
***
"Akhir nya kau mau memberi kan kesempatan aku untuk bicara, setelah apa yang aku alami dan akhir nya aku bisa bertemu langsung dengan mu," Trish senang bukan kepalang.
"Memang nya ada apa? Kenapa kau mencari ku?" Tanya Tessa yang berusaha bersikap tenang. Sekarang ia tahu jika Trish memang tidak sadar bahwa mereka sudah pernah bertemu sebelum nya. "Apakah kau orang yang di tugas kan untuk membawa ku pergi menghadap pemerintah?" Tanya Tessa lagi, yang kini membenahi posisi nya. Ia lantas menatap Trish tajam.
"Pemerintah? A-ah, bukan. Aku bukan orang suruhan pemerintah. Aku hanya guru olahraga biasa yang sekarang menjadi guru pengganti di SMA Abadi," jelas Trish.
"Kau guru biasa?" Tessa menaik kan sebelah alis nya bingung.
"Iya. Memang nya kenapa kau berpikir bahwa aku adalah orang suruhan pemerintah?" Tsih tidak mengerti.
"B-bukan apa-apa," sahut Tessa. "Jika dia bukan orang suruhan pemerintah, lalu mengapa dia datang kemari? Apa yang ingin dia lakukan?" Tessa membatin.
"Lalu, jika kau bukan salah satu orang suruhan dari pemerintah, lalu kenapa kau datang kemari?" Tanya Tessa.
"Ah, itu karena aku ingin menanya kan sesuatu pada mu."
"Apa itu?"
"Ini mengenai kejadian beberapa belas tahun yang lalu. Mengenai sebuah artikel yang beredar di internet yang menjelas kan kejadian serupa yang sedang terjadi seperti saat ini. Apakah kau tahu?"
"Tapi untuk apa kau mencari tahu mengenai hal ini?" Tessa masih tidak dapat menghilang kan kecurigaan nya pada Trish.
"Aku hanya ingin tahu kebenaran nya, agar aku bisa mencegah kejadian ini terjadi lagi. Aku tidak ingin jika sampai ada orang lain lagi yang menghilang, dan lagi aku ingin mengetahui siapa sebenar nya sosok di balik semua ini. Otak dari sang pelaku semua ini, karena aku tidak mungkin hanya tinggal diam. Apalagi sebagian besar yang hilang adalah para evolver muda, yang rata-rata adalah anak murid SMA," jelas Trish. Hal itu membuat Tessa seketika mengubah air muka nya, ia terkejut saat Trish melontar kan kata-kata itu.
"Tunggu, apakah kau manusia murni?" Tanya nya.
"Iya. Aku manusia murni, aku bukan seorang evolver seperti kebanyakan orang," akunya yang spontan membuat Tessa tersenyum senang. Untuk pertama kali nya, Tessa menemu kan orang yang serupa dengan diri nya. Manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun.
__ADS_1
"Memang nya kenapa kau bertanya?" Tanya Trish yang tampak bingung.
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Oh, jadi kau datang untuk menanya kan semua ini?"
"Iya. Apakah kau tahu sesuatu mengenai artikel yang di tulis mendiang ibu mu beberapa belas tahun yang lalu?"
"Iya. Aku tahu," sahut Tessa. Menyadari hal itu, membuat Trish yang mendengar nya seketika tersenyum senang. "Tapi, aku masih berusaha untuk mencari kebenaran nya dan mengungkap siapa sebenar nya otak dari pelaku kejahatan ini."
"K-kau menyelidiki nya?" Trish tampak terkejut.
"Iya."
"Tapi kenapa?"
"Karena ada satu tujuan yang harus aku selesai kan."
"Mengenai apa itu?"
"A-apa? Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu."
"Sudahlah, sekarang kau boleh pergi. Walaupun aku tahu, aku tidak akan semudah itu untuk percaya dan mencerita kan semuanya pada orang asing seperti mu!" Usir nya seraya beranjak dari tempat duduk nya bersiap untuk pergi.
"Tunggu! Aku mohon beritahu aku, aku harus tahu tentang semua ini," Trish beranjak menahan pergelangan tangan nya agar tidak pergi. Tessa terhenti, menoleh pada Trish yang kini tampak memohon.
"Aku tidak mau memberitahu kan nya! Sekarang pergi," Tessa bersikukuh. Ia lantas menghempas kan tangan Trish agar melepas kan tangan nya.
"Ayolah, aku benar-benar memohon padamu. Lagipula ini demi kepentingan banyak orang. Apakah kau tidak tahu, bahwa di luar sana banyak orang yang sedih ketika mereka mendapati orang yang mereka kenal itu menghilang?" Trish berusaha memancing empati nya.
"Mereka tidak akan sedih, karena mereka semua sama! Mereka semua sudah pernah mengalami hal itu sebelum nya!" Tessa menegas kan, membuat Trish yang mendengar nya spontan terkejut bercampur bingung dengan maksud dari Tessa.
__ADS_1
"A-apa maksud mu?"
"Aku tidak ingin menjelas kan nya. Sekarang pergi!" Tessa mengalihkan topik. Trish terdiam untuk sesaat, semakin rumit saja otak nya di penuhi dengan pertanyaan yang terus berbelit dalam pikiran nya. Ia benar-benar penasaran dengan maksud perkataan Tessa barusan. Mengapa wanita itu berbicara seperti itu, dan kenapa dia bersikap seolah-olah tidak ada yang dapat di percaya di dunia ini, kecuali diri nya sendiri.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjelas kan semua nya padaku," ujar Trish akhir nya. Tessa menoleh ke arah nya.
"Kau tidak akan pergi?" Tanya nya.
"Iya. Dan kau tidak akan bisa mengusir ku pergi dari sini!"
"Baiklah jika kau tidak akan pergi, maka biar aku yang pergi," Tessa meraih tas backpack besar milik nya, lantas melangkah pergi menuju pintu keluar di sana. Mendengar hal itu, Trish lantas terkejut di buat nya.
"T-tunggu! Kenapa jadi kau yang pergi?" Trish berjalan mengikuti nya dari arah belakang.
"Aku memang akan pergi sejak awal," ujar Tessa yang terus melangkah hingga tiba di luar dengan Trish di samping nya. Tessa mulai di sibuk kan dengan mengunci pintu rumah nya rapat, ia harus pergi malam ini juga.
"Memang nya kau mau kemana?"
"Bukan urusan mu!" Selesai mengunci rumah nya, Tessa lalu beranjak pergi menuju gang gelap di sana. Tidak terlalu banyak lampu jalan, walupun ada di beberapa bagian tapi cahaya nya remang-remang. Tessa berjalan dengan tas backpack besar di punggung nya. Sementara itu, Trish yang tak ingin menyerah begitu saja mengikuti diri nya di belakang dengan tas yang semula di bawa nya.
"Kau mau kemana sebenarnya?" Tanya Trish yang masih belum menyerah.
"Sudah aku katakan bukan urusan mu! Lebih baik sekarang kau pulang, aku harus pergi. Ada urusan penting!"
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab semua pertanyaan yang tadi aku ajukan!"
"Sudah aku bilang pergilah!"
"Aku tidak mau! Aku akan ikut kemana pun kau pergi, dan tidak akan berhenti sebelum kau menjawab setiap pertanyaanku. Tapi jika dilihat, sepertinya kau akan pergi jauh."
__ADS_1
***