Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 86


__ADS_3

...***...


Dean terdiam, ia masih berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah dan jantungnya yang masih berdegup kencang.


"Dean, apakah kau bermimpi lagi?" Tanya Nero yang tampak cemas.


"Lagi?" Vicenzo mengerutkan keningnya membuat Nero menoleh ke arah Vicenzo di sana.


"Apa maksudmu dengan ‘Lagi’? Apakah Dean sebelumnya pernah mengalami hal seperti ini?"


"Iya. Beberapa kali, bahkan hampir setiap hari Dean memimpikan hal yang sama. Mungkin… hanya kemarin saja dia tidak bermimpi."


"Benarkah?"


"Iya."


"Memangnya mimpi apa yang sampai membuatmu terus teringat dan memimpikan nya?"


"Dean juga tidak bisa mengingatnya, karena setiap kali Dean terbangun dia akan langsung melupakan isi dari mimpi yang di alaminya. Bahkan setiap kali aku bertanya mimpi apa yang di alaminya, Dean selalu berkata kalau dia tidak bisa mengingatnya. Sampai saat ini, aku juga penasaran dengan mimpi apa yang di alami oleh Dean."


"Benarkah? Tapi mengapa bisa begitu?" Marko tampak tertarik dengan yang di alami oleh Dean itu.


"Benar, kenapa bisa begitu?" Taz menimpali.


"Aku tidak tahu, mungkin saja. Karena mimpi yang di alaminya hanya tersimpan dalam memori otak jangka pendeknya, maka dari itu saat Dean terbangun. Dia tidak bisa mengingat mimpinya dengan jelas," Nero beralih menatap Dean yang masih terdiam.


"Kau baik-baik saja Dean?" Vicenzo memastikan. Ia kemudian mengambil duduk di tepi ranjangnya, menepuk pelan pundak pria yang menjadi sahabatnya sejak kelas sepuluh itu.


"Yeah… aku baik-baik saja," gumam Dean dengan suara pelan disertai anggukan kepala.

__ADS_1


"Apakah kau bisa mengingat mimpimu sekarang?" Tanya Nero pada Dean.


"Tidak," ujar Dean seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Aku masih tidak bisa mengingatnya. Tapi yang pasti, aku bisa merasakannya dengan jelas. Yang aku ingat hanya perasaan yang aku alami saat mengalami mimpi itu. Perasaan nya sama, dan hal itu membuatku yakin bahwa mimpi itu adalah mimpi yang sama. Tapi aku tidak ingat apa isi mimpinya," gumam Dean yang bisa di dengar dengan jelas oleh teman-temannya.


"Tidak apa-apa jika kau tidak mengingatnya. Yang terpenting sekarang lebih baik kau tidur. Kita sudah mengalami hari yang panjang hari ini, dan kita harus istirahat untuk memulihkan semua energi kita agar ketika kita bangun besok, kita menjadi lebih segar," tutur Vicenzo yang kemudian beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Benar apa yang di ucapkan Vice. Kita harus istirahat, dan begitu pula dengan dirimu. Sekarang lebih baik kau kembali tidur, dan mengenai mimpimu ada baiknya kalau kita tanya pada Rei. Siapa tahu dia mengetahui sesuatu tentang mimpi yang kau alami ini," kata Taz.


"Ya. Aku setuju," sahut Marko di atas sana.


"Baiklah," sahut Dean.


"Kalau begitu selamat malam," Nero beranjak naik ke atas ranjang tidurnya.


"Ya, selamat malam," kata Dean yang kemudian membenahi ranjang tidurnya, begitu pula dengan Taz dan Marko yang kini tengah bersiap untuk kembali tidur.


Hening seketika menyelimuti malamnya. Dean terdiam, setelah mimpinya itu. Ia tidak bisa lagi tertidur, sekarang Dean kini hanya berbaring seraya menatap ke arah ranjang yang di tempati oleh Nero di atas sana.


...*...


