Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 94


__ADS_3

...***...


"Ini benar-benar sangat tepat. Di saat kita kehilangan rute perjalanan mereka di saat itu pula Dean mulai mengingat memori otaknya secara perlahan," gumam Elvina yang merasa senang. Saat ini dirinya tengah berada di ruang tempat biasa mereka berkumpul mendiskusikan mengenai rencana mereka menemukan pulau yang mereka cari. Di sana Elvina hanya di temani oleh William dan Rei yang kini tengah duduk bersama memandangi peta yang tergelar di atas meja dengan di penuhi tanda di beberapa titik dalam peta itu.


"Benar. Semuanya berada pada waktu yang pas," sahut William.


"Tapi walaupun dalam waktu yang pas bukan berarti masalah kita selesai sampai disini. Karena Dean hanya mengingat sebagian kecil ingatan dari memori otaknya yang sempat hilang," gumam Rei yang membuat kedua sepupunya itu spontan menoleh ke arah dirinya di sana.


"Kau benar. Masalah kita belum selesai," Elvina membenarkan.


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Kita masih harus menunggu Dean mengingat secara utuh mengenai ingatannya yang sempat hilang dari memori otaknya. Karena dengan begitu, kita bisa menemukan tempat yang kita cari dan kita bisa menemukan titik temu dari masalah yang tengah kita hadapi ini," tutur Rei.


"Andai saja saat itu kita tidak kehilangan jejak mereka," gumam Elvina seraya memandangi peta yang ada di hadapan mereka.


"Menurut kalian kemana mereka pergi dari pelabuhan itu?" Tanya William sembari menatap titik yang mereka tandai di bagian pelabuhan dalam peta tersebut.


"Itu juga yang masih menjadi tanda tanya bagi kita, karena kau tahu sendiri kan, saat kita mengikuti mereka… kapal mereka tiba-tiba hilang entah kemana." Elvina menyahut.


"Ya, benar juga…"


KRIEETTTT…


Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka membuat atensi mereka seketika beralih menatap ke arah pintu masuk. Di sana mereka mendapati Dean dan keempat sahabatnya yang kini tengah berdiri di ambang pintu masuk sembari menatap ke arah mereka.


"Dean?" Gumam Rei.


"Ada apa kalian kemari?" Tanya Elvina. Setahu mereka tadi Dean dan keempat sahabatnya bilang kalau mereka akan mandi, sementara sebagian nya hendak menonton film.


"Kami kemari hanya ingin bertanya, mengenai yang kalian lakukan seharian ini," tutur Dean seraya melangkah menghampiri mereka yang saat ini duduk di sana.

__ADS_1


"Maksudmu adalah mengenai pengintaian kami?" William memperjelas.


"Iya," sahut Dean.


"Huh? Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Marko yang dalam sekejap menyita perhatian mereka. Marko menatap ke arah meja yang di tempati oleh Rei, Elvina, dan William yang kini di penuhi oleh beberapa barang dan di tengah-tengah mereka terdapat sebuah peta yang telah mereka tandai.


"Kami sedang memikirkan cara lain untuk bisa menyelesaikan masalah kami," tutur William menjelaskan.


"Masalah apa yang kalian maksud?" Tanya Vicenzo.


"Duduklah, kami akan menjelaskan semuanya," ujar Rei mempersilahkan. Di sana sudah ada kursi sejumlah orang di dalam sana, dan mereka lantas duduk di masing-masing kursi yang tersedia di sana.


"Peta?" Nero menatap benda yang tergelar di tengah-tengah meja.


"Bukankah ini peta Indonesia?" Taz memandangi peta di hadapannya.


"Iya. Kau benar, ini memang peta Indonesia," sahut William.


"Biar aku jelaskan dari awal. Ini adalah peta berisi rute perjalanan kemana mereka akan pergi membawa para evolver yang mereka culik itu."


"Maksudnya kalian tahu kemana mereka membawanya?" Tanya Nero memastikan.


