
...***...
"Kalian akan tahu saat Dean mulai bergerak menuntun kita menuju tempat yang kita tuju."
"Aku?" Dean menatap ke arah Rei dengan raut wajah terkejut.
"Iya, kau."
"Kenapa aku?"
"Karena kau adalah kunci untuk kami menemukan kebenaran."
"H-huh?"
"Sudahlah, karena semuanya sudah kembali normal. Lebih baik kita beristirahat. Kalian pasti lelah setelah hari yang begitu panjang dan berat ini," Rei beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Ah ya. Aku setuju, aku juga benar-benar lelah. Dan aku ingin mandi," Elvina ikut bangun bersamaan dengan William di sana.
"Kalian juga lebih baik mandi setelah itu istirahat," tutur Elvina pada Dean dan teman-temannya.
"Baiklah," sahut Nero di sana, mewakili teman-temannya.
"Oh, dan aku hampir lupa memberitahukan ini pada kalian. Mulai hari ini kalian pindah ke kamar di sebelah ya, soalnya aku sudah membereskan kamarnya dan di sana sudah ada dua ranjang tingkat dan satu ranjang lagi untuk kalian masing-masing, jadi kalian tidak perlu tidur satu ranjang berlima lagi. Itu terlalu menyesak kan dan pasti kalian juga kurang nyaman harus berbagi ranjang, kan?"
"A-ah, begitu. Terima kasih," Nero tersenyum di sana.
"Anggap saja ini asrama baru kalian. Atau jika ingin menganggap rumah ini sebagai rumah kalian juga tidak apa-apa."
"Baik. Sekali lagi terima kasih."
"Ya. Kalau begitu aku dan Will pergi ya."
"Iya."
Elvina dan William beranjak pergi dari sana, meninggalkan Dean, Taz, Marko, Nero, dan Vicenzo berlima di dalam ruangan tersebut.
Masih di meja yang sama, Dean terdiam di sana. Otaknya masih berputar. Berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Rei barusan.
"Baiklah, aku lelah. Jadi aku akan mandi duluan setelah itu istirahat," Vicenzo beranjak dari sana.
"Aku juga ingin istirahat," Taz beranjak bangun mengikuti nya.
__ADS_1
"Kita juga lebih baik naik, ayo," Marko berucap pada Nero. Ia lantas bangkit dari sana, tapi langkah keduanya terhenti saat Dean di sana diam tak bergeming sama sekali.
"Dean?" Panggil Nero yang merasa kalau ada yang aneh dari pria itu.
"Huh?" Dean mengalihkan atensinya pada Nero.
"Kau kenapa?"
"Benar, kenapa kau melamun?" Marko menimpali.
"Bukan apa-apa. Aku hanya kepikiran mengenai ucapan dari Rei barusan."
"Ucapan Rei?" Beo Nero.
"Iya. Mengenai aku adalah kunci menunju kebenaran yang kita cari, apa maksudnya?"
"Ah, aku juga penasaran mengenai hal itu. Tapi jangan terlalu di pikirkan. Karena Rei bilang, semua itu akan terungkap seiring dengan berjalannya waktu. Jadi kau tenang saja, aku yakin cepat atau lambat kita akan tahu jawabannya."
"Benarkah?"
"Iya. Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri, dan percayalah pada waktu yang mengatur semuanya."
Dean diam membenarkan ucapan Nero di sana. "Mungkin kau ada benarnya," gumam Dean.
"Benar. Ayo!" Marko menimpali.
"Baiklah. Ayo," Dean tersenyum. Ia lantas beranjak bangun dari tempat duduknya, melangkah meninggalkan tempatnya berada saat ini dan pergi menuju ruangan yang semula Elvina maksud.
...*...
Waktu berlalu. Setelah membersihkan tubuh mereka, kemudian mengganti pakaian dengan pakaian yang telah di sediakan oleh Elvina, Rei dan William sebelumnya, dan lalu beristirahat sampai sore. Akhirnya jam makan malam tiba.
