Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 76


__ADS_3

...***...


"Astaga, kenapa mereka belum juga kembali," gumam Elvina yang tampak amat cemas. Kedua tangannya meremas tali yang di berikan oleh Rei sebagai kunci pembuka dari luar.


"Kau harus tenang. Lagipula ini bukankah suatu pekerjaan yang mudah. Pasti akan sulit untuk membebaskan Nero dari dalam sana, apalagi kau tahu sendiri kan. Dulu saja Rei dan Lucy sulit untuk keluar dari dalam sana dan membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Louis mengeluarkan mereka," kata William yang berusaha membuat kakaknya itu tenang.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang! Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka," tukas Elvina dengan sedikit membentak yang berhasil membuat William diam di sana.


"Kau pikir hanya kau saja yang merasa cemas? Aku juga," gumam nya pelan bagai bisikan. Hanya William yang dapat mendengar suaranya itu. William menundukkan kepalanya, seraya terus berdoa dan berharap Rei agar segera keluar dari dalam dunia mimpi yang di ciptakan oleh si evolver pengendali kabut mimpi itu.


Di sampingnya, Elvina terus memperhatikan wajah Rei dan Nero yang terbaring bersebelahan dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Sementara itu, Dean, Taz, Vicenzo, dan Marko hanya bisa diam sembari memperhatikan. Mereka masih tidak terlalu mengerti dengan situasi yang tengah mereka alami. Di tambah lagi, mereka berusaha menyimpan setiap pertanyaan yang terus bermunculan di kepala mereka dan membuat rasa penasaran terus menghantui pikiran mereka.


"Rei cepatlah pulang," batin Elvina seraya menundukkan kepalanya, menatap tali yang di pegang olehnya.


"Lihat!" Ujar Vicenzo nyaring, membuat atensi mereka seketika beralih menatap ke arahnya. Vicenzo menatap ke arah Rei dan Nero seraya sebelah tangannya menunjuk tubuh mereka, semua orang yang semula menatapnya lalu beralih ke arah yang di pandang oleh pria itu. Dan di sana, mereka mendapati tubuh Rei dan Nero yang tiba-tiba basah kuyup seakan-akan mereka baru saja di siram dengan air satu ember.


"Astaga, Rei! Nero!" Teriak Elvina panik.


"Apa yang terjadi? Kenapa tubuh mereka bisa tiba-tiba basah seperti ini?" Tanya Dean yang kemudian menghampiri tepi ranjang dan duduk di sana bersama dengan William dan ketiga sahabatnya.


"Aku juga tidak tahu. Tapi pasti terjadi sesuatu dengan mereka yang membuat mereka bisa seperti ini. Karena apa yang mereka alami di dalam dunia mimpi itu, akan mereka alami juga di dunia nyata," jelas Elvina panik.


"Benarkah? Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Taz yang merasa cemas.


"Aku juga tidak tahu, karena aku tidak tahu apa yang tengah mereka alami di dalam sana," tutur Elvina yang bingung harus bagaimana. "Ah, tunggu!" Elvina bergerak menghampiri wajah Rei di sana. Tangannya terulur memastikan napas yang berhembus di sana. Ia terbelalak saat mendapati napas dari sepupunya itu tampak tidak normal.


"A-ada apa?" Tanya Marko mewakili yang lain.

__ADS_1


"Napasnya mulai menipis."


"Apa?!"


"Ini gawat! Lakukan sesuatu!" Kata William yang mulai panik. Elvina di sana bergegas memakaikan tali yang di pegangnya ke pergelangan tangan Rei dan Nero.


"Semoga ini berhasil." Kedua mata Elvina mulai berkaca-kaca.


"Pasti berhasil!" William meyakinkan.


"Harus!" Kata Vicenzo yang berusaha berpikir positif.


"Rei… apa yang sebenarnya tengah terjadi di sana?" Elvina membatin. Raut wajahnya benar-benar menampakkan kekhawatiran yang amat mendalam terhadap sepupu tersayangnya itu.


...*...


