
***
Gadis disana resah bukan main ketika tidak juga mendapati orang yang di carinya itu tiba. Sudah hampir setengah jam, dirinya berdiri disana namun gadis yang menjadi sahabatnya itu tak kunjung tiba juga.
"Kemana dia? Kenapa sudah setelah jam belum juga tiba? Apakah dia tidak jadi datang?" Gumamnya seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari sudah hampir sore dan sang mentari bahkan sudah beranjak dari singgasana nya dan kini berada di ufuk barat.
"Benar-benar menyebalkan. Kemana dia?" Ia mengeluarkan ponselnya. Memencet nomor gadis yang di carinya, lantas menelponnya agar bisa mengetahui keberadaan gadis itu.
‘Tuuut…’ lagi. Tidak ada jawaban dari seberang sana, dan gadis itu mulai sebal.
"Argh benar-benar menyebalkan. Seharusnya jika dia tidak akan datang beritahukan padaku lebih dulu. Dia malah hilang begitu saja, membuatku menunggu saja," gerutunya.
"Lebih baik sekarang aku pulang, aku tidak ingin menunggunya lagi," ia melangkah pergi dari sana, tangannya terus bergerak mengotak-atik ponselnya berusaha menghubungi temannya itu namun selalu berakhir gagal. Sekolah baru saja bubar, dan hanya tinggal dirinya sendiri yang pulang paling akhir.
Dengan kesal dirinya melangkah menuju arah jalan pulang ke rumahnya. Jalanan yang sepi menuju rumah, membuat dirinya merasa diikuti oleh sebuah mobil yang sejak tadi melaju pelan di belakangnya. Gadis itu menghentikan langkahnya, menoleh sekilas ke arah mobil itu yang ikut berhenti.
"Kenapa aku merasa jika mobil itu mengikuti ku ya? Apakah hanya perasaanku saja? Atau memang mobilnya sejak tadi mengikuti ku?" Batinnya. Ia lantas berusaha bersikap biasa, melangkah menuju arah rumahnya. Namun semakin lama ia semakin merasa jika mobil itu mengikuti kemana arahnya pergi.
Ia mulai merasa cemas, dengan cepat gadis itu berlari dan secara bersamaan mobil itu juga melaju mengikutinya dengan kecepatan yang sedikit di tingkatkan olehnya.
"Benar kan? Mereka benar-benar mengikuti ku? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya cemas. Ia terus berlari menuju arah rumahnya, namun bukannya berlari ke jalan yang benar, dirinya malah tersesat dan masuk ke jalanan yang sepi. Gadis itu berlari ke dalam gang sempit yang sepi disana.
"Bagaimana ini?" Ucap pria itu yang kemudian menghentikan laju Volantes Currus-nya, di arah kemana gadis itu berbelok.
__ADS_1
"Kejar! Ingat! Kita tidak boleh gagal menangkap nya," tutur salah satu diantara mereka kemudian. Detik berikutnya mereka keluar dari dalam Currus-nya, dengan cepat berlari mengikuti gadis itu ke dalam gang sempit berkelok itu.
Gadis itu semakin mempercepat langkahnya ketika menyadari orang-orang itu mengejarnya hingga ke dalam sana. Namun hatinya mulai resah ketika menyadari jika gang itu akan segera berakhir.
SREKKK
Gadis itu berhenti. Dengan kakinya ia mengerem laju larinya, hingga menciptakan kepulan asap yang timbul dari gesekan kakinya. Gadis itu berhenti. Di hadapannya tepat terdapat sebuah dinding besar yang menjulang tinggi sekitar sepuluh meter. Dan sekarang dirinya tidak bisa lari lagi.
TAP-TAP!
Pria-pria itu berhenti ketika menyadari gadis itu menghentikan langkahnya.
"Sekarang kau tidak bisa lari kemanapun lagi," ucap salah seorang pria disana. Gadis itu berbalik menatap ke arah tiga pria berjas hitam lengkap dengan kacamata itu.
"Apa yang kalian inginkan!" Tuturnya. Ia mengubah posisinya, menyiapkan kuda-kuda. tangannya yang terkepal lantas mulai mengeluarkan energi listrik yang menampakkan percikannya.
