Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 20


__ADS_3

***


Dikabarkan jika sudah hampir seratus siswanya itu hilang tampa jejak begitu saja. Hal ini membuat Trish sebagai guru merasa bertanggung jawab atas hilangnya mereka, apalagi ketika mendapatkan banyak sekali keluhan dari para siswa yang mengaku kehilangan teman-teman mereka.


Sudah hampir sebulan dirinya bekerja di sana, dan sisa waktunya hanya tersisa sedikit lagi. Trish yang merasa ada yang tidak beres dengan sekolah tempatnya mengajar itu lantas memiliki tekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, walaupun ia tahu jika Cato telah memperingati dirinya lebih awal, tapi tetap saja sebagai guru, dirinya tidak bisa tinggal diam.


Pagi itu, Trish yang memilih untuk berangkat lebih awal ke sekolah bergegas menghampiri meja kerjanya di ruang guru. Di dalam sana, ia mencoba mencari petunjuk lewat internet dengan menggunakan komputer di meja kerjanya.


"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah hal ini pernah terjadi sebelumnya, ataukah ini adalah fenomena yang baru terjadi? Tidak mungkin secara tiba-tiba orang-orang hilang begitu saja tanpa alasan yang jelas. Pasti ada fakta yang menjelaskan mengenai hal ini, dan aku yakin di internet pasti ada yang menulis hal ini di salah satu blog dan forum mereka," ia memonolog. Trish lantas mengotak-atik keyboard laptop nya berusaha untuk mencari informasi mengenai fenomena yang di alami negaranya itu.


Ia terdiam untuk sesaat ketika layar itu menunjukkan kata memuat dalam bahasa Inggris. Sejurus kemudian layar putih itu mulai menunjukkan sederet kata yang menampakkan beberapa blog dan website teratas yang menuliskan mengenai hal yang tengah di selidiki olehnya. Salah satu yang di dapatnya adalah fakta mengejutkan bahwa bukan hanya di Indonesia negara tempatnya tinggal saja yang mengalami hal ini, namun berada di seluruh belahan dunia.


"Fenomena ini seperti virus yang menyebar di seluruh dunia tanpa ada yang tahu asalnya dari mana dan apa obatnya," gumamnya yang lantas membuka salah satu website lantas membacanya dari atas hingga bawah sampai artikel itu habis.


"Menurut yang tertulis disini semua orang yang hilang adalah evolver dengan usia yang masih muda dan memilki kemampuan untuk mengendalikan kekuatan nya secara utuh. Jadi ada kemungkinan manusia biasa seperti ku tidak masuk dalam deretan orang yang hilang ini," Trish keluar dari artikel itu ketika selesai membacanya. Ia lantas mengganti kata kunci di mesin pencarinya dan berusaha mencari tahu apakah hal ini pernah terjadi sebelumnya atau hal ini adalah hal yang baru saja terjadi.


Layar yang awalnya memuat itu lantas menampakkan layar dengan deretan website terkait. Namun tidak ada salah satupun di antara deretan website yang di temukan olehnya itu menunjukkan fakta bahwa hal ini pernah terjadi sebelumnya.


"Argh," Trish mulai lelah. Sudah cukup lama dirinya berkutat dengan layar komputer nya itu, namun tidak ada satu artikel pun yang di bukanya itu menuliskan jika fenomena ini pernah terjadi sebelumnya.

__ADS_1


"Huft~" Trish menghela napasnya berat. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi beroda yang tengah di duduki olehnya. Ia hampir putus asa.


"Baiklah, jangan menyerah. Aku yakin ada fakta yang menuliskan jika hal ini pernah terjadi sebelumnya," Trish kembali menatap layar komputer nya lantas membuka satu halaman lagi. Satu halaman terakhir yang menjadi harapan akhirnya untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang tengah terjadi.


Trish menekan angka dengan bingkai bulat berwarna putih itu, lantas menunggu sejenak hingga garis berwarna biru yang menunjukkan tengah memuat layar itu penuh.


Dan kemudian layar itu muncul, menampakkan beberapa artikel terakhir. Trish menggesernya ke bawah, dan ada satu artikel yang berhasil menyita perhatiannya. Belum sempat dirinya membuka artikel tersebut, secara tiba-tiba pintu ruang guru di buka membuat Trish sontak terkejut bukan main dan spontan mengeluarkan layar browser nya.


"Pak Trish? Tumben sekali kau datang sepagi ini," ujar seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk lewat pintu disana.


"B-bu Agne," Trish gelagapan. "Ka-kau sudah tiba."


Agne melangkah dari sana menghampiri meja kerjanya yang tepat bersebelahan dengan meja kerja Trish.


"A-ah itu… aku sengaja datang lebih awal karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Tampaknya akan menyenangkan jika aku berangkat lebih pagi, maka dari itu aku mencobanya," jelas Trish yang berusaha untuk tenang.


"Ooh, begitu rupanya. Tapi bukankah jika kau datang sepagi ini, itu artinya kau memiliki banyak waktu luang sampai waktu mengajar mu tiba bukan?"


"Ah ya. Aku juga sengaja agar aku bisa lebih santai dan bisa menikmati pemandangan sekolah ini. Lagipula sebulan mengajar di sekolah ini membuatku tidak memiliki banyak waktu untuk menikmati lingkungan sekolah. Sekali-kali aku juga ingin berkeliling dan melihat-lihat seluruh bagian sekolah ini agar aku terbiasa dan tidak terus tersesat seperti beberapa waktu lalu," Trish beralasan.

__ADS_1


"Ooh begitu ya," Agne tampaknya percaya dengan alasan yang ia berikan. Wanita yang kini duduk di dekat meja kerjanya itu lantas mengangguk-anggukkan kepalanya menyimak penjelasan Trish.


"Iya. Dan oh ya, kalau begitu aku permisi. Aku ingin mulai berjalan-jalan dan melihat-lihat," Trish beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Mau aku temani?" Tawar Agne.


"Ng… tidak perlu. Biar aku berusaha sendiri saja, tapi terima kasih sudah menawarkan," Trish tersenyum simpul ke arahnya.


"Ooh baiklah. Kalau begitu sampai jumpa lagi," sahut Agne yang balas tersenyum.


"Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa," Trish melangkah pergi dari sana, meninggalkan Agne seorang diri di dalam ruang guru.


Tiba di luar, Trish dengan tergesa-gesa bergegas pergi dari sana mencari tempat yang aman untuk menyelesaikan penyelidikannya mengenai hal ini.


"Tadi itu hampir saja," gumamnya seraya mengelus dadanya berusaha mengatur degup jantung nya yang sejak tadi tidak karuan.


"Sekarang lebih baik aku mencari tempat yang aman untuk menyelidiki kasus ini," Trish melangkah pergi dari koridor yang masih amat sepi tanpa seorangpun penghuni itu.


"Aku hampir saja menemukannya, sekarang yang harus aku lakukan hanyalah mengulang pencarian ku. Aku yakin jika artikel itu masih ada dan bisa aku temukan," gumamnya amat yakin. Trish mengeluarkan ponselnya lalu mulai di sibukkan berkutat dengan benda pipih berbentuk persegi panjang itu, sementara itu, kakinya terus melangkah.

__ADS_1


***


__ADS_2