
...***...
"ARRGGGHH!!!" Pria itu memekik keras. Ia mulai bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tangannya tidak berhenti memukul-mukul area dimana kobaran api itu berada.
"Tuan muda!" Dua pria yang semula memegangi Nero lantas mulai bergerak berusaha untuk membantunya memadamkan api, tapi sialnya api itu tak kunjung padam.
Rei memejamkan matanya sekilas kemudian membukanya lagi, membuat pupil matanya kembali berubah seperti semula.
"Ini adalah waktu yang tepat untuk aku membawa Nero pergi," batinnya. Ia lantas menggerakkan tangannya, membentuk sebuah gesture menyapu udara dan bersamaan dengan itu, sosok Nero lenyap dari sana.
"Sekarang aku juga harus pergi dari sini. Terlalu banyak menghirup kabut ini bisa-bisa membuatku masuk ke dalam perangkapnya," Rei menghentakkan sebelah kakinya yang secara spontan membuatnya melayang di udara dan bergegas ia pergi dari sana.
...*...
"Elvina!" Mereka semakin cemas melihat Elvina yang masih tersungkur disana. Sementara itu, pria di sana mulai bergerak mendekat bersama rekannya.
"Tamatlah kau," pria itu berujar. Seraya terus melangkah menghampiri Elvina disana. Dean serta temannya semakin khawatir.
"Tidak semudah itu," balasnya yang sontak membuat semua orang yang melihatnya itu terkejut.
"Elvina… dia masih bertahan," Marko kegirangan di sana. Senyuman merekah pada wajahnya.
"Hebat," Dean bergumam pelan.
"Luar biasa," Taz menimpali. Sementara itu, Vicenzo hanya diam tanpa berkomentar saking terkejutnya.
"A-aku… tidak a-akan… semudah itu, u-untuk… kau kalahkan," Elvina dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Ia memegangi sebelah tangannya yang terasa sakit akibat hantaman yang cukup keras dengan beberapa benda asing di tanah yang di pijaknya. Sebelah sudut bibirnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Elvina mengelapnya dengan sebelah tangannya.
Ia menatap ke arah beberapa pria itu dengan tatapan tajam, sementara yang di tatapnya malah balik memandang dengan raut wajah terkejut.
"Bagaimana mungkin dia masih bisa bertahan?" Satu pria di sana berucap dengan raut wajah terkejut.
__ADS_1
"Ternyata kau memang bukan wanita biasa yang bisa kami remehkan," pria dengan kemampuan petir yang baru saja menyerangnya itu berbicara.
"Sudah aku bilang, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh mereka sedikitpun. Seharusnya sejak awal kalian sadar, jika ucapanku tidak main-main," Elvina menjawab.
"Kau memang luar biasa. Tapi apakah kau mampu untuk menahan kekuatan ku yang satu ini!" Pria itu menggerakkan tangannya, membuat beberapa petir yang seketika bermunculan itu mulai bergerak menyerang Elvina di sana.
Elvina tidak tinggal diam, dengan sisa tenaga yang ia miliki; ia segera menciptakan sebuah perisai dengan kekuatan medan gaya miliknya.
Sementara Elvina masih sibuk melawan kedua pria di sana, beda halnya dengan Rei dan William yang masih melawan beberapa pria lain.
William di sudut lain tampak kewalahan menghadapi dua pria yang di lawannya sejak tadi.
BRUGH!
Pria itu tersungkur jatuh kala dua orang lelaki di hadapannya itu menyerang secara bersamaan. Mendengar suara itu, spontan membuat Dean dan ketiga sahabatnya beralih pandang pada William di sana.
"William!" Marko berteriak keras menyerukan namanya saat pria itu dilihatnya tersungkur di tanah.
"Astaga!" Kata Dean dan Vicenzo berbarengan.
"Bagaimana ini? Kita tidak mungkin diam saja! Kita harus menolongnya!" Marko beralih pandang pada ketiga sahabatnya.
"Tapi kita tidak mungkin bisa menolongnya, kau ingat. Rei bilang jika kita bukanlah tandingan dari mereka!" Dean mengingatkan.
