
...***...
"Taz! Tenangkan dirimu. Jangan sampai kejadian itu terulang kembali!" Ucap pria itu pada Taz yang sejak tadi terus saja tidak bisa meredam emosinya. Namun begitu mendengar ucapan pria itu, perlahan api yang sejak tadi berkobar di sebagian tangannya itu padam membuat kepulan asap bermunculan dari bagian tangan dan tubuhnya.
Taz, pria itu menoleh pada lelaki yang baru saja membuatnya teringat akan penyesalan paling mengerikan dalam dirinya. Penyesalan atas kejadian apa yang pernah dilakukan olehnya di masa lampau, yang membuat orang yang amat di sayangnya itu tewas dengan tangannya sendiri. Dan sampai sekarang, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Air muka taz berubah, hatinya seakan terkoyak ketika ingatan itu datang lagi. Tubuhnya yang semula kokoh kini mulai lunglai hampir jatuh, namun dengan segera lelaki itu menangkapnya.
Marko Oktavius, itulah namanya. Pria enerjik yang sangat periang dan bertenaga, bisa di bilang menghibur banyak orang adalah keahliannya, namun walaupun begitu bagaimana pun dirinya adalah orang yang sangat pengertian apalagi jika sudah menyangkut masalah Taz yang mana merupakan sepupu dari keluarga mama nya. Sudah sejak kecil mereka dekat dan di besarkan di lingkungan yang sama, hal ini membuat Marko mengerti betul bagaimana perwatakan dari Taz dan apa saja yang pernah di alaminya sejak dulu.
"Kau harus tenang, dan jangan terus seperti ini. Kendalikan emosimu dan jangan sampai kekuatanmu itu membuat orang-orang di asrama ini terluka. Kau tidak boleh sampai mengulang kesalahan itu dua kali, dan ingat apa tujuanmu menerima untuk bersekolah disini! Kau menerimanya karena kau ingin berusaha mengendalikan kekuatan api mu yang tidak terkontrol itu. Ingat itu!" Katanya penuh penekanan, jika tidak seperti ini, Taz tidak akan pernah sadar dengan apa yang di perbuatnya.
Taz disana terdiam, wajahnya menampakkan penyesalan atas apa yang di lakukannya.
"Kau benar, aku salah. Maaf," gumamnya pelan.
"Bukan aku yang pantas untuk menerima permintaan maafmu, tapi lelaki yang menjadi teman sekamarmu dan lelaki yang tadi sempat kau lukai," ucapnya. Membuat Taz ingat jika dirinya baru saja melukai seorang lelaki yang berusaha melerai pertengkarannya dengan Vicenzo. Air mukanya berubah dalam seketika, menatap Marko dengan kedua matanya yang terbelalak terbuka sempurna.
"Ka-kau benar, aku sudah melukainya. Aku harus menemuinya," tuturnya yang lantas berjalan keluar.
"Tunggu! Kau mau kemana?!" Teriak Marko di belakang sana. Taz berhenti ketika tiba tepat di ambang pintu sana, menoleh ke arah Marko yang berdiri disana.
"Mencari mereka," tuturnya.
"Kalau begitu biar aku bantu kau mencarinya," Marko berlari menghampirinya.
Keduanya keluar, meninggalkan kamar asrama yang kini amat berantakan. Beruntung teknologi canggih membuat tempat itu aman dan tidak menimbulkan kebakaran yang dapat membahayakan penghuni asrama lain.
...*...
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, bagaimana lukamu? Biar aku bantu obati ya?" Ucap Vicenzo ketika menyadari luka Dean yang cukup parah.
"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri. Yang terpenting sekarang kau harus tenang dan jangan sampai kau terjebak masalah. Ingat, jika kau sampai terjebak masalah dan papa mu tahu, apa yang akan dia lakukan padamu," tuturnya dean mengingatkan. Vicenzo terdiam membenarkan ucapan Dean.
"Ya, kau benar. Tapi tampaknya tetap saja, mungkin karena masalah ini aku akan mendapatkan hukuman yang berat dari papaku," ujarnya dengan suara lirih. Raut wajahnya berubah murung.
