyai mengenai mimpi yang di alaminya, selalu itu jawabannya dan Nero lelah walaupun dia tahu jika Dean tidak berbohong karena ia bisa melihat warna apa yang di lihatnya dari suara Dean.
"Baiklah kalau begitu, lain kali jika kau mengingatnya atau kau memimpikan mimpi yang sama lagi, langsung beritahu aku. Siapa tahu jika aku tahu arti dari mimpimu atau mungkin aku bisa membantumu mencari apa penyebabnya mengenai kenapa kau terus memimpikan hal yang sama."
"Baik. Lain kali aku pasti akan bercerita," kata Dean.
"Oke. Sekarang lebih baik kau bangun lalu mandi dan bersiap, sebentar lagi sudah waktunya makan malam. Teman-teman pasti sudah menunggu. Ayo!"
__ADS_1
"Iya," sahut Dean. Nero beranjak dari tempatnya, lantas menghampiri lemarinya disana untuk mengganti bajunya dengan baju yang baru sebelum makan malam.
***