
...***...
"Dengarkan aku! Aku memang sudah menikah, tapi itu terjadi di kehidupanku yang sebelumnya! Kalian mengerti?" Elvina memperjelas.
"H-huh? Maksudmu dengan kehidupan sebelumnya?" Marko tak mengerti.
"Kehidupan sebelum aku terlahir kembali!"
"Huh?" Mereka berempat serentak mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Oh, aku mengerti!" Sahut Nero di sana.
"Kau mengerti apa maksud dari perkataan Elvina?" Tanya Taz.
"Iya. Ini adalah sistem reinkarnasi."
"Reinkarnasi??" Beo Marko.
"Iya. Ketika seseorang meninggal pada tahun tertentu, ada yang percaya jika mereka akan memiliki kesempatan untuk hidup setelah beratus-ratus tahun kemudian. Ia akan terlahir kembali dengan takdir baru dan dengan identitas baru," jelas Nero.
"Benarkah hal semacam itu ada?" Tanya Dean.
"Ada. Dan kami adalah contohnya," kata Rei.
"Huh?"
"Kami adalah orang-orang yang telah bereinkarnasi."
"Benarkah? Aku tidak menyangka jika hal seperti ini ternyata memang benar-benar ada," gumam Nero.
__ADS_1
"Iya. Di kehidupan sebelumnya kami terlahir sebagai sepupu yang dekat satu sama lain, dan beruntung di kehidupan kami kali ini juga kami di takdirkan sebagai sepupu," tutur Rei.
"Ah, begitu rupanya," Marko mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi bagaimana kalian bisa mengingat kehidupan kalian sebelumnya? Bukankah seseorang yang telah bereinkarnasi seharusnya ingatan kalian baru, dan kalian tidak memiliki ingatan tentang kehidupan kalian di masa lalu?" Nero mengerutkan keningnya.
"Itu karena Rei di pertemukan dengan seseorang dari masa lalu. Seseorang yang memberikan kami petunjuk bahwa kami harus melindungi kalian dan memastikan kalian aman bersama kami sampai kalian membantu kami menemukan tempat dari titik temu masalah ini berada," jelas William.
"Huh? Benarkah?"
"Iya. Maka dari itu, Elvina bisa mengingat bahwa dia pernah menikah dan hidup bahagia dengan kekasihnya dulu," William menoleh ke arah Elvina.
"Ya kau benar. Omong-omong, membicarakan hal ini membuatku rindu padanya," gumam Elvina yang tersenyum dengan wajah yang tersipu. Ia lantas sedikit menunduk, menyembunyikan wajahnya. "Aku jadi penasaran dimana dia sekarang? Apakah di London bersama Lucy? Ataukah di Paris? Apakah dia masih menjadi sepupu Lucy? Aku jadi ingin bertemu dengannya," gumam Elvina lagi.
"London? Paris?" Ulang Vicenzo di sana yang masih bingung dengan siapa sebenarnya sosok Lucy yang mereka bicarakan.
"Oh ya, aku jadi bicara kemana-mana. Jadi, tadi kalian bertanya tentang Lucy kan?" Elvina mendongak menatap mereka.
"Lucy adalah kakak sepupu dari suamiku di kehidupan sebelumnya yaitu Leon. Papa mereka adalah lelaki kelahiran Paris, Prancis dan papa mereka adalah kakak beradik. Papanya Lucy adalah kakak dari papanya Leon, dia menikah dengan wanita kelahiran London, Inggris. Sementara papanya Leon, menikah dengan wanita kelahiran Jakarta, Indonesia. Saat usia mereka lima tahun, Lucy dan Leon yang awalnya tinggal di Paris akhirnya berpisah. Lucy tinggal di Inggris sementara Leon tinggal di Indonesia. Dan sejak pertemuan natal terakhir mereka di usia ke delapan tahun, mereka tidak pernah bertemu lagi. Apalagi saat itu adalah natal terakhir mereka bersama dengan kakek dan neneknya di Paris. Hingga kemudian, mereka tumbuh dewasa dan di pertemukan kembali saat mereka sudah sama-sama sukses," jelas Elvina yang kembali terdiam sesaat mengambil jeda sejenak.
