
...***...
"Kalian baik-baik saja?" Elvina melirik pada Dean dan yang lainnya. Berdiri tepat di samping Rei.
"Kami baik-baik saja," sahut Dean.
"Bagus. Aku senang mendengarnya," tutur Elvina.
"Jangan bersenang-senang tanpa aku!" Tiba-tiba William sudah berada tepat di dekat Elvina tanpa mereka ketahui kapan datangnya.
"K-kapan William tiba di sana?" Marko terkejut saat menyadari pria itu ada di sana secara tiba-tiba.
"Sekarang kalian tenang saja," ujar William seraya menatap lurus ke depan.
"Kami yang akan menghadapi mereka," Rei menimpali. Dean dan ketiga sahabatnya itu terkejut mendengarnya.
"Ta-tapi, bukankah kau bilang jika mereka bukanlah—"
"Memang mereka bukan tandingan kalian. Tapi mereka adalah tandingan yang sepadan bagi kami. Jadi kalian tenang saja," Elvina memotong ucapannya membuat Dean dan yang lainnya terdiam.
Pria di hadapan mereka itu menatap ke arah mereka dengan raut wajah terkejut. Pria yang semula berusaha memadamkan api di tubuhnya kini telah pulih dan apinya berhasil di padamkan berkat bantuan beberapa orang rekannya.
Satu pria yang berdiri paling depan menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk sebuah smirk.
"Wah lihat siapa ini?" Pria itu berujar pelan, menatap ke arah Rei dan kedua sepupunya.
"Lama tidak berjumpa," sambungnya kemudian.
"D-dia kenal pada Rei dan kedua sepupunya?" Taz terbelalak. Menatap satu persatu wajah sahabatnya disana.
"Kenapa mereka bisa saling kenal?" Ujar Taz yang kini mulai di serbu berbagai pertanyaan di benaknya.
"Ya. Memang sudah sangat lama. Tidak aku sangka jika kita akan bertemu lagi dalam keadaan seperti ini," Rei menjawab.
__ADS_1
"M-mereka benar-benar saling kenal," Marko terdiam seketika. Tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Serang mereka!" Pria berkacamata itu memerintahkan para anak buahnya untuk menyerang Rei, Elvina dan William. Dan dalam satu kali perintah, mereka bergegas menjalankan apa yang di tugaskan pada mereka.
"Kau fokus hadapi dia. Untuk sisanya biar kami yang tangani," ujar Elvina pada Rei yang kemudian di angguki setuju oleh William. Pertarungan di mulai. William dan Elvina di sibukkan melawan masing-masing dua pria yang mana keduanya merupakan evolver dengan kemampuan perlindungan ganda.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh mereka!" Ujar Elvina ketika dirinya menghadang kedua orang pria yang berusaha untuk menghampiri ke arahnya.
"Kami juga tidak akan membiarkan kalian menghalangi pekerjaan kami," satu pria itu berucap.
"Lebih baik sekarang kau menyingkir. Aku tidak ingin bermain kasar dengan wanita!" Teriak satu pria lain.
"Kalian belum tahu saja aku ini siapa?!" Elvina menyeringai. "Rasakan ini!" Elvina mengerakkan tangannya membentuk sebuah gestur mendorong yang spontan membuat medan gaya keluar dari telapak tangannya.
Satu pria tersungkur jatuh di tanah dalam keadaan bagian perutnya terluka meninggalkan sebuah kepulan asap yang di tinggalkan kekuatan Elvina.
"Ternyata kau benar-benar tidak bisa kami ajak bekerjasama!" Ujar pria lain yang kemudian menggerakkan tangannya, jemarinya berubah dalam seketika menjadi sebuah benda yang ujungnya tajam.
Pria itu bergerak cepat menghampiri Elvina, bersiap untuk menusuknya. Tapi beruntung Elvina dapat melindungi dirinya dengan kemampuan medan gaya yang di milikinya membuat ia sama sekali tidak tergores dan justru kebalikannya. Pria itu malah terluka akibat setruman berkali-kali yang terjadi akibat hantaman berulangnya pada medan gaya Elvina yang mana memiliki muatan listrik.
