
***
Gadis itu melangkah disana. Di koridor yang kini tampak sepi. Di tangannya ia membawa sebuah kotak kardus berisi barang-barang yang harus di simpannya di gudang.
"Sepi sekali disini," gumamnya seraya terus melangkah, hanya tinggal terus berjalan lurus, kemudian berbelok di salah satu pertigaan disana lalu ia akan melihat ruang gudang yang menjadi tempat tujuannya itu.
TUK!
Salah satu barang yang di bawanya di dalam kardus itu terjatuh ke lantai.
"Huh? Astaga, kenapa bisa sampai jatuh," gumamnya. Yang kemudian berjongkok untuk meraihnya.
"Astaga, berat sekali. Biar aku taruh dulu saja yang ini," gadis itu menaruh kotak kardus yang di bawanya di lantai agar bisa dengan mudah ia mengambil barang yang baru saja jatuh kesana. Gadis itu meraihnya, lantas membersihkannya sedikit agar sedikit tanah yang menempel di benda itu hilang.
"Selesai—"
TAP!
Kedua telinganya menangkap suara semacam langkah kaki. Gadis itu menoleh mencari asal suara yang di dengarnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang baru saja menciptakan bunyi yang di dengarnya, namun tidak ada. Tidak ada siapa-siapa di sana kecuali dirinya.
"Aneh, padahal sepertinya tadi aku mendengar suara langkah kaki," gumamnya seraya menggaruk tengkuknya.
"Ah, pasti hanya perasaanku saja," ucapnya memonolog. Ia lantas memasukkan kembali benda yang baru saja jatuh dari kardus yang di bawanya. Gadis itu kembali mengangkatnya dan melangkah menuju gudang. Namun ketika dirinya melangkah, lagi-lagi telinganya menangkap suara langkah kaki. Dan dirinya merasa seakan-akan ada orang yang mengikuti dirinya dari arah belakang. Sempat beberapa kali dirinya menghentikan langkah, menoleh dan mencari sosok yang mengikutinya. Tapi lagi-lagi kosong. Ia mulai resah, apalagi ketika instingnya yang tajam mengatakan jika dirinya tengah di awasi secara diam-diam oleh seseorang yang entah siapa.
"Aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini lalu pergi," pikirnya yang kemudian dengan langkah cepat berjalan menuju arah gudang.
Tiba di depan gudang, gadis itu berhenti sejenak. Hawa yang keluar dari gudang itu terasa berbeda. Rasanya dingin, dan begitu mencekam. Apalagi ketika mengingat keadaan disekitar yang sepi membuat dirinya merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Apa hanya perasaanku saja atau memang gudang ini terasa menakutkan ya? Pasti hanya perasaanku saja. Ya pasti. Lebih baik aku cepat-cepat masuk dan menaruh ini di dalam, setelah itu cepat-cepat pergi sebelum bel masuk berbunyi," katanya yang lantas mendorong pintu gudang itu membuat isi dalamnya tampak oleh kedua matanya. Tangan dan kakinya seketika gemetar serta keringat dingin mulai mengucur deras di keningnya. Jantungnya menderu di sertai dengan firasat tidak enak yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Dengan perlahan dirinya melangkah masuk, menghampiri meja yang di penuhi barang-barang disana lantas menaruh kardus yang dibawanya disana. Sebelum melangkah pergi dari sana, kedua matanya mengedar menatap ke sekeliling. Ruangannya benar-benar gelap, tanpa pencahayaan sedikit pun, dan ketika menyadari hal itu dirinya semakin di landa resah yang semakin menjadi.
BLAM!
Seketika pintu disana tertutup tapat membuat dirinya sontak terkejut. Menoleh ke arah pintu dan bergegas berlari menghampirinya. Tangannya bergerak berusaha membuka pintu itu tapi pintu itu terkunci.
"Sial! Kenapa pintu ini bisa tiba-tiba terkunci!" Ia mulai panik.
"Tolong! Tolong!" Teriaknya seraya menggedor-gedor pintu itu keras dengan kedua tangannya.
