
...***...
Pria tampan berambut albino itu berdiri disana dengan kedua tangannya terlipat tepat di depan dada. Kedua manik mata keemasannya itu menatap tajam ke arah pria yang berdiri di hadapannya, sebelah sudutnya itu terangkat membentuk sebuah smirk. Di sisi lain pria berambut hitam lekat dengan mata Rubi menatapnya tajam penuh amarah, tangannya di bawah sana terkepal erat dan mulai mengeluarkan percikan api yang dapat di lihat oleh pria berambut albino di hadapannya.
"Kau kesal padaku? Karena aku yang berkuasa di sini?" Tutur si pria berambut albino itu seraya menyeringai, tatapannya bagai meledek si pria bermata Rubi yang menatapnya penuh amarah itu.
Vicenzo Tertius, itu namanya. Pria tampan dengan mata indah keemasan, penuh pesona yang dapat memikat hati setiap wanita yang memandangnya. Ia adalah seorang lelaki albino yang merupakan keturunan Indonesia-Inggris, ibunya adalah seorang wanita Inggris yang sama-sama seorang albino. Vicenzo memiliki kemampuan mengendalikan dan mengeluarkan air dari tubuhnya sebagai perlindungan diri, kemampuan itu berasal dari mama-nya. Sementara satu kemampuan lain yang di milikinya adalah membaca setiap pergerakan serangan musuh, kemampuan yang di dapatnya dari papanya yang merupakan seorang jenderal angkatan darat di Indonesia. Seorang tentara yang namanya cukup termasyur dan tak asing di telinga masyarakat.
"Aku tidak terima kau mengatur seenaknya. Ini adalah kamar tempat kita berdua, dan otomatis ini adalah tempat milik kita bersama, tapi kenapa kau membatasi ruang gerakku dengan garis seperti ini?!" Kesalnya berusaha untuk menahan amarahnya tetapi gagal, percikan api di tangannya mulai berterbangan keluar dari kepalan tangannya.
Taz Xantheus. Pria yang tampannya bisa di bilang sebelas dua belas dengan Vicenzo. Memiliki mata Rubi indah yang di dapatnya dari mamanya dan rambut hitam lekat dari papanya. Taz merupakan seorang pengendali energi api yang juga bisa mengeluarkan api dari tubuhnya, kemampuan itu merupakan kemampuan yang di wariskan oleh papanya. Sementara itu satu kemampuan lainnya adalah menangkap dan mengunci setiap targetnya, dengan kemampuan miliknya ini dirinya tidak pernah meleset dalam menembak targetnya. Kemampuan yang satu itu didapatnya dari mamanya.
Taz dan Vicenzo, keduanya tengah berdebat sejak masuk ke dalam kamar mereka. Taz yang keras kepala, pemberontak, dan tidak suka di atur itu keberatan dengan sikap Vicenzo yang terlalu perfeksionis, memimpin, dan menguasai. Vicenzo membuat sebuah garis pembatas di antara dua bagian kamar mereka. Garis itu tidak boleh di lewati oleh masing-masing orang di dalamnya, dan hal ini membuat Taz tidak suka dengan sikapnya. Ingin melawan namun sadar diri jika dirinya tidak akan menang melawan Vicenzo yang mana memiliki kemampuan mengendalikan air. Api melawan air tentunya sampai kapanpun akan kalah
"Kau tidak terima?"
"Tidak!" Balas Taz bersungut-sungut.
__ADS_1
"Kalau begitu kau boleh angkat kaki dari kamar ini. Pintu keluarnya di sebelah sana!" Vicenzo menunjuk ke arah pintu masuk yang terbuka disana. Dengan sikap acuh dan tenang dirinya lantas berbalik hendak duduk di ranjangnya, tanpa dirinya sadari jika Taz kini mulai memunculkan kobaran api dari tangannya. Membakar sebagian kaus berlengan pendek yang di kenakan olehnya.
