
***
"Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa pergi dari sini?" Tessa bergumam, mata nya terus memandangi Trish yang kini mulai tampak terlelap secara tanpa sadar di depan pintu rumah Tessa. Menunggu diri nya untuk pulang. "Aku benar-benar tidak tahan, aku ingin segera mandi. Badan ku benar-benar sudah bau," Tessa kembali menggerutu. Tubuh nya sudah benar-benar di penuhi dengan keringat yang membuat nya kurang nyaman. Tessa ingin pergi ke sana dan masuk tanpa membiar kan Trish untuk masuk, akan tetapi hal itu mustahil untuk ia lakukan, apalagi Tessa belum tahu siapa sebenar nya Trish dan apa motif serta pertanyaan macam apa yang akan di tanya kan oleh lelaki itu. Bukan nya apa-apa, Tessa hanya masih belum siap untuk tertangkap oleh pemerintah saat ini, karena diri nya masih belum menemu kan cukup bukti untuk bisa membersih kan nama dari mendiang ibu nya.
"Oh ayolah pergi dari sana. Apakah kau tidak memiliki pekerjaan lain, selain menunggu ku pulang di sana?! Lebih baik kau pergi dan urung kan niat mu untuk bertemu dengan ku, karena aku tidak ingin menghabis kan tenaga ku, hanya untuk meladeni mu," Tessa memonolog, berbicara seolah-olah Trish di sana bisa mendengar kan suara nya, padahal tidak.
"Tunggu. Tanggal berapa sekarang?" Tessa mengingat sesuatu yang hampir ia lupa kan. Bergegas Tessa mengeluar kan ponsel nya, hendak mengecek tanggal berapa saat ini. Pasal nya ia baru ingat jika ia harus melakukan satu hal yang paling penting dalam hidup nya. Ia harus pergi ke suatu tempat. Tempat yang sangat jauh untuk memecah kan suatu yang selama ini menjadi teka-teki dalam hidup nya.
"Huft~" Tessa menghela napas panjang. Ia benar-benar bingung harus bagaimana, sampai kemudian; Tessa secara tidak sengaja melihat Trish yang mulai beranjak dari tempat nya terdiam saat ini. Pria yang sejak tadi tengah di awasi oleh nya itu, perlahan melenggang meninggal kan kediaman nya. Tampak jelas jika pria itu mulai lelah dan ingin beristirahat di rumah nya, di tambah lagi. Hari sudah malam dan sudah delapan jam lama nya ia menunggu pemilik rumah yang tidak kunjung kembali. Tessa mengulum senyum, akhirnya setelah delapan jam lama nya, ia baru bisa masuk ke dalam rumah nya.
__ADS_1
"Bagus, kenapa tidak sejak tadi saja kau pergi!" Geram nya. Tessa bergegas bergerak keluar dari tempat persembunyian nya, berjalan mengendap-endap menuju arah rumah nya. Ia sempat memastikan lebih dulu jika Trish benar-benar sudah tidak ada di area sekitar rumah nya. Begitu merasa semua nya sudah aman, ia lantas melangkah masuk lewat pintu depan rumah nya. Tapi secara tanpa sengaja Tessa menginjak sebuah benda yang tergeletak di lantai tepat di ambang pintu rumah nya.
"Huh? Apa ini?" Tessa memungut benda itu lantas menatapi nya. Benda yang tampak aneh yang belum pernah ia lihat sebelum nya. "Apakah benar ini milik pria itu? Ah tidak mungkin, lagipula aku tidak melihat nya membawa barang-barang aneh seperti ini. Sudahlah, lebih baik sekarang aku mandi dan ganti baju. Karena aku masih harus bersiap sebelum aku pergi," Tessa melangkah masuk ke dalam rumah nya dengan membawa benda aneh di tangan nya itu masuk.
Tiba di dalam, Tessa lalu menaruh benda itu ke atas meja di ruang tamu berdekatan dengan tas yang di bawa oleh nya. Setelah itu ia melangkah menuju kamar nya hendak mempersiap kan pakaian untuk di pakai nya nanti setelah ia mandi dan membersih kan tubuh nya yang tampak kucel.
*
"Ternyata tertinggal di rumah wanita itu ya, kalau begitu aku harus kembali lagi," Trish melangkah pergi dari tempat nya berada saat ini.
__ADS_1
Tiba di tempat rumah wanita itu, Trish kemudian bergegas mencari keberadaan benda yang di cari nya. Dengan berbekal kan senter canggih pada ponsel nya, Trish bisa dengan jelas melihat setiap partikel sekecil apa pun yang ada di sana. Termasuk debu sebesar titik. Namun setelah lebih dari sepuluh menit ia mencari, Trish tak kunjung menemu kan benda yang tengah di cari olehnya itu.
"Seharusnya ada disini. Tapi kenapa tidak ada? Tidak mungkin kan jika ada orang yang mengambilnya. Tempat ini saja sangat sepi bagaikan tanpa penghuni bagaimana mungkin ada orang yang menemukannya. Di tambah lagi barangnya sangat kecil jadi tidak mungkin akan ada orang yang melihat dan memungutnya begitu saja," Trish memonolog, namun kemudian fokusnya tersita seketika saat secara tidak sengaja ia melihat segaris cahaya yang keluar dari celah pintu yang tertutup dalam keadaan tidak terlalu rapat disana.
"Kenapa pintu ini bisa terbuka? Padahal sudah jelas-jelas tidak ada orang yang menjawab sejak tadi aku disini..."
"...Ini benar-benar mencurigakan. Apakah ada orang di dalam?..."
"...Sepertinya, aku harus mengecek ke dalam," Trish mengintip lewat celah pintu tersebut, namun ia tidak dapat melihat seorang pun di dalam sana. Hal itu membuat rasa curiganya semakin besar. Trish lalu memutuskan untuk masuk dan mengecek apakah ada orang di dalam atau tidak. Namun tetap saja tidak ada seorangpun dilihatnya di dalam sana, membuat Trish ke bingungan.
__ADS_1
"Aneh. Pintu nya terbuka, tapi kenapa tidak ada orang?" Trish melangkah. Mata nya mengedar, memandangi sekeliling rumah itu. Rumahnya benar-benar sederhana dan mininalis, tapi cukup rapi dan nyaman? Entahlah tapi jika dibandingkan dengan tempatnya tinggal, tentu saja lebih berantakkan tempat tinggalnya walau barang-barang ditempatnya tinggal masih tampak bagus dan lebih dari kata layak untuk dipakai, tapi setidaknya tidak seberantakkan tempat ini. Tempat ini lebih rapi walau banyak barang disana sudah usang dan tampak tua. Trish terus melangkah sampai kemudian ia tiba di sebuah ruangan lain yang tampaknya merupakan sebuah kamar, ia berdiri disana. Tangannya bergerak meraih knop pintunya, lalu mendorongnya ke depan yang langsung membuat pintu itu terbuka dan menampakkan isi ruangan didalamnya.
***