"Tidak ada yang dapat mendengarmu!" Tiba-tiba seseorang menyahut dari dalam sana membuat dirinya terkejut. Bergegas membalikkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang baru saja berucap.
"S-siapa kau!" Katanya dengan suara ketakutan, wajahnya kini berubah pucat pasi dan tangannya semakin gemetar. Bahkan sekarang kakinya tidak dapat menopang berat tubuhnya yang membuat dirinya sepontan jatuh terduduk di lantai.
TAP…TAP…TAP…
Langkah kaki mulai di dengarnya, namun bukan hanya satu melainkan empat. Dari sisi dan arah yang berbeda-beda dari kegelapan sana.
Gadis itu memejamkan matanya kemudian membukanya kembali membuat kemampuannya itu aktif, kemampuan melihat dalam kegelapan. Dan disana, di hadapannya terdapat empat orang pria berjas hitam lengkap dengan kacamatanya hitam yang di kenakan oleh mereka.
"S-siapa kalian! K-kenapa kalian disini! D-dan ke-kenapa kalian mengunci ku?! B-buka! Buka pintunya dan b-biarkan aku keluar!" Ucapnya yang berusaha bersikap lantang namun tidak bisa karena terlalu takut.
"Hanya satu tujuan kami. Yaitu membawa kau menuju tuan kami!" Salah satu di antara mereka berucap.
"A-apa maksud kalian!" Ia berusaha mengumpulkan energinya untuk bisa menyerang. Namun berlum sempat dirinya menyerang, secara tiba-tiba pria yang semula berucap itu menembaknya dengan sebuah peluru kecil yang melesat keluar dari dalam jam miliknya dan.…
__ADS_1
PIU—
Peluru itu tepat mengenai lehernya dan seketika ia tak sadarkan diri.
"Sekarang bawa dia," ucapnya mengintruksikan pada anak buahnya. Mereka bergegas meraih tubuh gadis itu dan membawanya keluar dari dalam gudang. Di luar sana mereka bertemu dengan seorang pria tua yang telah membantunya. Pria itu tersenyum kepada mereka setelah membukakan pintu agar mereka bisa keluar.
"Terima kasih atas bantuannya," tutur pimpinan mereka seraya menepuk bahunya pelan. Ia hanya menjawab dengan seulas senyum. Keempat pria itu sejurus kemudian melangkah pergi meninggalkan dirinya seorang disana.
*
"Sekarang hanya tinggal mempersiapkan ruang olahraga nya," gumam Trish seraya melangkah menyusuri koridor menuju ruang olahraga yang tempatnya berada di belakang lapangan, terhalang oleh beberapa ruangan yang kini sudah cukup jarang di gunakan.
Hari ini adalah hari dirinya mengajar kelas XI, dan ia berencana untuk mengajar anak-anak kelas XI untuk belajar di ruang olahraga. Apalagi jika mengingat langit mendung hari ini, tidak mendukung untuk belajar di lapangan.
Ia melangkah menuju ke arah ruang olahraga. Namun langkahnya terhenti sejenak ketika secara tiba-tiba dirinya mendengar suara seseorang yang tengah berlari di sana.
"Sepertinya ada orang yang berlari, apakah benar? Atau aku hanya salah dengar?" Trish melangkah perlahan, amat perlahan agar suara langkah kakinya tidak terdengar. Tepat di balik tembok sana dirinya berhenti.
Kepalanya celingukan mencari asal suara itu. Namun tidak di temukan siapapun yang tengah berlari di lorong kosong itu.
"Aneh, tadi aku yakin sekali jika asal suara itu dari sini. Tapi kenapa tidak ada siapa-siapa ya?" Trish bergumam. Ia masih terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suara yang di dengarnya. Namun lagi-lagi dirinya tidak melihat siapapun disana.
"Pak Trish!" Tiba-tiba seorang pria mengejutkan dirinya. Ia mendongak dan mendapati pak Cato berdiri disana.
"Pak Cato."
***
__ADS_1