"Sebenarnya kita akan pergi kemana?! Kenapa kau tidak jelaskan kita akan pergi kemana sejak awal?" Gerutunya kesal saat sejak awal pertanyaannya tak di jawab oleh wanita yang kini berjalan disampingnya. Wanita itu mengenakan tank top berwarna putih yang di balut dengan sebuah rompi berwarna hijau army dengan celana panjang yang serupa dan tak lupa di lengkapi dengan boot heels yang mirip seperti sepatu yang di kenakan olehnya sebelum mereka berangkat sejauh ini.


Rambut panjang nya senantiasa terikat satu ke belakang, dan tas backpack besar masih terus terpasang di punggung sempitnya.


"Sudah aku bilang, kalau kau tidak usah ikut. Lagipula ini tidak ada hubungannya denganmu!" Tukas wanita itu kesal seraya terus melangkah.


"Oh ayolah, setidaknya beritahu aku kemana kita akan pergi? Kau lihat? Aku saja bahkan harus membeli pakaian dan beberapa barang lain hanya agar aku bisa berbicara denganmu! Bahkan sudah dua hari aku tidak pulang ke rumah!" Gerutu Trish.


Tessa yang semula berjalan seketika terdiam dan menatap kearahnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Dengar! Sejak awal aku memang tidak ingin berbicara denganmu! Lalu aku juga tidak memintamu untuk ikut dalam perjalanan ku. Bukankah kau sendiri yang memaksa untuk ikut? Lalu kenapa kau terus menggerutu?! Asal kau tahu saja, omong kosong dan ocehan tak berguna darimu itu benar-benar mengganggu perjalanan ku. Bahkan aku sampai tidak bisa fokus mengintai mereka!" Tukasnya kesal.


Trish tertegun, ia menatap Tessa dengan raut wajah terkejut. Mulutnya seketika diam membisu tanpa kata-kata, dan matanya membulat, menatap pada sosok Tessa.


"Sekarang lebih baik kau diam agar aku bisa fokus mengintai mereka! Jika kau terus menggerutu dan mengganggu perjalananku, lebih baik kau pulang! Kau hanya membuang-buang waktuku saja!" Tessa berbalik, berjalan dengan cepat meninggalkan Trish yang kini diam terpaku ditempatnya.


"Entah mengapa aku baru sadar kalau dia itu cantik," Trish bergumam. Matanya menatap sosok Tessa yang terus melangkah menjauh dari posisinya saat ini berada.


"Argh, aku ini berbicara apa?! Wanita galak seperti dia mana ada cantik-cantik nya?! Sepertinya penglihatan ku mulai buruk, setelah ini aku harus pergi ke dokter mata untuk periksa," gumamnya pelan. Ia menolong dengan dirinya sendiri. Namun fokus nya seketika tersita saat otaknya baru saja menangkap kalimat ganjil yang baru saja di lontarkan oleh Tessa.


"Tunggu, apa dia bilang tadi? Mengintai? Memangnya siapa yang sejak awal kita intai?" Trish mengerutkan keningnya bingung.


"Aku harus tanyakan padanya!" Batinnya. Trish bergegas berlari mengejar Tessa yang kini sudah hampir menghilang dari Pandangan nya.


"Hey! Tunggu aku!" Teriaknya seraya terus berlari mengejar Tessa.


"Sudahlah lebih baik kau pulang, jangan mengganggu misi ku!" Teriak Tessa tanpa menoleh.


"Tunggu, ada yang ingin aku tanyakan!"


"Aku tidak mau mendengarnya!"


"Apa maksudmu dari mengintai? Memangnya siapa yang sedang kita intai?"


"Lupakan saja! Kau hanya salah dengar!"


"Tidak mungkin! Jelas-jelas aku mendengarnya!"


"Sudah aku bilang kau hanya salah dengar!" Teriak Tessa sembari terus berjalan dengan di kejar Trish dari belakang.

__ADS_1


Sudah dua hari berlalu, dan selama dua hari itu; mereka telah menghabiskan waktu bersama menyusuri jalan menuju entah kemana, Trish tidak tahu.


...***...


__ADS_2