Saat ini Dean dan teman-temannya sudah berada di ruang makan. Duduk bersama dengan Rei, Elvina, dan William di atas satu meja makan besar yang sama. Yang memiliki ukuran dan panjang seperti sebuah meja jamuan.
"Omong-omong, kau bilang jika kami tidak boleh keluar dari sini dan kami tidak boleh sekolah. Lalu apa yang akan kami lakukan selama berada di sini?" Tanya Dean pada Rei. Hal itu membuat yang lainnya beralih fokus padanya.
"Eh, tidak boleh keluar?" Nero menatapnya dengan raut wajah terkejut.
"Ah, kau belum tahu ya?" Marko menatap Nero yang tampak terkejut.
"Apa memangnya?"
__ADS_1
"Untuk saat ini, kita tidak boleh keluar. Karena akan terlalu berbahaya, apalagi mereka sudah tahu tentang kita dan mulai mengincar kita. Rei bilang hanya berada di sini kita akan aman."
"Tapi, jika kita tidak bisa ke sekolah itu sama artinya dengan kita tidak bisa belajar kan?"
"Iya. Ugh, aku baru sadar akan hal itu. Ahhh liburan telah tiba tanpa aku sadari rupanya," Marko tersenyum di sana. Sementara Nero yang mendengarnya justru tampak sedih. Ia murung, menundukkan kepalanya seraya menatap makanan yang ada di hadapannya dengan tatapan tak berselera.
"Walaupun kalian tidak aku izinkan untuk keluar dari sini, kalian bisa menikmati segala fasilitas di rumah ini. Ada area khusus permainan, bioskop, ruang olahraga, ruang belajar, perpustakaan, taman, dan masih banyak lagi," tutur Rei menjawab pertanyaan dari Dean. Ia menatap ke arah Dean dan teman-temannya secara bergantian. Nero yang semula tampak sedih, seketika berubah kembali ceria saat ia mendengar bahwa di rumah itu terdapat ruang belajar dan perpustakaan.
"Ada perpustakaan?" Tanya Nero dengan wajah berbinar.
"Iya. Di dalamnya ada banyak sekali buku yang menarik untuk kau baca. Apakah kau mau berkunjung?" Tanya Elvina yang tampak senang menanggapi respon dari Nero di sana.
"Benarkah? Aku mau."
"Kalau begitu, besok kita ke sana. Kau bisa baca sepuasmu."
"Baiklah," Nero tersenyum. Ia lantas kembali fokus pada makanan yang tengah di nikmati oleh nya.
"Woah luar biasa. Apakah benar kalian memiliki arena permainan?" Marko berdecak kagum di sana.
"Iya, kami memiliki arena permainan. Kau ingin berkunjung?" William menjawab di sana.
"Tentu saja, pasti sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu di sini dengan bermain game."
"Ya, memang menyenangkan."
"Tapi Rei, sampai kapan kita harus di sini?" Kali ini Vicenzo yang mengajukan pertanyaan. Ia menatap ke arah Rei.
"Aku masih belum tahu. Tapi yang pasti, selama kalian di sini. Aku, William dan Elvina, akan pergi untuk memastikan situasi dan mengawasi pergerakan dari mereka."
"Jadi maksudmu, kalian akan mengikuti kemanapun mereka pergi?" Taz memperjelas.
"Iya. Dan selama kami mengawasi semua itu, kalian harus tetap di sini."
"Baiklah."
"Ingat untuk jangan keluar dari rumah. Karena untuk saat ini, mereka akan terus mencari kalian dan berusaha menangkap kalian. Itu akan sangat berbahaya bagi kalian, apalagi aku, Elvina dan William terkadang tidak akan selalu bisa melindungi kalian di saat-saat tertentu. Maka dari itu aku ingin kalian semua berhati-hati dan tetap di sini."
"Oke, kami mengerti," sahut Dean.
"Aku senang kalian sudah mulai mengerti dan mulai mau percaya padaku, El, dan Will." Rei tersenyum simpul di sana, menatap ke arah kelimanya, bergantian.
__ADS_1
...***...