Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 116


__ADS_3

***


Dalam ruang rahasianya itu, terdapat sofa yang entah sejak kapan ada di sana, di tambah lagi ada perapian kecil dan jendela kecil yang mampu untuk membuat cahaya matahari masuk ke dalam sana. Di dalamnya juga telah ia tambahkan sebuah peti yang berisi persediaan makanan kala ia berkunjung ke sana, dan tak lupa beberapa barang yang sengaja ia simpan kalau-kalau terjadi sesuatu.


Seretha membersihkan pakaiannya yang kotor, ia kemudian menutup kembali pintu itu rapat. Ia berjalan menghampiri peti kecil yang di dalamnya terdapat barang-barangnya. Seretha meraih buku harian rahasianya, membawa buku itu dengan pensilnya. Setelah itu, Seretha menghampiri sofa. Sofa tua itu di tutupi dengan kain putih yang sengaja ia taruh guna melapisi sofa itu agar tidak terkena debu.


Seretha menarik kainnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mulai menulis.


"Sudah cukup lama semenjak kepergian kak Dean yang kembali ke asrama. Dan semenjak ia pergi, mama dan papa semakin bersikap aneh. Entah mengapa, tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan mereka. Jujur saja aku cemas mengenai hal ini. Apalagi setiap malam mereka melakukan gerak-gerik yang benar-benar mencurigakan."


"Para evolver tiba-tiba menghilang. Entah krisis apa yang sedang terjadi di negara ini, tapi yang pasti ini benar-benar membuatku semakin takut. Setiap kali aku bertanya menyangkut hal ini pada papa dan mama, mereka selalu memarahiku. Bahkan pernah sekali, aku di tampar mama hanya karena aku menanyakan hal ini padanya. Untungnya tulang tengkorak ku tidak sampai hancur seperti pintu kamar kak Dean."


"Aku semakin takut. Apalagi jumlah korbannya yang semakin banyak, membuatku was-was. Bagaimana kalau selanjutnya adalah aku? Atau bagaimana kalau selama ini ternyata aku di awasi oleh mereka? Aku bahkan tidak berani untuk pergi keluar, bahkan hanya untuk sekolah saja rasanya sangat menakutkan. Dunia luar terasa asing bagiku."


"Belum lagi sikap mama dan papa yang semakin mencurigakan, membuat aku semakin takut. Semenjak terakhir kali aku bertanya pada mereka, sejak saat itu aku tidak di perbolehkan untuk keluar rumah. Memang ada bagusnya untukku karena dengan begitu aku bisa sedikit tenang, tapi ternyata semuanya tidak berakhir sampai di sana. Karena semenjak itu juga, mama dan papa jadi lebih sering mengawasi ku. Menanyakan setiap kegiatan yang aku lakukan, dan terkadang diam-diam mengintip di luar kamar setiap kali aku hendak pergi tidur. Segala alat komunikasi ku di tutup. Telpon rumah di kamarku di putus, dan aku di larang menggunakan komputer kecuali dengan di awasi oleh mereka. Itu membuatku kurang nyaman, tapi setiap kali aku bilang, aku membutuhkan ruang untuk gerak. Setiap kali itu juga, tatapan mama dan papa mengisyaratkan seakan-akan melarang ku untuk berbicara seperti itu. Akhirnya lagi-lagi hanya disini aku merasa aman, hanya disini aku merasa bahwa aku bisa menceritakan semuanya secara bebas."


"Kalau saja ada kak Dean di sini, mungkin aku bisa berbicara padanya mengenai apa yang terjadi dan mengenai apa yang menjadi keresahan ku selama ini. Pasti akan jauh lebih baik kalau ada seseorang yang mampu merespon setiap kalimatku dengan baik."


Titik. Seretha menaruh pensil di tangannya begitu ia selesai menuliskan semua hal yang ada dalam pikirannya. Seretha menutup buku di tangannya, memeluk buku itu kemudian merebahkan tubuhnya dalam posisi kepala menengadah menatap langit-langit ruang rahasianya.

__ADS_1


"Setidaknya hanya di sini aku merasa aman," gumam Seretha pelan.


*


Pria itu membuka kedua matanya setelah berkunjung sebentar ke dunia mimpi yang telah di ciptakan oleh Azura. Pria itu menatap Azura di hadapannya.


"Kau ingat wajahnya kan?" Tanya Azura padanya.


"Ya tuan. Semuanya telah terekam dalam chip yang terpasang pada otakku," tuturnya.


"Sekarang kau awasi dan cari mereka. Ingat untuk awasi setiap chip yang terpasang dengan sinyal kita. Aku tidak ingin mereka sampai lolos lagi!"


"Sekarang lanjutkan. Jika kau menemukan mereka, segera hubungi aku."


"Baik," tuturnya.


Azura beranjak dari tempatnya. Melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut meninggalkan pria itu mengurus sisanya.


*

__ADS_1


Dean terus melangkah hingga dirinya tiba di pintu samping rumah yang langsung menghadap ke arah taman. Di sana ia berhenti sejenak, mendongak menatap denah rumah yang ada di dinding.


"Kalau aku berjalan keluar dari sini dan melewati taman, maka aku akan menemukan sebuah pintu yang akan langsung membawaku keluar dari sini dan pergi menuju statio terdekat. Dan setelah itu aku bisa mencari jadwal statio yang mengarah ke rumah," gumam Dean seraya menatap denah rumah itu lekat.


Fokusnya beralih menatap keluar rumah. Di hadapannya ia sudah dapat melihat taman yang di lihatnya dalam denah yang ada di hadapannya. Ia kembali beralih pandang. Dean menoleh ke belakang, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kosong. Hanya ada dirinya di sana. Tidak, lebih tempatnya Dean hanya tidak sadar kalau sejak tadi teman-temannya mengikuti dirinya dari belakang sana. Dean menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Rei, Elvina, William. Aku harus melanggar aturan yang kalian buat. Dan maaf juga teman-teman… aku harus meninggalkan kalian sebentar di sini. Tapi tenang saja, aku akan segera kembali. Secepatnya. Sebelum kalian sadar kalau aku pergi untuk mencari jawaban yang kita cari. Aku akan segera kembali. Tunggu aku," gumam Dean pelan. Amat pelan bagai bisikkan. Sejurus berikutnya, Dean beranjak keluar dari dalam rumah. Melewati pintu samping dan berjalan menghampiri taman.


Dean berjalan memasuki taman yang di bentuk menyerupai labirin, berjalan terus hingga ia bisa menemukan pintu keluar.


Di sisi lain, di belakang nya. Taz, Nero, Marko, dan Vicenzo mengikuti Dean secara diam-diam dari arah belakang. Berjalan mengendap-endap agar Dean yang mereka ikuti tidak sadar kalau mereka mengikutinya dari belakang.


"Bukankah kita tidak boleh keluar? Kenapa Dean keluar?" Marko bergumam pelan.


"Memang benar kita tidak boleh keluar, dan kita juga tidak tahu dia akan pergi kemana. Tapi yang pasti kita tidak boleh membiarkan Dean pergi seorang diri, apalagi dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka kalau-kalau mereka datang dan menculiknya," sahut Vicenzo.


"Kau benar, kita harus mengikuti nya." Taz menimpali.


"Tapi apakah tidak lebih baik kita minta bantuan Rei? Bagaimana kalau mereka mencari kita?" Tanya Marko yang seketika membuat teman-temannya menoleh serentak.

__ADS_1


***


__ADS_2