
...***...
"Tapi siapa peduli?" Teriaknya yang berhasil membuat langkah Nero terhenti.
Nata berdiri di sana, menatap ke arah Nero yang berdiri membelakangi dirinya.
"Asalkan aku ada di sampingmu, menemanimu, menjagamu, dan selalu bersamamu. Tak peduli aku asli atau palsu dan tak peduli kita hidup di dunia nyata atau tidak, bukankah itu sudah lebih dari cukup? Bukankah yang kau inginkan sejak dulu adalah aku selalu ada menemanimu? Bukankah ini yang kau mau? Selalu bersama denganku?" Ujar Nata dibelakang sana.
Nero membalikkan tubuhnya ke arah Nata di sana.
"Kau benar," gumam nya pelan yang seketika membuat senyuman terbit di wajah wanita itu.
"Memang itu yang aku inginkan," sambungnya.
"Jadi—"
"Tapi!" Potong Nero cepat sebelum Nata menyelesaikan kalimatnya. "Aku tidak ingin mengorbankan apa yang aku miliki saat ini hanya untuk sebuah kebahagiaan palsu," tuturnya yang dalam seketika menghapus senyuman dari wajah Nata.
Nero bergegas berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Nata di sana. "Nero! Nero!!" Nata berteriak menyerukan namanya. Tapi Nero berusaha untuk menguatkan hatinya, mengumpulkan seluruh keberaniannya dan terus berjalan.
"Ini hanya ilusi. Tapi kenapa terasa begitu nyata?"
"Mengapa terasa begitu menyakitkan?" Nero membatin. Ia terus melangkah, tapi langkahnya semakin berat kala dirinya makin jauh dari tempat Nata berdiri menyerukan namanya saat ini.
"Kenapa terasa begitu berat?" Nero menghentikan langkah kakinya dalam seketika saat kakinya semakin terasa berat untuk terus melangkah pergi. Bersamaan dengan itu, dadanya terasa sesak dan jantungnya bergemuruh. Tangannya di bawah sana gemetar. Berusaha melawan apa yang selama ini menjadi ketakutannya bukankah hal yang mudah.
"Terus melangkah! Kau pasti bisa!" Tiba-tiba di dengarnya suara Rei yang seketika menyeruak menginterupsi pikirannya.
"Rei?" Gumam Nero seraya mengedarkan pandangannya.
"Iya. Ini aku Rei. Aku berbicara dengan kemampuan telepati ku. Kau harus terus berjalan! Jangan biarkan kau kalah dengan semua ilusi ini! Kau pasti bisa melawan rasa takutmu Nero. Lagipula apa yang kau katakan itu benar. Kau jangan mengorbankan apa yang saat ini kau miliki hanya untuk kebahagiaan palsu. Kau harus bisa bertahan dan teruslah berjalan. Kau tidak sendirian, selalu ada aku, Louis, Dean, Taz, Marko, Vicenzo, Elvina, dan William yang akan selalu menemanimu. Kau tidak pernah sendirian menghadapi dunia ini!" Tutur Rei di seberang sana, berusaha menguatkan Nero.
Nero terdiam untuk sesaat. Perlahan tangannya di bawah sana mulai terkepal.
__ADS_1
"Kau benar. Aku tidak sendirian," sahut Nero.
"Ya. Maka dari itu, teruslah berjalan!"
"Ng." Nero menganggukkan kepalanya mantap. Ia kembali melangkah, bahkan kali ini Nero merasa jika langkah kakinya lebih ringan di bandingkan sebelumnya.
"Aku tidak pernah sendirian! Aku masih memiliki Marko, Dean, Taz, dan Vicenzo yang selalu ada untuk menemaniku. Aku harus pulang! Mereka saat ini pasti tengah menungguku untuk kembali." Nero mempercepat langkah kakinya. Semakin cepat sempai akhirnya ia memutuskan untuk berlari dengan sekuat tenaganya.
