Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 72


__ADS_3

...***...


"Kami baru mendengar mengenai hal ini. Dan kami tidak mengerti dengan semua ini," jelas Dean.


"Itu hal yang wajar. Karena kalian hidup dan di besarkan di zaman yang berbeda. Maka tidak heran jika kalian kurang mengerti akan hal ini."


"Lalu… apa sebenarnya Eoduksini, Succubus dan Incubus yang kau jelaskan itu?" Kali ini Taz yang bertanya.


"Succubus dan Incubus adalah dua iblis dalam legenda abad pertengahan di Barat, Succubus atau Succuba adalah sesosok setan berwujud wanita cantik yang merayu laki-laki melalui mimpi untuk melakukan hubungan seksual. Mereka mengambil energi dari laki-laki untuk bertahan hidup hingga korban mereka kelelahan atau meninggal. Succubus berjenis kelamin pria disebut Incubus. Sasaran dari target Incubus dan Succubus adalah orang yang tidak kuat iman, tidak bisa menahan syahwat, orang yang tidak setia kepada pasangannya, atau orang yang kesepian. Incubus dan Succubus menggunakan wujud wanita cantik atau pria tampan untuk menggoda manusia. Dikatakan bahwa Succubus dan Incubus tidak bisa berkembang biak. Kalau pun berkembang biak, maka cara berkembang biaknya dikatakan agak aneh. Karena itulah mereka menggunakan media manusia sebagai sarana perkembangbiakan," jelas William runtut, ia mengambil jeda sejenak untuk mengumpulkan oksigen sebelum kembali menjelaskan.


"Sementara itu, Eoduksini biasanya muncul sebagai masa bayangan gelap tak berbentuk, sama halnya seperti mimpi atau ingatan seseorang yang muncul saat kita tidak sadarkan diri. Eoduksini adalah bagian dari legenda urban Korea. Ia akan cepat membesar jika orang yang terperangkap dalam jebakannya tidak bisa keluar dari dalam dunia yang di ciptakannya. Meskipun begitu, Eoduksini akan menyusut dan akhirnya menghilang jika yang terperangkap bisa sadar dan berusaha melawan ketakutannya. Serangan fisik oleh makhluk tersebut belum tercatat, dan diperkirakan bahwa mereka memakan rasa takut. Mereka dianggap berhubungan jauh dengan shadow people dan elemen kegelapan dan malam lainnya," William mengakhiri penjelasannya.


"Lalu… apakah itu artinya Nero tidak akan bisa selamat?" Marko beralih menatap sendu ke arah sahabatnya yang terbaring tak sadarkan diri di sana.


"Bisa!" Ujar Rei membuat atensi mereka seketika beralih memandang ke arahnya. "Jika aku menolongnya," sambung Rei lagi yang berhasil membuat Elvina dan William melongo menatapnya.


"Jangan bilang maksudmu adalah kau akan masuk dan menyadarkan Nero dari dalam?" Elvina menebak. Ia menatap Rei dengan raut wajah yang amat khawatir.


"Tunggu! Apakah maksud dari perkataan mu di ruang tengah tadi adalah ini?" Marko baru menyadarinya.


"Iya," sahut Rei membenarkan ucapan keduanya.


"Tidak! Aku tidak ingin kau melakukan itu! Itu terlalu berbahaya untukmu Rei!" Larang Elvina.


"Aku tahu ini berbahaya, tapi aku harus melakukannya. Aku harus membantunya sadar dan membawanya kembali."

__ADS_1


"Rei! Tolong pikirkan perasaan aku dan Elvina! Jangan lakukan ini! Jangan biarkan kami merasakan apa yang dulu kami rasakan. Hampir kehilangan mu itu benar-benar membuat kami takut," William berusaha untuk tenang walaupun hatinya bergemuruh mendengar keputusan yang dibuat oleh Rei.


"Aku tahu kalian cemas karena dulu kalian hampir kehilangan aku dan Lucy. Tapi aku harus menolongnya, karena bagaimanapun aku tidak bisa membuat Dean dan teman-temannya sedih karena kehilangan salah satu diantara mereka. Aku harus menolong Nero dan membantunya bebas!"