"Tidak, lebih tepatnya kami tahu dimana saja mereka bergerak." Elvina memperjelas.


"Benar. Dan titik-titik ini adalah tanda dari pergerakan mereka. Biasanya mereka berpencar dan melakukan penyergapan secara bertahap dari kota yang satu ke kota yang lain. Maka dari itu kami membuat semua titik ini sebagai penandanya."


"Begitu, lalu kenapa kalian tidak beritahu kami sejak awal?" Kata Taz.


"Ya, dan kenapa kalian tidak mengikuti rute ini sejak awal? Bukankah dengan begitu kalian akan langsung menemukan tempat yang kita cari itu berada?" Vicenzo menimpali.


"Kami memang memiliki rutenya, tapi kami tidak tahu kemana tujuan mereka. Karena saat kami bergerak mengikuti rute ini, kami kehilangan jejak mereka," jelas Rei.

__ADS_1


"A-ah, begitu ternyata…" gumam Nero.


"Iya. Dan lagi inilah yang menjadi masalah kita. Kita kehilangan jejak mereka kerena tampaknya mereka mengubah rute perjalanan mereka tidak seperti beberapa tahun yang lalu, karena mungkin saja mereka sadar kami mengikuti dari belakang dan mereka hampir kami tangkap."


"Apa? Lalu, bagaimana sekarang?" Tanya Taz.


"Kalian tidak mungkin diam saja kan?" Vicenzo memastikan.


"Tentu tidak," sahut William.


"Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Dean.


"Kau adalah satu-satunya cara yang kami miliki Dean," ucap Rei yang membuat Dean mengerutkan keningnya bingung.


"Aku?"


"Ng." Rei menganggukkan kepalanya. "Karena satu-satunya kunci yang saat ini kami miliki adalah dirimu."


"Tapi bagaimana caranya aku bisa menuntun kalian menuju tempat yang benar? Aku saja bahkan tidak tahu apa-apa mengenai semua ini," gumam Dean ragu. Ia menunduk. Kedua matanya menatap lekat peta yang kini berada di hadapannya. Sebuah peta yang menggambarkan Indonesia dan beberapa wilayah negara lain yang bertetangga dengannya.


"Kau bisa mengantar kami, asalkan kau percaya pada dirimu sendiri kalau kau memiliki kekuatan. Kekuatan yang tidak di miliki oleh orang lain dan hanya di miliki oleh dirimu saja!" Elvina berusaha membuat Dean mengerti.


"Tapi bagaimana aku bisa percaya sedangkan aku sendiri tidak tahu kekuatan apa yang aku miliki. Lagipula, kalaupun aku memiliki kekuatan, lalu kenapa tidak sejak awal aku mengetahui kekuatan ku?"


"Dengar! Keajaiban, dan kekuatan muncul dari dalam hatimu. Dan satu-satunya hal yang mampu membangkitkan nya adalah sebuah kepercayaan! Maka dari itu, kau harus percaya bahwa kau memiliki kekuatan. Agar dengan begitu secara perlahan, kekuatan yang terpendam, tertidur lelap dalam dirimu, perlahan bisa bangkit dan muncul untuk membantu mu. Membantu kita semua." William menimpali.


Dean terdiam, ia berusaha untuk memproses setiap kalimat yang baru saja di lontarkan oleh William padanya.


"Apa yang di katakan Will itu benar. Keajaiban dan kekuatan pada dasarnya muncul pada kepercayaan seseorang. Saat kau memutuskan untuk percaya bahwa keajaiban itu ada dan saat kau percaya bahwa kau memiliki kekuatan, maka di saat itulah secara perlahan kekuatan yang kau miliki itu akan bangkit dan akan muncul mengiringi langkahmu. Kuncinya hanyalah kepercayaan, semakin kau percaya maka semakin cepat juga kekuatan itu akan bangkit dari dalam dirimu," ujar Rei membenarkan. Dean mendongak menatapnya disana, entah apa yang harus ia ucapkan sekarang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2