"Dean, Taz, Marko, Vicenzo! Aku datang!" Batinnya. Nero terus berlari sampai ia melihat sebuah cahaya sebesar titik yang semakin lama cahaya itu semakin besar di lihatnya. Nero berlari menuju cahaya itu. Ia berhenti sejenak sebelum benar-benar melangkah masuk ke dalam cahaya yang kini sudah berada tepat di hadapannya itu.
Ia menoleh ke arah dimana Nata berdiri seraya menatap ke arahnya dengan raut wajah sedih.
"Selamat tinggal Nat…" batinnya dengan mata yang berkaca-kaca dan mulai meloloskan butiran air matanya dari kedua pelupuk matanya. Air mata yang berhasil membasahi kedua pipinya.
Nero berbalik dan bergegas lari memasuki cahaya itu, semakin cepat ia berlari di antara cahaya terang yang kini menyelimuti sekelilingnya.
...*...
Nero membuka kedua matanya perlahan. Pandangannya yang semula mengabur akhirnya bisa di lihatnya dengan jelas begitu ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Nero! Syukurlah kau sudah sadar!" Dean tersenyum di sana, ia lantas memeluk Nero spontan. Bersamaan dengan itu, Taz, Marko dan Vicenzo ikut mengerubuninya memeluk pria yang menjadi sahabat mereka itu.
"Aku senang kau telah sadar," gumam Taz disana.
"Kau tahu? Kau benar-benar membuat kami khawatir," kata Marko.
"Terima kasih karena sudah kembali dengan selamat," tutur Vicenzo.
Nero terdiam sesaat, masih berusaha mencerna apa yang tengah di alaminya. Baru sejurus kemudian ia merekahkan senyumnya sembari membalas pelukan mereka.
"Teman-teman," lirihnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca dan mulai menangis.
Dean dan teman-temannya melerai pelukan mereka, menatap Nero yang kini tampak sangat senang dan terharu karena bisa kembali bertemu dengan mereka.
__ADS_1
"Aku sangat senang bisa melihat kalian lagi," gumam Nero.
"Kami juga," sahut Dean mewakili yang lain. Nero lantas mengusap air mata yang membasahi kedua sisi pipinya.
"Nero, dimana Rei?" Tanya Elvina yang spontan membuat atensi mereka beralih menatap ke arah Elvina dan William yang kini menatap ke arah nya.
"Ya. Benar. Dimana Rei? Kenapa dia tidak kembali bersama denganmu?" Dean menimpali. Nero terdiam, matanya beralih memandang Rei yang kini terbaring tepat di sampingnya dalam keadaan kedua mata yang terpejam.
"Aku tidak tahu, aku tidak bertemu dengannya lagi setelah aku di selamatkan olehnya saat aku jatuh dari danau," gumam Nero.
"Apa? Astaga, Rei… apa yang kau lakukan? Dimana kau sekarang? Jangan membuatku cemas!" Elvina bergumam di sana.
"Tapi aku sempat mendengar suara Rei sebelum aku masuk ke dalam cahaya terang yang aku lihat."
"Huh? Benarkah?" Tanya William.
"Iya. Saat itu aku sempat ragu untuk melawan rasa takutku. Tapi Rei menguatkan ku, dan berbicara denganku lewat kemampuan telepati nya. Tapi aku tidak tahu dimana dia berada saat itu."
"Astaga. Aku yakin, Rei pasti berusaha untuk melacak keberadaan evoler pengendali kabut mimpi itu lewat dunianya," gumam William.
"Melacak lewat dunianya?" Beo Taz.
"Iya."
"Memangnya bisa?" Tanya Marko seraya menatapnya.
"Bisa. Rei dulu pernah melakukannya saat dia terjebak di dalam sana bersama dengan Lucy."
"Rei pernah terjebak juga?" Tanya Nero menatapnya dengan raut wajah terkejut.
"Iya. Dia juga pernah terjebak di dalam sana, tapi beruntung. Rei memiliki Louis yang berhasil membuatnya tersadar jika dunia yang di tempatinya kala itu adalah ilusi. Dan dengan bantuan Louis, Rei bisa lepas dari dunianya."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Dan setelah itu, Rei membantu Lucy untuk bebas."
...***...