"Kau tidak bisa melawan. Dan kau harus ikut dengan kami," kata salah satu diantara mereka. Mereka bertiga mengambil ancang-ancang untuk melawan gadis itu, berusaha mengepungnya untuk bisa menangkapnya.
"Kau tidak akan bisa lagi. Jumlah kamu lebih banyak, dan kemampuan yang kau miliki tidak akan bisa menyelamatkanmu."
"Menjauh dariku!" Gadis itu waspada. Matanya mengedar ke sekeliling, menatap tajam satu persatu pria disana, namun secara tiba-tiba tanpa peringatan lebih dulu, seseorang disana menembak dirinya dengan sebuah peluru kecil yang muncul dari jam tangan yang di kenakannnya, dan…
PIUUUUU—
__ADS_1
Peluru yang di tembakkan pria itu tepat mengenai leher gadis itu. Membuat dirinya seketika membatu, lantas lunglai hingga akhirnya tersungkur jatuh ke tanah dalam keadaan pingsan.
BRUKKK
Ia tidak sadarkan diri disana. Ketiga pria yang tengah berdiri mengepung gadis itu disana, lantas menoleh serentak ke arah pria yang baru saja menembak gadis itu hingga pingsan.
"Bawa dia!" Ucapnya seraya berbalik, membiarkan ketiga anak buahnya untuk mengurus sisanya. Ketiga pria lain disana bergegas membawa gadis itu, dan memasukannya ke dalam mobil mereka. Setelah semuanya selesai, mereka lalu membawanya pergi jauh dari sana.
*
"Kau akan aman berada disini!" Ucap wanita itu seraya memeluknya. Wanita itu lantas beranjak bangun, menatap ke arah pria tua yang kini memegang tangan anak kecil berusia sekitar tiga tahun itu.
"Apakah kau yakin akan melakukannya seorang diri? Bukankah ini terlalu gegabah? Jika kau sampai tertangkap juga, masalahnya akan bertambah rumit. Setidaknya bawalah salah satu anak buahku, dengan begitu kau akan aman," pria tua itu berkata seraya menatap lekat wanita dihadapannya itu.
"Aku tidak bisa pa. Ini terlalu berbahaya untuk papa nantinya. Biarkan aku pergi sendiri, dengan begitu akan lebih aman. Walaupun jika aku tertangkap nanti, setidaknya aku bisa kembali bersama dengan Dam."
"Tapi apakah kau tidak merasa kasihan pada dean? Dia masih sangat kecil, dan dia membutuhkan sosok kedua orangtuanya untuk menemaninya hingga dewasa nanti. Dia akan sangat sedih jika menyadari jika kau sebagai orangtuanya tidak ada disisinya ketika ia berusia sekecil ini."
"Bukannya aku tidak kasihan padanya, dan bukan berarti aku juga tidak menyayangi nya. Tapi bagaimana pun, aku tidak ingin membuat dean berada dalam bahaya. Jika dia terus bersama denganku, yang ada mereka akan berusaha untuk merebut dean dariku karena mereka tahu jika Dean memiliki dna istimewa dariku dan dam. Maka dari itu aku tidak ingin membuatnya terancam bahaya. Lagipula dengan Dean bersama dengan papa, aku yakin dia akan aman karena tempat ini sudah di rancang agar tidak terdeteksi oleh alat apapun. Jadi aku mohon jaga Dean dengan baik pa," katanya penuh harap.
"Baiklah kalau begitu, papa akan berusaha," ucapnya kemudian.
"Kalau begitu aku pergi," wanita itu berbalik lantas melangkah pergi. Dean yang melihat wanita itu pergi seketika menangis dan berusaha mengejarnya tapi tidak bisa.
__ADS_1
"MAMA!!!!!" Dean seketika membuka kedua matanya, keringat dingin mengucur deras di keningnya, jantungnya berdebar hebat dan napasnya terengah-engah. Ia mengedarkan pandangannya, namun ia baru sadar jika dirinya kini tengah berada dikamar.
***