"Lalu apa hubungannya Lucy dengan si pengendali kabut mimpi itu?"
"Leon dulu adalah seorang CEO di kantor tempatku bekerja, sementara Lucy adalah seorang Agent mata-mata yang bekerja di bawah naungan SGLS Agent, sebuah sindikat rahasia London yang bergerak dalam memberantas kejahatan."
"W-woah? Benarkah itu? Dia seorang mata-mata?" Marko di buat terkejut di sana. Begitu pula dengan teman-teman nya yang lain.
"Iya. Dan saat setelah pertemuan kami yang pertama kali, Lucy akhirnya menikah dengan kekasihnya, Felix. Yang sama-sama orang Inggris. Kemudian aku dan Lucy di pertemukan kembali saat aku memiliki projects kerja dengan salah satu klien kami yang berasal dari Korea. Saat itu aku dan Leon harus terbang ke Korea untuk mengurus pekerjaan, dan di sana kami bertemu dengan Lucy dan Felix yang tengah menikmati bulan madu mereka. Tapi di luar dugaan ternyata Lucy memilih Korea sebagai tempat bulan madunya bukan semata-mata karena ingin menikmati keindahan di negeri ginseng tersebut. Melainkan Lucy memiliki misi untuk menangkap salah satu orang penjahat yang mana merupakan komplotan dari musuhnya yang dulu," jelas Elvina.
"Benar. Dan di saat itulah Lucy tahu bahwa targetnya saat itu menjalin kontrak dengan sebuah makhluk bernama Eoduksini," Rei menimpali yang berhasil membuat fokus mereka seketika beralih menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Eoduksini?" Beo Nero di sana.
"Iya. Eoduksini adalah wujud asli dari si pengendali kabut mimpi. Eoduksini merupakan wujud awal sebelum ia bereinkarnasi menjadi pria yang kau temui."
"A-ah, begitu rupanya. Pantas saja Elvina bilang jika kau pernah terjebak dalam dunianya juga."
"Iya. Dan saat itulah terjadi. Saat Elvina memiliki pekerjaan di Korea dan bertemu dengan Lucy di sana. Ketika itu aku mendapatkan sebuah ramalan yang mana dalam ramalan itu, aku melihat Elvina hampir tertangkap oleh Eoduksini. Maka dari itu aku menyusulnya ke Korea untuk mencegah semua itu terjadi. Aku berhasil mencegah Elvina agar tidak masuk ke dalam perangkapnya, tapi yang terjadi justru malah aku dan Lucy yang tertangkap. Dan selebihnya kami mengalami hal yang sama dengan apa yang kau alami, Nero." Rei menoleh ke arah Nero di sampingnya.
"O-ooh… begitu rupanya."
"Aku bahkan sudah melupakan banyak memori ketika aku terjebak di dalam sana. Tapi beruntung saat itu, Louis datang dan menyadarkan aku. Dia yang telah membuatku sadar bahwa dunia yang aku tempati saat itu adalah ilusi. Begitu aku sadar, aku segera meminta Louis untuk membawaku membantu Lucy untuk sama-sama keluar dari dalam sana, dan dengan kerja sama. Akhirnya kami bisa keluar dari dalam sana," jelas Rei.
"Aku mengerti sekarang," gumam Nero mewakili teman-temannya yang lain.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika ini semua akan ada kaitannya dengan kehidupan kalian di masa lalu," gumam Marko di sana yang masih tak menyangka dengan penjelasan yang baru saja di dengarnya dari Elvina dan Rei.
"Ini masih belum apa-apa. Karena akan ada hal yang lebih membuat kalian terkejut dan tidak percaya dengan apa yang akan kalian alami ke depannya," tutur Rei.
"Maksudmu?" Vicenzo tak mengerti.
"Kalian akan tahu saat Dean mulai bergerak menuntun kita menuju tempat yang kita tuju."
"Aku?" Dean menatap ke arah Rei dengan raut wajah terkejut.
"Iya, kau."
"Kenapa aku?"
"Karena kau adalah kunci untuk kami menemukan kebenaran."
__ADS_1
...***...