
***
KLANG!!!
Peluru itu tak sempat mengenai mereka. Nero sudah lebih dulu berhasil menahan nya dengan menciptakan sebuah tameng dari besi yang ia cair kan dengan kemampuan nya mengubah bentuk benda. Vicenzo dan beberapa pria itu terkejut, melongo menatap ke arah Nero. Sementara itu, Nero bergegas bangun; menarik tangan Vicenzo dan mulai kembali berlari. Bersamaan dengan ia yang melangkah, besi itu kembali mencair.
"A-apa itu tadi?" Pria berjas itu menatap ke arah rekan nya. Satu pria berjalan menghampiri besi cair di sana kemudian berjongkok dan meraih besi cair itu, mengusap nya dengan tangan nya.
"Evolver pengubah bentuk benda," gumam nya. Pria yang tadi bertanya menatap ke arah nya dengan penuh tanya. Baru pertama kali ia mendengar kemampuan evolver milik anak remaja itu.
"Pengubahan bentuk benda?" Beo nya.
"Iya. Dia bisa mengubah bentuk-bentuk benda sesuai dengan apa yang ia pikir kan dan yang ia ingin kan," jelas nya.
"Aku baru pertama kali mendengar nya."
"Ya, karena ini adalah kemampuan langkah yang hanya di miliki oleh segelintir orang saja. Biasa nya, orang dengan kemampuan seperti ini adalah keturunan dengan darah campuran."
"Darah campuran?" Ulang nya. Pria itu mengangguk, tangan nya kemudian mencium besi cair yang menempel pada tangan nya.
"Pasti salah satu orang tua nya, berasal dari Norwegia."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya nya. Pria itu mengeluar kan seringai nya.
__ADS_1
"Kita tangkap dan bawa dia, prof pasti akan sangat senang dengan tangkapan kita," gumam nya.
*
"Kalian dengar itu?" Gumam pria yang berdiri di sana. Bersebelahan dengan seorang wanita yang usia nya lebih tua dari nya, dan satu lelaki lain yang usia nya jauh lebih muda dari nya. Kedua manik mata mereka bertiga tertuju pada beberapa pria di bawah yang tengah membicara kan mengenai Nero dan Vicenzo.
"Sangat jelas," sahut wanita itu. Wanita itu tampak cantik dengan rambut sedikit ikal yang di ikat satu ke belakang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Yang termuda bertanya.
"Kita ubah rencana. Kita harus bantu kedua remaja itu," gumam yang sedikit lebih tua, membuat pria dan wanita di samping nya itu menoleh serentak ke arah sosok nya. Tiga orang itu memakai jubah dengan warna hitam yang sama namun dengan garis warna dan corak yang berbeda. Satu pria yang usia nya lebih muda memakai jubah hitam dengan corak dan garis berwarna hijau, satu pria yang sedikit lebih dewasa memakai jubah hitam dengan corak dan garis warna biru, dan satu-satu nya wanita yang paling dewasa di antara mereka; memakai jubah hitam dengan corak dan garis warna berwarna merah muda.
"Membantu mereka? Tapi kenapa kita harus membantu mereka?" Wanita itu bertanya, sebelah alis nya terangkat. Menatap si biru dengan raut wajah bingung. Si biru menoleh ke arah kedua rekan nya yang lain dengan tatapan mata yang benar-benar serius.
"Huh? Benarkah? Apakah kau yakin?" Si hijau tampak tidak percaya.
"Iya. Dua remaja itu, dan tiga sahabat nya. Adalah orang yang akan bisa membantu kita memecahkan setiap teka-teki yang ada."
"Apakah ini ada hubungan nya dengan ramalan mimpi mu?" Tebak si merah muda. Si biru hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Maka dari itu, kita tidak boleh membiarkan mereka menangkap kedua nya," si biru beralih pandang menatap ke arah beberapa orang pria berjas hitam di bawah nya.
"Lihat! Mereka bergerak!" Si hijau berucap seraya menunjuk beberapa pria tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita pergi. Kita harus tiba lebih dulu sebelum mereka!" Si biru bergerak dari tempat nya, ia lantas menghentak kan sebelah kaki nya satu kali, dan dalam satu hentak kan itu; tubuh nya seketika melayang di udara. Ia lantas melompat ke gedung lain di sebelah gedung yang semula mereka tempati. Sementara itu dua rekan nya yang lain harus bergerak cukup perlahan, melakukan parkour agar bisa tiba di gedung berikut nya. Mereka bertiga lantas berusaha mengejar dua orang remaja yang semula mereka temukan saat mereka tengah mengintai pergerakan kelompok pria berjas tadi.
*
Semakin lama mereka berlari, semakin energi yang mereka miliki terkuras habis. Sudah lama mereka berlari dan tanpa sadar; mereka semakin tersesat di antara gang-gang kecil nan kumuh itu. Vicenzo yang berlari di belakang Nero, perlahan mulai merasa jika kaki nya sudah tidak kuat untuk menahan tubuh nya lagi. Keringat terus mengucur di tubuh nya, dan bersamaan dengan itu kepala nya mulai terasa pening. Pandangan nya perlahan mengabur, dan pendengaran nya mulai tidak bisa mendengar dengan terlalu jelas keadaan di sekitar nya.
BRUKKKK!!!
Vicenzo tersungkur jatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri di belakang Nero. Menyadari hal itu; Nero spontan berhenti berlari.
"Vice!" Nero berlari menghampiri nya. Ia berusaha menyadar kan Vicenzo namun pria albino itu benar-benar kehilangan kesadaran nya. "Astaga, energi nya benar-benar terkuras habis," gumam Nero ketika sadar jika Vicenzo kehilangan banyak energi nya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Orang-orang di belakang sana terus belari, dan mereka semakin dekat," Nero mulai merasa panik. Apalagi ketika mengingat jika ia tidak bisa menggunakan kemampuan nya untuk saat ini, karena energi nya hanya tinggal sedikit; sangat sedikit dan bahkan hanya bisa ia gunakan untuk mengatur napas nya yang tersengal.
"Vice! Bangun!" Nero masih berusaha membangunkannya. Namun tidak lama, beberapa pria tadi sudah berada di tempat mereka berada saat ini.
"Berhenti main-main!" Satu pria disana bertutur yang sontak membuat Nero terkejut dan mendongak spontan menatap kearahnya. Nero semakin resah.
"Lebih baik kau menyerah, dan ikut dengan kami," pria lain berucap seraya berusaha mengatur napas nya yang terengah-engah. Mereka lantas melangkah menghampiri Nero yang tengah terduduk di tanah bersemen disana, tengah berusaha menyadar kan Vicenzo yang pingsan akibat kehilangan energinya.
"Saatnya mengakhiri ini semua," satu pria berujar; menaikkan satu tangan nya, bersiap untuk menembaknya dengan peluru yang sama yang semula mereka pakai untuk melumpuhkan gadis yang Nero dan Vicenzo lihat. Pria itu bersiap untuk menembaknya. Hanya dalam hitungan detik dan, benda itu melesat cepat keluar dari dalam jamnya. Melesat mengarah pada Nero disana.
"Gawat! Bagaimana ini!" Nero was-was, namun ketika peluru itu hampir mengenainya; secara tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah gelombang yang tiba-tiba melindungi dirinya dan Vicenzo.
__ADS_1
***