
***
TUK!
Marko menaruh nampannya cukup kasar membuat keempat temannya itu mendongak menoleh ke arah sosoknya yang baru saja tiba disana.
"Aku membawa berita terbaru untuk kalian!" Tuturnya dengan raut wajah serius. Keempat temannya itu menatapnya dengan raut wajah bingung, tidak mengerti dengan ucapan Marko.
"Maksudmu apa?" Tanya Vicenzo disana. Marko mengambil duduk tepat di samping Taz yang kini duduk bersebelahan dengan Vicenzo.
"Kalian tahu?" Marko berbisik pelan membuat keempat temannya itu harus mendekatkan wajah mereka untuk bisa mendengarnya.
"Apa?"
"Ku dengar salah satu teman-teman kita di sekolah ini, satu persatu mulai hilang," tuturnya.
"Hilang? Maksudmu hilang bagaimana?" Dean bertanya.
"Hilang seperti rumor yang waktu itu aku beritahu kalian. Tentang hilangnya ratusan siswa di salah satu sekolah. Hilang secara misterius tanpa kabar yang jelas dan tidak dapat di lacak dimana pun keberadaan nya."
"Huh? Benarkah? Apakah kau yakin?" Nero tampak tidak menyangka.
"Iya. Dan ku dengar yang hilang adalah beberapa anak kelas XII."
"Tapi, bagaimana bisa?" Taz bertanya.
"Tidak ada yang tahu, tapi entah kenapa aku merasa jika ini ada hubungannya dengan hadirnya pak Trish di sekolah kita," Marko menduga.
__ADS_1
"Pak Trish? Apa hubungannya?" Vicenzo bingung.
"Apakah kalian tidak sadar jika selama ini pak Trish berlaku aneh?"
"Aneh? Maksudnya aneh?" Dean tidak mengerti.
"Beberapa hari yang lalu aku melihat pak Trish bertingah aneh, dia seperti menyembunyikan sesuatu dan sering kali aku memergoki dirinya tengah berjalan mengendap-endap di beberapa bagian sekolah, dan setelah itu aku mendapatkan banyak informasi jika beberapa anak mulai menghilang."
"Kau tahu darimana? Ku rasa tidak ada orang yang membicarakan mengenai hal ini di sekolah," Nero berucap.
"Kau tidak pernah membaca forum sekolah? Disana semua orang sedang membicarakan mengenai teman-teman mereka yang tiba-tiba hilang. Beberapa di antaranya yang hilang adalah teman satu kamar nya, ada juga yang mengaku yang hilang adalah sahabat atau teman sekelasnya. Dan para siswa lain mulai resah di buatnya."
"Tapi kenapa tidak ada informasi tentang hal ini dari guru-guru? Dan kenapa semuanya tampak tenang-tenang saja, seakan-akan tidak ada yang tahu? Apakah tidak ada yang melaporkan hal ini pada guru atau mungkin tidak ada guru yang sadar akan hal ini?" Tanya Vicenzo.
"Ada yang sudah membicarakan hal ini pada guru-guru, namun ku dengar para guru tampak tengah menyelidiki kasus ini secara diam-diam dan berusaha sebisa mungkin untuk menutupi semuanya dari siswa-siswi yang ada agar mereka tidak merasa resah akan kejadian ini. Tapi ada juga salah satu siswa yang berpendapat jika guru-guru bersikap acuh dan tidak peduli akan hal ini."
"Tidak mungkin para guru bersikap seperti itu bukan? Lagipula bagaimana pun siswa-siswi yang hilang itu kan, masih menjadi tanggung jawab mereka sebagai pengganti orang tua di sekolah," Nero membantah.
"Taz! Kenapa kau diam?" Marko yang sadar jika sepupu nya itu tengah melamun lantas menegurnya membuat sang empu yang di panggilnya itu tersentak dan menoleh spontan ke arah Marko yang kini duduk tepat di samping nya.
"A-ah ya? Kenapa?" Taz gelagapan.
"Kenapa kau diam? Apakah kau tahu sesuatu tentang ini?" Tanya Marko yang merasa sedikit curiga.
"Ah tidak. Aku tidak tahu apa-apa, sudah jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kita makan. Ayo," Taz mengalihkan pembicaraan kemudian berusaha untuk fokus makan di sana. Keempat temannya itu terdiam untuk menanggapi gelagat aneh dari Taz.
"Kau berbohong!" Celetuk Nero yang sejak tadi menangkap warna suara yang berbeda yang keluar dari suara Taz. Sontak semuanya menoleh ke arah Nero yang baru saja berucap.
__ADS_1
"Dia berbohong?" Marko bertanya.
"Aku tahu kau berbohong, kau lupa akan kemampuan yang aku miliki?" Ujar Nero membuat Taz terdiam seribu bahasa. Sudah sebulan mereka sering bersama namun Taz belum juga terbiasa dengan kemampuan yang di miliki oleh Nero yang pada dasarnya bisa melihat warna suara yang di dengar olehnya dan bisa membedakan antara kata-kata yang jujur dan kata-kata bohong yang terlontar dari mulutnya.
"Lebih baik kau katakan apa yang kau tahu," Nero menekankan setiap kalimatnya. Taz yang pada dasarnya tidak suka di tekan lantas merasa kesal dengan Nero yang menekan dirinya. Kepulan asap mulai muncul dari tubuhnya, dan percikan api mulai muncul di sekeliling tubuhnya.
Marko yang menyadari hal itu lantas bergegas berusaha meredam amarah sepupunya itu.
"Tenang! Jangan marah seperti itu," tuturnya seraya menepuk pelan pundak Taz. Pria itu menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam, namun di tanggapi nya dengan tatapan datar.
"Jangan membuat orang lain terancam bahaya," tuturnya kemudian yang spontan membuat Taz tersadar.
"Tentangkan dirimu. Jika kau tidak ingin bercerita tidak apa-apa kami akan menunggu sampai kau siap untuk bercerita," kata Dean berusaha membantu.
"Ya, kami akan menunggu," Vicenzo menimpali. Taz perlahan mulai bisa mengendalikan emosinya dan dalam seketika percikan api itu lenyap bersamaan dengan kepulan asap yang muncul semakin banyak keluar dari tubuhnya.
"Bagus, sekarang atur napasmu agar kau lebih tenang," Marko menenangkan.
"Maaf jika aku terlalu menekankan," kata Nero yang merasa bersalah, awalnya ia menekannya hanya dengan maksud agar tidak ada lagi orang lain yang mengalami kejadian ini, dan agar mereka bisa sama-sama mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi pada tempat mereka tinggal itu. Pasalnya hal ini cukup meresahkan orang-orang termasuk dirinya dan teman-temannya itu.
Taz terdiam tanpa berkata-kata, ia memilih untuk menyambar minumannya disana lalu meneguknya hingga habis tak tersisa.
"Atas nama Taz aku memaafkanmu. Maaf juga jika Taz masih belum bisa mengendalikan kemampuannya," sahut Marko.
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Sudahlah sekarang lebih baik kita fokus makan, setelah itu kita kembali ke kamar masing-masing. Pekerjaan rumahku sangat banyak malam ini," Vicenzo berujar.
__ADS_1
"Ya kau benar, tugasku juga," Dean menyahuti. Mereka berlima lantas berusaha untuk kembali fokus pada makanan yang kini tengah tersaji di hadapan mereka, dan sejurus kemudian hening menyelimuti kebersamaan mereka di meja makan.
***