"RASAKAN INI!" Pria itu menyerang Elvina dengan kedua tangannya. Melompat tinggi di udara bersiap untuk menghantamnya untuk yang ke sekian kali.
Elvina tidak tinggal diam, ia menunggu saat yang pas dan begitu pria itu hampir mengenainya. Dengan cepat tangannya bergerak membentuk gesture yang spontan membuat medan gaya nya terhempas keras tepat ke arah pria itu.
Ia terpental jauh dari posisinya semula berada. Dan…
BRUUKKK!!!
Ia tersungkur dalam keadaan kacau. Melihat itu, satu pria lain tidak tinggal diam dan berusaha untuk bangun dan membantu rekannya melawan Elvina.
"Ternyata kau lebih kuat dari perkiraan ku," pria yang baru saja di hajarnya pertama kali itu bangun dengan tergopoh-gopoh. Berusaha untuk mengumpulkan energi sebelum menyerang Elvina di sana.
"Kau tidak akan bisa meremehkan aku hanya karena aku adalah perempuan," tutur Elvina yang kini berusaha mengatur energinya agar tidak habis.
__ADS_1
"Kalau begitu. Mari kita tes seberapa besar kekuatanmu," ia berdiri tegap di sana. Mengangkat kedua tangannya di udara dan percikan kilat mulai dapat mereka lihat. "Mari kita lihat apakah kau sanggup menahan seranganku," ujar pria itu lagi.
"K-kekuatan itu…" Elvina terbelalak, kekuatan evol yang di miliki pria itu sama dengan seseorang dari masa lalunya. "B-bagaimana mungkin…"
"Rasakan ini!" Pria itu menggerakkan tangannya membuat kilatan petir yang bermunculan itu bergerak menghampiri Elvina.
Elvina hampir saja lengah, tapi beruntung ia masih bisa menghadapinya. Melindungi dirinya dengan medan gayanya.
"K-kekuatannya sangat dahsyat," Elvina bergumam. Ia berusaha keras untuk menghadang kekuatan evol pria itu tapi kekuatannya terlalu kuat sampai-sampai membuatnya terseret ke belakang.
"Tampaknya hanya segitu kemampuanmu," pria itu menyeringai.
Dean dan ketiga sahabatnya yang melihat itu langsung dibuat cemas. Tampak jelas jika Elvina kewalahan menghadapi kekuatan pria itu.
Kepulan asap mulai keluar dari high heels yang di kenakan nya. Ia benar-benar terseret cukup kasar ke belakang.
"A-aku harus bertahan," Elvina bergumam.
"Aku tidak akan membiarkan kau menang begitu saja," pria itu menghentakkan keras kedua tangannya yang spontan membuat kekuatannya semakin besar sampai akhirnya Elvina tersungkur jatuh di tanah.
"ELVINA!" Serentak mereka memekik khawatir. Wanita itu tersungkur di tanah. Untuk sesaat tidak ada gerakan sama sekali. Mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi, asap yang di lihat mereka membuat pandangan mereka terhalang.
"Uhuk-uhuk…" Dean dan yang lainnya terbatuk di sana, mereka menggunakan satu tangan untuk menutupi hidung mereka sedangkan satu lagi berusaha menyingkirkan asap yang di lihat mereka.
"A-apa yang terjadi?" Marko di sana penasaran.
"Apakah Elvina baik-baik saja?" Dean membatin. Ia masih berusaha melihat semuanya dengan jelas.
"Ini benar-benar mengganggu," Marko mengibaskan tangannya yang spontan membuat asap itu berterbangan menyingkir dari pandangan mereka.
"Elvina!" Mereka semakin cemas melihat Elvina yang masih tersungkur disana. Sementara itu, pria di sana mulai bergerak mendekat bersama rekannya.
"Tamatlah kau," pria itu berujar. Seraya terus melangkah menghampiri Elvina disana. Dean serta temannya semakin khawatir.
__ADS_1
"Tidak semudah itu."
...***...