"Maka dari itu tenanglah. Apapun hukumannya nanti, aku akan membantumu jika diperlukan," Dean berubah menghibur.
"Aku juga akan membantumu," kata Nero seraya tersenyum. Vicenzo disana mendongak kedua orang lelaki yang baru saja membantunya tenang itu, ia lantas tersenyum simpul ke arah keduanya.
"Terima kasih," sahutnya.
"Sama-sama," balas Dean.
"Baiklah sekarang lebih baik kau istirahat saja dulu disini sejenak, sampai kau benar-benar merasa tenang. Setelah itu baru kau bisa kembali ke kamarmu," Nero berucap. Dean mengangguk setuju.
"Baiklah," jawab Vicenzo. "Oh ya, ngomong-ngomong kita belum berkenalan secara formal, siapa namamu?" tanyanya pada Nero.
"Namaku Vicenzo Tertius, salam kenal, dan senang bertemu denganmu," ucapnya yang kemudian menjabat tangan Nero.
"Senang berkenalan denganmu juga."
Nero dan Vicenzo melerai jabat tangannya. Dari warna suara yang di lihat Nero, dirinya melihat warna biru yang keluar dari suara yang di ciptakan Vicenzo dan dapat di simpulkan Vicenzo adalah orang yang tenang, aman, dan damai. Namun dari warna itu juga, Nero dapat melihat sebuah kesedihan mendalam yang tersembunyi dari sosoknya. Tapi entah apa itu, Nero tidak tahu.
"Oh ya, Dean biar aku membantumu untuk mengobati lukamu. Kau harus segera di obati karena jika tidak, lukamu bisa semakin parah," Nero beralih pandang pada Dean disana.
"Baiklah, terima kasih," tutur Dean.
__ADS_1
"Iya," Nero melangkah menghampiri kotak P3K yang tergantung di dinding sana. Ia menekan tombol disana, memasukkan kode kesehatan yang di milikinya lantas pintu kotak itu terbuka. Nero meraih beberapa alat untuk mengobati Dean. Sementara itu, Vicenzo kini melangkah menghampiri ranjang tidur yang di tempat Nero disana. Pria tampan itu merebahkan tubuhnya disana.
Nero menghampiri Dean lantas membantu mengobati lukanya yang cukup parah, namun air yang dikeluarkan Vicenzo berhasil membuat lukanya sedikit membaik. Nero segera membantu Dean mengobati lukanya. Namun ia berhenti sejenak ketika mengingat sesuatu.
"Oh ya, Vicen—"
"Panggil aku Vice!" Potongnya cepat.
"Oh oke. Vice. Jadi, untuk memperbaiki beberapa kerusakan akan aku panggil sepupuku untuk membantumu memperbaikinya."
"Sepupumu? Memangnya dia memiliki kekuatan apa?" Vicenzo mendongak dengan wajah bingung ke arah Nero.
"Sepupuku bisa memperbaiki barang yang rusak dengan kemampuan yang di miliki olehnya. Jadi aku yakin, dia bisa memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada," jelasnya.
"Ooh, baiklah," Vicenzo tidak keberatan.
"Memangnya siapa sepupumu? Apakah dia bersekolah disini juga?" Tanya Dean penasaran.
"Ya, dia bersekolah disini juga. Namanya adalah Nataliya Zola."
"Apa? Apakah dia perempuan?"
"Iya, memangnya kenapa? Apakah kau kenal dengannya?"
"Tidak. Aku tidak mengenalnya."
"Oh, aku kira kau mengenalnya," ucap Nero. Lelaki itu lantas kembali fokus untuk mengobati luka Dean yang masih belum selesai di obati olehnya. Sementara Dean dan Nero sibuk dengan luka nya, beda hal nya dengan Vicenzo. Pria tampan berambut albino itu kini perlahan mulai terlelap di atas ranjang tidur empuk milik Nero, tampaknya ia mulai tenang.
__ADS_1
Kamar Dean dan Nero masih belum selesai mereka bereskan, beberapa barang mereka masih bergeletakan disana, termasuk koper berisi pakaian mereka masing-masing.
...***...