Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 81


__ADS_3

...***...


"Aku berhasil menemukannya," gumam Rei seraya menatap kancing di tangannya.


"Tapi sayangnya, aku tidak berhasil membawanya masuk ke dalam dunia ini," tuturnya yang kemudian mengepalkan tangannya erat, membuat kancing di tangannya itu tenggelam dalam kepalan tangannya.


Fokus mata Rei beralih menatap Nata di hadapannya. Sosok wanita itu perlahan mulai lenyap menjadi abu yang dalam sekali hembusan angin lenyap tak bersisa, tanpa meninggalkan jejak.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang tuan?" Tanya Louis yang berhasil membuat fokus Rei beralih menatap ke arahnya yang berdiri tepat di sampingnya itu.


"Kita kembali. Untuk saat ini setidaknya kita tahu mereka semua dalam keadaan yang aman. Sekarang kita hanya harus memastikan mereka tidak keluar dari tempat persembunyian kita. Karena jika Dean dan teman-temannya keluar, itu akan lebih berbahaya lagi bagi mereka. Apalagi saat ini, mereka sudah mengirimkan evolver penjaga kepercayaan mereka. Ini akan sangat berbahaya."


"Yang anda ucapkan ada benarnya juga tuan."


"Kalau begitu ayo kembali. Yang lain saat ini pasti tengah menunggu kita kembali."


"Baik. Mari tuan," kata Louis yang lantas berbalik bersama dengan Rei di sampingnya. Mereka melangkah bersama meninggalkan tempat mereka berada saat ini.


...*...


Rei membuka kedua matanya secara perlahan. Ia mengerjap, membuat fokus Elvina dan yang lainnya seketika beralih pandang pada dirinya yang baru saja sadarkan diri.


"Rei!!" Elvina senang bukan kepalang. Ia spontan memeluk Rei di sana dan menangis bahagia melihat sepupunya itu kembali dengan selamat. William tersenyum lega begitu pula dengan Dean serta keempat sahabatnya yang lain. Mereka semua menatap Rei seraya tersenyum senang.


"Aku senang kau kembali dengan selamat," gumam Elvina seraya menangis di sana.


"Aku bisa kembali karena kalian juga yang membantuku," tutur Rei yang kemudian melepaskan diri dari pelukan Elvina dan terduduk di sana.


Elvina mengusap air matanya lalu menatap Rei dengan raut wajah berbinar.


"Apa yang kau lakukan di sana? Kenapa kau pulang terlambat?" Tanya Marko yang penasaran. Ia menatap ke arah Rei dengan tatapan yang sulit di artikan, begitu pula dengan keempat sahabatnya yang lain. Mereka menatap Rei yang baru saja sadarkan diri.


"Aku berusaha menangkap si pengendali kabut mimpi itu."


"Huh? Tapi bagaimana caranya?" Tanya Marko.


"Memangnya bisa?" Nero menatapnya dengan raut wajah penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja bisa," sahut Rei seraya tersenyum. "Aku melakukannya dengan cara memanfaatkan Nata," tutur Rei.


"Nata? Siapa itu?" Dean bertanya, mewakili ketiga sahabatnya yang lain.


"Maaf aku harus memanfaatkan kakak perempuan mu Nero," kata Rei seraya menatap Nero di sana.


"Kakak perempuan?" Ucap mereka serentak sembari menoleh ke arah Nero dengan raut wajah terkejut.


"Iya. Nata adalah kakak perempuan ku," sahut Nero seraya menatap keempat sahabatnya. "Dan. Tidak apa-apa Rei, lagipula dia hanya ilusi dan bagian dari mimpi yang di ciptakan oleh si pengendali kabut mimpi itu. Nata yang sesungguhnya mungkin sekarang tengah tersenyum bangga padaku karena sudah bisa melepaskan nya dan melawan rasa takut yang selama ini menyelimuti ku," Nero menundukkan kepalanya.


"Jangankan Nata. Aku juga sangat bangga padamu. Begitu pula dengan Louis," Rei menepuk pundak Nero.


"Ah, ya. Dimana Louis? Bukankah seharusnya dia juga ada di sini?" Tanya Nero yang baru sadar mengenai Louis.


