Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 95


__ADS_3

...***...


"Hahh… hahh… hahh…" Trish berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Sudah berjam-jam mereka berjalan, namun mereka sama sekali tidak menemukan dimana tempat yang mereka cari itu berada.


"Bi-bisakah kita istirahat sebentar? Aku lelah," teriaknya pada Tessa yang masih tampak bersemangat untuk berjalan.


Tessa menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke arah Trish di belakang nya yang kini tengah berjalan dengan gontai.


"Huft~" Tessa menghela napasnya kasar. Ia lantas berdiri di sana, menghentikan langkah kakinya.


BRUKKK!


Trish merebahkan tubuhnya di tanah tepat di dekat Tessa sekarang. Ia benar-benar lelah sudah berjalan sangat jauh dari ujung jalan yang satu ke ujung jalan yang lain, dari arah barat ke arah timur sampai dari selatan hingga ke utara. Semuanya telah mereka susuri, namun hasil yang mereka dapat adalah nol besar. Mereka benar-benar tidak bisa menemukan satupun tempat yang di carinya. Dan Trish sudah mulai lelah untuk terus mencari. Ia sudah hampir putus asa.


"Kau ini payah sekali, katanya kau itu guru olahraga. Tapi kau benar-benar payah, bahkan berjalan seharian saja kau tidak kuat." Tessa berjongkok di sana. Memperhatikan Trish yang kini masih berusaha keras untuk mengatur napasnya yang tersengal.


"Dengar! Walaupun aku adalah guru olahraga, tapi aku tidak pernah berjalan sejauh ini dalam keadaan menggendong tas besar berisi pakaian milikku di dalamnya! Kau pikir tas ini seringan bulu?" Trish mendelik kesal ke arahnya. Ia lantas bangun dan duduk di tanah. Ia baru saja berhasil mengatur napasnya yang tersengal.


Tessa membuka tas yang di pakainya, ia kemudian merogoh sesuatu dari dalam sana.


"Ini! Minumlah!" Ujar Tessa pada Trish seraya menyodorkan sebotol minuman yang di bawanya.

__ADS_1


"Terima kasih." Trish menyambar botolnya, membukanya cepat lantas meneguknya.


"Jangan kau habiskan! Perjalanan kita masih panjang!"


"Iya-iya. Aku juga tahu," jawab Trish seraya mengelap bibirnya yang basah. Ia lalu menutup botol tersebut dan menyodorkan benda itu kembali pada Tessa. "Omong-omong apa tidak lebih baik kita cari tempat istirahat dulu? Hari sudah mulai gelap."


"Huh? Oh, kau benar. Aku baru sadar," gumam Tessa seraya mendongak menatap ke sekelilingnya. Dan langit biru yang membentang luas di atas mereka, kini mulai berubah warna menjadi jingga. Menandakan bahwa sang mentari perlahan mulai turun dari singgasana nya.


"Kau terlalu fokus pada ambisi mu sampai-sampai kau tidak sadar dan tidak perduli pada sekeliling," ujar Trish.


"Aku hanya ingin semua ini cepat selesai." Tessa beranjak bangun dari posisinya. Berdiri seraya membenahi tasnya.


"Ya, kau ada benarnya juga." Trish dengan susah payah bangkit dari duduknya. Membersihkan bajunya yang kotor karena berbaring di tanah.


"Aku setuju denganmu!"


"Kalau begitu ayo pergi."


Tessa dan Trish beranjak pergi dari tempatnya saat ini, mereka hendak mencari tempat untuk bermalam dan memulihkan energi sebelum mereka melanjutkan pencarian mereka besok pagi.


...*...

__ADS_1


Malam tiba. Setelah makan malam bersama, dan menghabiskan sisa waktu malam mereka bersama, akhirnya waktu tidur pun tiba. Mereka berlima beranjak menghampiri tempat tidur masing-masing. Berbaring di atas ranjang masing-masing dan mulai berusaha untuk tidur.


