Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 77


__ADS_3

...***...


"Tuan! Sadarlah!" Louis berusaha menyadarkan Rei dari pingsannya. Louis memompa kuat bagian dada pria itu, berusaha mengeluarkan setiap air yang tak sengaja di telannya.


"Uhuk-uhuk," Rei terbatuk di sana. Mengeluarkan seluruh air yang tak sengaja tersedak masuk ke dalam mulutnya.


Louis menghentikan kegiatannya, ia lantas memperhatikan Rei yang kini mulai mengerjap kan kedua manik mata nya. Dan kedua mata nya mulai terbuka, menampakkan irish matanya yang begitu indah.


"Tuan," Louis tersenyum simpul ke arahnya, begitu Rei membuka kedua matanya.


"Louis, uhuk-uhuk…" Rei berusaha untuk bangun, dan Louis membantunya.


"Syukurlah tuan sudah sadar."


"Terima kasih karena sudah menolong ku."


"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi kewajiban dan tugas yang harus aku jalani."


"Oh ya, Nero!" Rei beralih menatap Nero yang masih terbaring di sana. "Apakah dia masih pingsan?" Tanya Rei seraya menoleh ke arah Louis.


"Iya tuan."


"Kita harus menyadarkannya secepat mungkin."


"Benar tuan," sahut Louis yang kemudian duduk di samping Rei.


"Nero sadarlah," gumam Rei seraya memompa kuat bagian dada Nero. Ia terus bergerak, berusaha mengeluarkan air yang tak sengaja di minumnya.


"Uhuk-uhuk," Nero terbatuk di sana, dan air yang semula berada di dalam tubuhnya, berhasil ia keluar kan sedikit demi sedikit.


"Ayo, sadarlah! Kita harus segera pulang. Teman-teman mu menunggu," gumam Rei yang terus memompa dadanya hingga semua air yang di telan nya itu keluar.


"Uhuk-uhuk," Nero lagi-lagi terbatuk. Dan kali ini, Rei berhenti saat kedua matanya menangkap Nero yang mulai mengerjap kan kedua mata nya.


"Syukurlah dia sadar," tutur Rei yang kemudian menghela napas lega.


Perlahan kedua mata Nero mulai terbuka. Rei dan Louis mendekat ke arahnya, menatap pria itu dari arah yang cukup dekat dengan wajahnya.


Pandangannya yang semula mengabur, akhirnya tampak jelas ketika ia memfokuskan pandangannya ke arah Rei dan Louis disana.


"A-argh," Nero berusaha untuk bangkit dari posisinya, dan segera Rei membantunya untuk duduk di sana.

__ADS_1


"Du har reist deg," ujar Rei yang tampak lega. Sementara itu, Nero yang di tatapnya justru menatap ke arahnya dengan raut wajah bingung.


(Du har reist deg,/ kau sudah sadar)


"Hvem er du?" Tanyanya sembari menatap secara bergantian ke arah Rei dan Louis.


(Hvem er du?/ Kau siapa?)


"Gawat, Nero sudah mulai kehilangan ingatannya mengenai aku," Rei bergumam. Ia menoleh ke arah Louis di samping nya.


"Tampaknya efeknya mulai bekerja tuan," kata Louis.


"Iya. Efek dari dunia ini mulai bekerja. Tapi aku harap Nero bisa mengingatku dengan mudah," tutur Rei. Ia beralih pandang menatap Nero yang masih melihatnya dengan raut wajah bingung.


Rei mengangkat tangan kanannya dengan tiga jari yang di lipat, menyisakan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Nero masih memandanginya dengan raut wajah bingung, ia menatap ke arah tangan Rei di sana. Pria itu mulai memejamkan mata dan dalam seketika, Nero tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah kartu yang tiba-tiba saja muncul di antara sela-sela jari tengah dan jari manis Rei.


Rei membuka kedua matanya lagi, menatap ke arah Nero yang masih terus memandangi dirinya. Ia mendekat ke arah Nero. Sebelah tangannya memegang pundak Nero, memintanya untuk diam.


"A-apa yang sedang kau lakukan," tutur Nero.


"Kita harus lebih berhati-hati dan jangan sampai kita lengah. Kita jangan sampai tertangkap."


"Ya."


"Baiklah. Oh, teman-teman sepertinya aku harus pergi sekarang," kata Nero di seberang.


"Ah, baiklah kalau begitu sampai jumpa di asrama," sahut Marko.


"Ya sampai jumpa."


"Ingat! Jangan lengah dan tetap berhati-hati," pesan Taz.


"Iya. Kalian juga, dan jangan lupa untuk pulang sebelum waktu pulang sekolah," Nero mengingatkan.


"Iya. Lagipula kami tidak akan lama disini," kata Vicenzo.


"Kalau begitu sampai jumpa."


"Ya. Sampai jumpa," sahut mereka. Nero lantas mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


"Nero!" Panggilnya yang spontan membuat pria itu terkejut dibuatnya.


"A-ah, ya pak? Kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah terkejut. Ia lantas memandangi Cato yang baru saja tiba di ruang perpustakaan dan mengejutkannya.


"Saya hampir melupakan sesuatu tadi saat sebelum kau pergi."


"Huh? Apa itu pak?"


"Bisakah kau membantu saya untuk membawa barang-barang ini ke gudang? Saya sangat kesulitan untuk membawa barang-barang sebanyak ini sendiri. Maka dari itu, karena kau tidak memiliki kegiatan lain saya memintamu untuk membantu. Tidak apa-apa kan?" Cato menunjukkan setumpuk buku yang baru saja di persiapkan olehnya.


"Oh, tentu saja pak. Saya akan membantu, lagipula saya memang tidak memiliki pekerjaan lain."


"A-astaga," Nero meringis saat tangannya merasa sakit akibat membawa beberapa tumpukan buku di tangannya. Ia bergegas mempercepat langkahnya, memotong jalan menuju taman.


"Oh, maaf. Aku tidak melihatmu," ujar Nero yang kemudian membantu pria itu untuk berdiri. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja," tuturnya begitu pria itu berhasil bangkit dari posisinya semula.


"Tenang saja, aku akan membantumu agar semua buku-bukunya selesai kau bereskan. Lebih baik sekarang kau duduk dan beristirahat dulu, dan kebetulan aku memiliki minuman. Kau mau?" Pria itu menyodorkan satu botol minum yang dibawanya.


"Ambillah," ujarnya lagi. Nero lantas meraih minuman ditangan pria itu kemudian duduk tepat disebelahnya.


"Kau harus banyak minum agar kau bisa lebih bertenaga," kata pria itu yang kemudian membuka botol miliknya lalu meneguknya. Nero ikut membuka botol yang berada dalam genggamannya lantas menatapnya sejenak sebelum meminumnya.


"Cobalah, lagipula ini enak dan bisa menaikkan stamina mu."


"Baiklah biar aku coba," jawab Nero yang kemudian meminum isi botol itu.


Saat bibir Nero bersentuhan dengan bibir botol itu, Nero dapat mencium dengan jelas sebuah aroma unik yang keluar dari minuman itu.


"Bagaimana? Enak?" Tanya pria itu seraya memandangi Nero.


"Iya. Rasanya en…"


BRUUKKK!!!


Belum sempat Nero menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah lebih dulu tersungkur jatuh ke tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Nero membuka kedua matanya spontan saat ingatan demi ingatan itu tiba-tiba hadir kembali dalam memorinya.


Rei membuka kedua matanya perlahan dan menatap Nero di sana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2