"Tapi kita tidak mungkin diam saja! Aku akan membantunya!" Marko bergerak hendak membantu William tapi dengan cepat Dean menahan pergelangan tangannya sebelum ia bertindak nekad dan membuat Rei serta kedua sepupunya itu semakin kewalahan menghadapi dirinya.
"Kau tidak bisa ke sana!" Tahan Dean.
"Jika kau ke sana yang ada kau hanya akan membuat keadaan semakin rumit dan membuat Rei serta kedua sepupunya semakin kerepotan!" Taz ikut menahan.
"Tapi kita tidak mungkin diam saja! Kita harus melakukan sesuatu!" Marko berusaha untuk membebaskan diri.
__ADS_1
Sementara mereka berdebat, di sana William berusaha untuk bangkit. Ia benar-benar tidak bisa tinggal diam saja dalam situasi saat ini. Apalagi sekarang, ada yang harus di lindungi olehnya.
"Aku tidak bisa terus seperti ini! Aku harus bisa bangkit dan mengalahkan mereka," William membatin. Ia terus berusaha untuk bangkit namun gagal.
"Sekarang kau tidak akan bisa menghalangi kami lagi," satu pria di sana berujar. Berjalan menghampiri William seraya tersenyum simpul melihat kesengsaraan darinya.
"Sekarang rasakan ini," pria itu kembali berujar, perlahan sebelah tangannya terangkat. Ia mengarahkan telapak tangannya pada William di bawah sana, hendak menembak pria itu dengan kekuatan laser pemusnahan miliknya.
Dari posisinya saat ini, William perlahan dapat melihat titik mereka dari tengah-tengah telapak tangan pria itu. Titik itu semakin besar sampai kemudian cahayanya bergerak cepat ke arahnya.
William terbelalak saat melihat cahaya itu terus semakin dekat menghampiri dirinya, sesaat ia berpikir jika ia akan mati. Tapi secara tiba-tiba pemikirannya itu hilang begitu saja saat secara tiba-tiba sebuah perisai medan gaya muncul dan melindungi dirinya.
"Hahh… hahhh… hahh…" napasnya tersengal-sengal. Suaranya begitu keras sampai-sampai William yang tersungkur di sana dapat mendengarnya.
Fokus mata William kemudian beralih pada sosok wanita yang mana merupakan kakaknya di sana. Wanita yang menggunakan kekuatan evol-nya untuk melindunginya.
"Ka-kau baik-baik saja?" Tanya Elvina dengan terbata. Ia masih berusaha untuk mengatur napasnya.
William terdiam di sana, ia melihat Elvina yang berusaha keras melindungi mereka dengan kekuatan yang dia miliki.
"G-gawwat! Energiku benar-benar terkuras. A-aku sudah tidak tahan lagi. Ta-tapi aku harus bertahan, agar Dean serta teman-temannya dan Will dapat selamat," Elvina membatin di sana. Ia masih terus berusaha melindungi dirinya dan yang lain dengan kekuatan evol-nya, ia bahkan sampai terseret jauh ke belakang. Bahkan saat ini jaraknya sudah berada berdekatan dengan William di sana.
Pria sang pengendali kekuatan sinar laser itu lantas berhenti ketika menyadari serangannya meleset.
"Sial! Kau menghalangi saja!" Umpatnya yang kemudian beralih menyerang Elvina.
"Kita lihat seberapa kuat kau bisa menggunakan kekuatan evol-mu itu!" Gumamnya seraya menyerang Elvina.
"E-energiku b-benar-benar hampir habis," batinnya. Elvina sudah tidak tahan lagi menahan serangan empat orang evolver yang menyerangnya secara bersamaan.
"Gawat! Mereka menyerang Elvina secara bersamaan! Kita tidak boleh tinggal diam!" Marko disana bersikeras untuk menolong Rei dan kedua sepupunya yang masih berusaha melindungi dirinya dan ketiga sahabatnya yang lain.
__ADS_1
Marko bergerak melangkah untuk membantunya, tapi ia berhenti seketika.
...***...