"Kau…" kesalnya. Tangannya bergerak, menyambarkan api dari tangannya ke arah Vicenzo, namun pria albino itu lebih dulu menahannya dengan kekuatan yang di miliki olehnya. Alhasil api itu tak sempat sedikit pun membakar dirinya.
"Heh, dasar kekanak-kanakan. Tidak bisakah kau bersikap dewasa dengan tidak menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan?"
"Apa kau bilang? Kekanak-kanakan? Bukankah kau yang bersikap ke kanak-kanakan dengan membuat garis bodoh ini?!" Kesalnya. Mendengar ucapan Taz, Vicenzo sedikit tersinggung dengan ucapannya. Belum pernah dirinya mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut orang lain, dan ini adalah pertama kalinya.
"Kau… beraninya kau berkata seperti itu padaku!" Ucapnya kesal.
"Jaga ucapanmu!" Kesalnya.
"Jika aku tidak bisa memangnya kenapa? Apa yang akan kau la—"
BRYUURRRR!!!
Dirinya basah kuyup dalam seketika. Sebagian air masuk ke dalam mulutnya yang masih menganga saat belum selesai berbicara.
__ADS_1
"Nah, lebih baik kau diam seperti ini," tutur Vicenzo kemudian. Taz yang baru saja di siramnya dengan air dari kemampuannya itu mulai semakin kesal, amarahnya benar-benar sudah memuncak dan tumbuhnya mulai mengeluarkan asap bagaikan kobaran api yang di paksa padam dengan cara di siram dengan menggunakan air, seperti itulah penampakannya sekarang.
"Lebih baik kau jangan melawan peraturanku lagi, atau akan aku buat api dalam dirimu itu benar-benar padam untuk selamanya!" Ujar Vicenzo.
"Kau benar-benar menjengkelkan, kau belum tahu saja apa akibatnya karena sudah berani mengusik ketenangan ku," cetus Taz kesal.
"Memangnya apa akibatnya? Kau ingin melawanku dengan kemampuan yang kau miliki? Huh?" Jawab Vicenzo.
"Arrgggghh!!! Kau ini benar-benar membuatku jengkel!" Geramnya yang spontan membuat dirinya terbakar dengan kemampuan api yang muncul menyelimuti tubuhnya. Sementara itu, Vicenzo masih diam dengan tenang. Sejurus kemudian Taz mulai menyerangnya dengan kemampuan yang di miliki oleh nya, membakar sebagian barang-barang milik Vicenzo yang berhasil membuat pria itu marah dibuatnya. Vicenzo dengan cepat memadamkan api yang menjalar disana dengan kemampuannya. Pertarungan antara keduanya terjadi didalam sana. Suara berisik dan bau hangus barang-barang terbakar itu berhasil membuat perhatian orang-orang yang berada dekat dengan kamar asramanya itu berdatangan untuk menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi, tidak terkecuali Dean dan Nero juga datang untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi diantara dua penghuni kamar itu.
Tiba disana mereka mendapati Taz dan Vicenzo yang tengah saling menyerang dengan kekuatan masing-masing, saling menyerang hingga tanpa sadar keadaan kamar itu sudah tidak lagi berbentuk.
Di dalam sana benar-benar sudah kacau dan tampak tidak seperti semula yang rapi dan enak dipandang. Semuanya porak poranda akibat Taz dan Vicenzo yang saling menyerang, permasalahan yang timbul hanya karena sebuah garis yang digambar Vicenzo diantara tengah-tengah kamar mereka. Hanya karena itu saja, namun berhasil membuat mereka bertarung habis-habisan hingga membuat keadaan kamar mereka kacau.
Tidak ada seorangpun yang datang ke sana untuk melerai, mereka hanya menonton dan mendukung satu sama lain bagaikan tengah menonton pertandingan tinju gratis yang tersaji dihadapan mereka. Tidak sedikit diantara mereka saling meneriaki nama salah satu diantara keduanya, memberikan semangat dan menyuruh untuk menyerang balik dan jangan menyerah pada masing-masing. Sementara itu keduanya tak menggubris teriakan mereka karena terlalu fokus bertarung.
...***...
__ADS_1