"Rei!"


"Maka dari itu aku ingin meminta bantuan kalian untuk mengawasi dari luar. Untuk berjaga-jaga dan memastikan jika tidak terjadi sesuatu denganku atau Nero."


"Rei! Aku tidak setuju! Lagipula biarkan Louis saja yang menangani hal ini! Aku tidak ingin kau masuk ke dalam sana dan mempertaruhkan nyawamu sendiri," kata Elvina yang sangat resah.


"Nero tidak akan mengenali Louis. Dan itu tidak akan membantunya bebas, maka dari itu aku harus membantu Nero dan datang secara langsung padanya," jelas Rei yang berusaha membuat kedua sepupunya itu mengerti. Rei tahu jika dulu ia sempat membuat kedua sepupunya itu cemas karena hampir kehilangan dirinya dan Lucy karena terjebak dalam perangkap Eoduksini yang dulu mereka hadapi. Tapi bagaimana pun mereka juga harus mengerti bahwa Nero juga harus bebas, karena bagaimanapun Nero akan membantu dirinya dan yang lain menyelesaikan semua misi mereka.


"Louis? Siapa dia?" Marko menatap bingung ketiganya. Rei beralih menatapnya hendak menjelaskan, tapi Dean lebih dulu menyahut disampingnya.


"Benarkah?" Kata Marko.


"Darimana kau tahu?" Tanya Taz.


"Iya. Aku tahu karena kita semua pernah bertemu dalam mimpi yang di ciptakan oleh Rei. Kalian mungkin tidak ingat karena Rei menghapus ingatan kalian mengenai mimpi itu, sedangkan aku masih ingat dengan jelas mengenai isi dari mimpi itu."


"Jika mereka tidak terpisahkan lalu dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak ada? Dan kau bilang Louis adalah sosok yang selalu berada di samping Rei? Lalu dimana dia sekarang?" Vicenzo menatapnya penuh tanya.


"Hanya Rei saja yang dapat melihatnya di dunia nyata. Maka dari itu kita tidak bisa menemukan keberadaan nya dimana pun karena Louis merupakan bagian dari pangkal imajinasi Rei. Dia adalah teman imajiner nya."


"Woah, luar biasa." Marko berdecak kagum. "Omong-omong bagaimana orangnya? Apakah dia perempuan atau laki-laki?" Tanya Marko pada Dean.

__ADS_1


"Dia laki-laki. Sama seperti Vicenzo, dia adalah albino." Dean menatap Vicenzo.


"Aku?" Vicenzo menunjuk dirinya sendiri.


"Woah, benarkah?" Marko tak henti-hentinya berdecak kagum disana.


"Iya."


"Aku ingin bertemu dengannya," kata Marko.


"Nanti saja kita bahas ini lagi, yang terpenting sekarang aku harus membatu Nero keluar." Rei memotong pembicaraan mereka. Ia berjalan menghampiri tepi ranjang yang di duduki oleh Elvina.


Mendengar Rei yang memotong ucapan mereka, membuat mereka seketika diam dan memperhatikan pergerakannya.


"Jangan!" Elvina mencengkeram pergelangan tangan Rei berusaha menahannya. Rei menoleh ke arahnya dan menurunkan pelan cengkeraman tangan Elvina dari pergelangan tangannya.


"Kau tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Aku janji. Dan aku akan kembali dengan membawa Nero pulang," tuturnya berusaha menenangkan.


"Tapi…"


"Jika aku terjebak di sana dan tidak bisa kembali. Kalian tahu cara membuka kuncinya dari luar kan?" Rei meraih sesuatu dari dalam laci meja yang di sana. Memberikan benda yang di genggamnya itu pada Elvina.


Elvina menatap benda yang baru saja di berikan oleh Rei. Benda itu tampak seperti semacam tali yang berguna untuk membantu membebaskan orang yang terjebak dalam perangkap Eoduksini. Tali itu nantinya diikatkan di pergelangan tangan orang yang terjebak.


...***...

__ADS_1


__ADS_2