"Kau bertemu dengan Louis?" Dean bertanya pada Nero.


"Iya. Dia yang telah membantuku dan Rei keluar dari dalam danau saat kami terjatuh."


"Saat ini dia sedang beristirahat dan memulihkan tenaganya. Kau akan bisa bertemu dengannya nanti," kata Rei.


"Iya," jawab Rei seraya tersenyum.


...*...


TUK!


Elvina menaruh satu hot chocolate di hadapan Rei begitu ia selesai membuatkan nya untuk mereka. Ia lantas berjalan menghampiri kursi miliknya di sana dengan secangkir hot chocolate miliknya di tangan. Saat ini mereka tengah berada di ruang utama. Duduk bersama bercengkrama seraya Rei hendak menjelaskan apa yang mereka alami.


"Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku karena kau dan Nero sudah kembali dengan selamat," katanya yang lantas meneguk minumannya. Rei terdiam sejenak memandangi hot chocolate di hadapan. Sementara itu Dean serta yang lainnya beralih pandang pada Elvina di sana.


"Terima kasih. Lagipula ini juga berkat bantuanmu. Andai saja kau tidak mengikatkan tali itu di saat yang tepat, maka mungkin Nero tidak akan pernah bisa keluar dari dalam sana," ujar Rei seraya meraih gelasnya dan meminumnya.


"Tali?" Beo Nero di sana seraya menatapnya dengan bingung.


"Iya. Tali," sahut William yang membuat atensi mereka beralih padanya.


"Tali apa?"

__ADS_1


"Tali yang tadi di ikat di antara tangan mu dan Rei."


"Oh. Tali itu yang kalian maksud?"


"Iya."


"Memangnya tali apa itu sebenarnya? Dan kenapa kalian mengatakan jika tali itu adalah kunci untuk membuka dunia mimpi itu dari luar?" Tanya Dean menatap Rei, Elvina dan William secara bergantian dengan raut wajah penasaran. Keempat sahabatnya menatap mereka sama penasarannya dengan Dean.


"Itu memang tali yang di gunakan untuk membuka pintu dunia mimpi itu dari luar. Tali itu adalah kuncinya."


"Kuncinya?" Ulang Marko yang masih tak mengerti dengan penjelasan Rei.


"Iya. Tali itu yang membuat Nero menemukan jalan menuju keluar dari dunia mimpi itu. Kau ingat Nero, mengenai cahaya putih terang yang kau lihat saat hendak keluar?" Rei menatap Nero.


"Ah ya. Aku ingat!" Ucap Nero.


"Cahaya putih? Tunggu! Kami tidak mengerti!" Marko di sana meminta penjelasan lebih.


"Jadi begini. Saat aku berusaha melawan rasa takutku, aku berjalan sampai kemudian menemukan sebuah cahaya terang yang semakin aku mendekat ke arahnya, cahaya itu semakin besar. Dan cahaya itulah yang membuat ku bisa kembali kemari dan bertemu dengan kalian," jelas Nero.


"Benarkah?" Marko tak percaya dengan yang di dengarnya.


"Iya."


"Jadi… tali itu adalah pembuka cahaya yang di maksud oleh Nero? Dan cahaya itu terhubung dengan dunia kita? Begitu? Apakah itu semacam portal?" Dean memastikan.


"Kau benar Dean," sahut Rei.


"Oh… aku mengerti sekarang. Jadi itu yang kalian sebut dengan kunci pembuka yang dapat membuat Nero lepas dari dunia itu."


"Begitulah. Dan jika saja saat itu Elvina tidak memasangnya tepat waktu, maka aku, Nero, dan Louis tidak akan pernah bisa kembali ke dunia ini dan akan terus terjebak dalam dunia yang di ciptakan oleh pria pengendali kabut mimpi itu."


"Elvina memasangkannya karena dia begitu cemas denganmu. Kalian basah kuyup dan napas kalian mulai menipis, maka dari itu Elvina segera mengambil tindakan," ujar William.


"Itu karena di dalam sana, kami terjatuh ke danau."


...***...

__ADS_1


__ADS_2