
...***...
"Tapi Rei…"
"Kita tidak memiliki banyak waktu untuk terus berpikir. Semakin lama kita mengulur waktu, maka semakin habis pula sisa waktunya hanya untuk kita ulur. Secepatnya kita harus membantu Nero sebelum ia benar-benar terjebak di dalam sana dan kita kehilangan dia untuk selamanya. Kau tidak ingin hal yang seperti itu terjadi, kan?"
"Tidak. Tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu Rei. Apalagi setelah kejadian dulu…" Elvina menggelengkan kepalanya. Ia tampak benar-benar resah dan Rei dapat melihatnya dengan sangat jelas.
"Kau tenang saja El! Lagipula aku sudah pernah lepas dan bebas darinya. Aku juga pernah menghadapinya secara langsung bersama dengan Lucy dan Louis, jadi aku akan baik-baik saja. Kau tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang! Setidaknya dulu ada Lucy yang membantumu, dan kau tidak sendirian. Kau bisa bertahan dan bekerja sama dengannya."
"Apa bedanya dengan sekarang? Sekarang Louis bahkan masih ada untuk membantuku dan dia yang akan senantiasa menjaga dan menolongku. Sama seperti dulu, dia tidak akan diam saat melihat aku dalam kesulitan. Karena pada dasarnya, Louis di ciptakan untuk menolong, menjaga, dan menemaniku."
"Huft~" Elvina menghela napas panjang. "Kalau begitu, kau harus berjanji jika kau akan baik-baik saja dan kau akan kembali dengan selamat!"
"Aku berjanji pada kalian," Rei menautkan kelingkingnya pada Elvina dan William bergantian.
"Baiklah. Kalau begitu, aku mulai," ujar Rei yang kemudian membaringkan tubuhnya tepat bersebelahan dengan Nero di sampingnya. Dean dan teman-temannya hanya memperhatikan apa yang tengah dilakukan olehnya. Rei di sana menghela napas panjang sebayak tiga kali, sebelum kemudian ia memejamkan kedua matanya.
"Louis," ucap Rei dalam innernya seraya memejamkan kedua matanya perlahan. Di hadapannya, ia dapat melihat Louis yang kini berdiri menatap ke arahnya. Pria itu berdiri dalam kegelapan yang menyelimuti sekelilingnya.
"Aku harap kau menepati janjimu," gumam Elvina dengan raut wajah khawatir di sana.
"Aku yakin Rei pasti akan menepati janjinya," William berusaha menenangkan Elvina.
__ADS_1
...*...
"Kau sudah siap?" Tanya Nata pada Nero yang baru saja selesai berpakaian. Wanita itu kini mengenakan setelan kaus pendek yang di balutnya dengan jaket jeans yang kedua lengannya di lipat hingga mencapai sikut, sementara kaki jenjangnya mengenakan hotpants dengan bahan dan warna yang serupa dengan jaketnya. Bagian kakinya, ia mengenakan sepatu boots heels yang tidak terlalu tinggi.
"Ya, aku siap," sahut Nero seraya tersenyum ke arahnya.
"Kalau begitu pegang ini!" Nata memberikan kail dan alat pancing di tangannya pada Nero sementara ia sibuk menguncir rambut panjangnya menjadi kuncir satu ke belakang seperti ekor kuda.
"Kalau begitu ayo pergi!" Ujar Nata yang kemudian meraih kembali kail dan alat pancing di tangan Nero.
"Ayo," sahut Nero bersemangat. Ia lantas berjalan beriringan bersama dengan Nata menuju arah pintu samping rumah agar bisa tiba lebih cepat di danau tempat mereka akan pergi memancing ikan.
Tiba di danau, mereka menghampiri dermaga kecil disana. Berjalan perlahan menaiki perahu kemudian duduk tenang di sana dan mulai mendayung agar bisa tiba di tempat yang sedikit lebih jauh dari tepi danau.
Mereka berdua mulai menikmati waktu memancing bersama dan mulai di sibukkan dengan kegiatan mereka.
...*...
"Ini adalah saat yang tepat untuk membuat jiwanya terperangkap secara utuh di dalam duniaku," tuturnya seraya menyeringai menatap Nero yang kini bersama dengan Nata di tengah-tengah danau sana. Keduanya sibuk memancing sembari bercanda.
...*...
"Norwegia? Aku tidak menyangka jika Nero akan benar-benar kembali kemari," gumam Rei begitu ia tiba tepat di depan rumah besar nan mewah yang halaman nya sangat amat luas.
Rumah itu tampak seperti sebuah istana pada zaman-zaman kerajaan kuno, dengan sebuah halaman yang sangat luas dan gerbang besar yang begitu tinggi. Rumah itu berdiri kokoh di belakang sana.
__ADS_1
Rei tahu ia berada dimana. Walaupun dia berasal dari negara berbeda, tapi Rei dapat mengerti dengan setiap tulisan yang di lihatnya disana. Tulisan yang terukir di dinding samping gerbang, tepat di atas nomor rumah yang di lihatnya.
"Itu mungkin karena hal yang paling di takuti oleh Nero adalah ketika ia harus kehilangan dan berpisah dengan Nata kakak perempuan nya tuan," sahut Louis yang berdiri tepat di sampingnya.
Rei menoleh ke arah dirinya di sana. Mengingat mengenai fakta dimana Nero memiliki seorang kakak perempuan yang sangat di sayanginya membuat ia juga teringat akan sosok kakak pertamanya. Rei ingat jika dulu saat ia terjebak dalam dunia yang sama, ketakutan terbesarnya adalah kehilangan orang-orang yang di sayanginya. Salah satunya adalah kakak pertamanya.
Rei merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia paling dekat dengan kakak pertamanya yang perempuan, sementara hubungannya dengan kakak keduanya yang laki-laki serta hubungannya dengan adik perempuannya tidak terlalu baik. Itu karena sejak kecil, sejak ia selalu di tinggalkan seorang diri oleh kedua orang tua nya, dan sejak ia menjadi anak yang paling kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua nya, hanya kakak pertamanya lah yang selalu hadir untuk menemaninya. Selalu menghibur dan membuatnya tertawa. Maka tidak heran begitu ia terjebak dalam dunia itu, salah satu yang menjadi ketakutannya adalah kehilangan kakak perempuannya.
"Ayo cari dia," ajak Rei yang kemudian melangkah menghampiri gerbang di sana.
Ia lantas melangkah memasuki gerbang yang penjaganya tengah pergi ke toilet itu. Louis senantiasa di sampingnya, menemani dan memastikan jika Rei dalam keadaan baik-baik saja.
Rei menghentikan langkah kakinya begitu ia tiba di depan rumah itu. Ia terdiam sesaat memandangi rumahnya yang tampak indah.
"Mereka tidak ada di sini," gumam Rei. Louis hanya diam menatap ke arahnya, membenarkan ucapan dari Rei. Mereka lantas beranjak menuju tempat lain. Rei dengan di temani oleh Louis berjalan menuju arah halaman samping yang langsung membawa mereka menuju taman yang tak kalah luas dari pekarangan rumahnya.
Di taman itu terdapat berbagai macam jenis tanaman yang sengaja di tanam untuk menghiasi tempat minum teh terbuka itu.
"Melihat rumah ini, membuat aku teringat akan rumah milik kakek dan neneknya Lucy di Paris, Prancis," kata Rei seraya mengedarkan pandangannya.
"Ya, anda benar tuan…"
Fokus Rei seketika tersita oleh sesuatu yang tiba-tiba ia rasakan.
"Ada apa tuan?"
__ADS_1
...***...