"Gawat! Aku tidak bisa bernapas. Energiku juga mulai melemah, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk menyingkirkan semua air ini," inner Rei.


Rei semakin merasa jika napasnya mulai semakin menipis. "Napasku semakin menipis, kesadaran ku juga tampaknya mulai berkurang. Aku harus secepatnya membuat Nero sadar," batin Rei. Ia kini terus memandangi Nero di sampingnya. Di tatapnya lekat pria itu, dan Rei mulai memusatkan semua fokusnya pada kekuatan telepati yang di miliki olehnya.


"Nero! Sadarlah! Ini aku!" Ucap Rei berbicara lewat telepati-nya.


"Nero. Buka kedua matamu, bangunlah! Kita harus segera keluar dari dalam sini!" Kata Rei sekali lagi. Dan di sana, Rei mulai dapat mendengar suara Nero dari alam bawah sadar nya yang lain.


"Aku mendengar suara…"


"Siapa itu?"


"Dimana aku? Kenapa begitu dingin? Dan kenapa aku tidak bisa bernapas?"

__ADS_1


Kesadaran Nero masih tersisa sedikit. Ia masih bisa mendengar kan suara dari sinyal telepati yang di kirimkan oleh Rei padanya.


"Bagus! Sadarlah! Buka matamu! Ini aku, Rei," kata Rei cepat. Tapi napasnya terus menipis, membuatnya kesulitan untuk bernapas dan bersamaan dengan itu, perlahan kesadarannya mulai menghilang.


Di sisi yang berbeda, Louis yang mendapati Rei tak kunjung kembali ke permukaan, lantas mulai merasa cemas.


"Tentukan pilihan mu," Azura tersenyum di sana. Senyuman yang tampak menyebalkan bagi Louis.


"Jangan anggap jika urusan kita sudah selesai!" Louis bergegas melompat masuk ke dalam air. Dengan bantuan kedua tangan dan kakinya, ia bergegas bergerak menuju arah dimana Rei berada.


"Pilihan yang tepat," Azura bergumam pelan di sana. Ia berbalik saat di rasa ada seseorang yang berusaha memanggilnya dari alam sadarnya. Pria itu berbalik dan menghilang dalam langkah kedua nya.


"Tuan!" Louis berusaha berkomunikasi dengan Rei lewat telepati nya. Matanya terus mengedar mencari ke sekeliling dasar dan mencari keberadaan Rei yang menjadi tuan nya itu.


"Astaga, aku tidak bisa menemukannya di mana pun," Louis terus berusaha mencari keberadaan Rei. Pria itu tak menjawab saat dirinya berusaha berkomunikasi lewat telepati-nya. Hal itu tentu membuat Louis semakin cemas karena Rei tak kunjung dapat ia temukan di mana pun keberadaan nya.


Louis tak menyerah dan terus mencari, sampai akhirnya ia bisa menemukan Rei yang tergulung diantara tanaman rambat di sana. Tanaman itu melilitnya hingga mencapai leher. Bergegas Louis menghampirinya, hendak membantu.


"Bertahanlah tuan. Aku akan menyelamatkanmu."


Louis terus berenang menuju arah Rei. Begitu ia tiba di sana, bergegas ia berusaha memotong setiap tanaman rambat yang melilit di tubuh Rei dan Nero, tanaman yang membuat mereka tidak dapat bergerak dan lepas dari dalam sana.


"Berhasil!" Innernya, kala ia bisa memotong setiap tanaman rambat yang melilit tubuh Rei dan Nero.


"Bertahanlah."


Louis meraih tangan Rei dan Nero, menggenggam keduanya dan mulai memusatkan kekuatannya untuk menggunakan kekuatan pemindahannya. Hanya dalam satu kali kedipan mata, dan mereka telah berada di darat. Di tepi danau yang semula mereka datangi.


"Tuan! Sadarlah!" Louis berusaha menyadarkan Rei dari pingsannya. Louis memompa kuat bagian dada pria itu, berusaha mengeluarkan setiap air yang tak sengaja di telannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2