Sementara Taz, Marko, Vicenzo, dan Nero terpejam, beda halnya dengan Dean yang kini termenung seorang diri dalam kegelapan. Kedua matanya menatap papan yang kini menjadi pembaringan Nero di atas ranjang tidurnya.


"Apa sebenarnya arti dari mimpiku? Aku masih tidak mengerti, kenapa mimpi itu selalu muncul dalam tidurku dan kenapa setiap kali aku memimpikan nya, aku selalu menangis?" gumam Dean seraya memandang lekat di antara kegelapan. Entah kenapa sejak tadi otaknya kembali di sita oleh teka-teki yang bermunculan dalam benaknya. Rasa penasaran nya muncul saat ia terus teringat akan mimpi yang berhasil di ingatnya.


"Mimpi ini muncul semenjak aku kembali ke asrama, dan sebelum semua ini terjadi," gumam Dean.


"Apa sebenarnya arti mimpi ini?"


"Kalau di ingat-ingat lagi… dalam mimpi itu, aku masih dalam keadaan kecil. Aku di titipkan oleh mama pada kakek, kemudian dalam mimpi itu, mama pergi dan aku menangis. Tapi apa yang di ucapkan oleh Vice dan Nero benar. Yang menjadi pertanyaan nya adalah kemana mama pergi? Dan kenapa mama tidak muncul dalam mimpi ku itu?" Dean menelusuri kembali mimpinya dari awal. Ia berusaha mencari petunjuk akan mimpi yang di alaminya. Namun setelah hampir setengah jam dirinya mencari, tapi hasilnya tetap nihil. Ia benar-benar tidak bisa menemukan sedikit pun petunjuk dari mimpinya.


"Aku benar-benar tidak menemukan jawabannya. Aku tidak menemukan petunjuk sama sekali atas mimpiku itu. Tapi anehnya, entah kenapa aku merasa bahwa mimpi ini erat kaitannya dengan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan ku. Tapi apa? Apakah mimpi ini adalah petunjuk mengenai sesuatu? Ataukah mimpi ini sebenarnya adalah kejadian yang pernah aku alami sebelumnya?" Dean di hampiri berbagai pertanyaan dalam benaknya yang bermunculan satu persatu secara perlahan. Menyerbu otaknya dalam kegelapan malam yang tenang.


"Kalau di ingat-ingat lagi, hanya di mimpi ini aku ingat bahwa yang ada dalam mimpi itu adalah diriku. Diriku saat aku masih kecil. Sedangkan kalau aku dalam keadaan sadar seperti saat ini, aku benar-benar tidak bisa mengingat setiap kejadian yang aku alami saat aku kecil. Aku tidak bisa mengingat kehidupan ku saat usiaku masih kecil."


"Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian saat aku masih kecil? Apakah aku pernah mengalami kecelakaan sebelumnya? Yang menyebabkan ingatanku hilang dari memori otakku?" Dean bergumam pelan. Semakin ia pikirkan, maka semakin banyak teka-teki yang bermunculan di benaknya. Menyisakan pertanyaan tak berujung yang tak tahu apa jawabannya.


"Kalau benar… mungkin itu sedikit masuk akal. Tapi aku tidak bisa memastikannya benar atau tidak, karena aku tidak mengingat apa-apa. Yang tahu mengenai semua ini hanyalah papa dan mama, karena mereka yang sejak kecil mengurusku dan membesarkan ku. Dan mungkin satu-satunya cara agar aku bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang bermunculan di kepalaku ini adalah dengan bertanya langsung pada mereka."


"Ya, sepertinya aku harus bertanya pada mama dan papa mengenai apa yang terjadi saat aku kecil dan alasan kenapa aku tidak bisa mengingat semua kenangan ku saat aku kecil dulu. Aku harus bertanya," gumam Dean.

__ADS_1


...***...


__ADS_2