Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 50


__ADS_3

...***...


Akhirnya putih yang di lihatnya bergantian pemandangan indah yang baru pertama kali di lihatnya. Ia berdecak kagum saat pemandangan itu pertama kali menyapa dan memanjakan matanya.


"Yang lain sudah menunggumu disana," Rei menunjuk ke arah dimana Dean, Taz, Marko, dan Nero duduk bersama beralaskan tikar dengan beberapa hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Mereka seperti tengah menikmati piknik bersama di bawah cahaya matahari yang begitu terik, menyinari sekeliling.


"Vice!" Marko menyerukan namanya saat secara tidak sengaja pria itu menangkap sosoknya yang baru saja muncul di sana. Mendengar pria itu berteriak membuat ketiga sahabatnya dan beberapa orang lain disana menoleh serentak ke arah yang di pandangnya. Vicenzo tersenyum tipis disana.


"Ayo pergi," ujar Rei yang kemudian berjalan menghampiri tempat dimana Dean dan keempat sahabatnya yang lain terduduk di sana bersama Elvina, William, dan Louis.


Baru tepat di hadapan mereka Vicenzo sadar jika ada sosok orang yang tampak asing dalam pandangannya. Seorang pria albino yang sama seperti dirinya terduduk disana. Di antara Elvina dan William yang duduk bersebelahan.


"Akhirnya kau tiba juga. Apa yang terjadi? Kenapa kau baru tiba?" Tanya Marko begitu mereka sampai.


"Ada beberapa hal yang harus aku urus," ujarnya pelan. Matanya kembali mengarah pada si albino itu.


"Duduklah," Elvina menginstruksikan padanya. Dean di sana bergeser agar Vicenzo bisa duduk. Kini ia terduduk bersama Rei di samping kanannya dan Dean di samping kirinya.


"Berhentilah menatapnya seperti itu. Aku tahu kalian sama, tapi jangan menatapnya terlalu berlebihan!" Komentar Marko yang membuat Vicenzo seketika tersadar dan menoleh ke arahnya. Marko sejak tadi memperhatikan Vicenzo yang terus menatap Louis. Vicenzo tidak dapat berkata-kata saat dirinya melihat pria albino selain dirinya. Tidak banyak populasi manusia albino seperti mereka, jadi tidak heran dirinya begitu terkejut saat melihat ada pria albino sepertinya yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.


"Kau pasti bingung kan?" Rei menoleh padanya. Vicenzo beralih pandang pula padanya.


"Perkenalkan ini adalah Louis," Rei memperkenalkan.


"L-louis?" Beo Vicenzo.


"Ya. Louis ini adalah orang yang selalu membantuku, dan selalu menemaniku. Dimana pun aku berada, maka Louis juga akan selalu ada. Kami tidak terpisahkan, dan saling bergantung satu sama lain," Rei menjelaskan. Perkataannya membuat Dean dan keempat sahabatnya itu bingung.


"Tunggu. Kau bilang tidak pernah terpisahkan dan selalu bersama? Tapi kami tidak pernah sekalipun melihatnya. Bahkan ini adalah pertama kalinya kita bertemu satu sama lain," ujar Nero yang tampak heran. Perkataannya di angguki setuju oleh ke empatnya.


"Itu karena hanya tuan yang dapat melihatku," Louis di sana menjawab. Di tatapnya Rei yang duduk disana.


"Tuan?" Beo Taz.


"Itu adalah sebutanku untuk Rei. 'tuan'."

__ADS_1


"Ooh," Taz menyimak.


"Tapi jika kau hanya bisa di lihat Rei, lalu kau itu apa? Dan kenapa sekarang kita bisa melihat mu?" Dean masih tidak mengerti.


"Karena ini adalah dunia mimpi," Elvina ikut bicara.


"Huh?" Ke empatnya menoleh serentak ke arahnya. Mereka masih benar-benar belum percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Ya. Dunia mimpi. Dan hanya di dunia inilah, kalian bisa bertemu dengan Louis secara nyata. Karena Louis memiliki kemampuan untuk terlihat oleh orang lain di dunia mimpi ini."


"Benarkah?" Marko tak menyangka.


"Benar, bahkan ini adalah dunia yang di ciptakan oleh Louis untuk Rei. Sebuah dunia yang di buat khusus agar aku, Elvina, dan Rei. Bisa bertemu walaupun kami tidak bisa bertemu di dunia nyata. Dunia ini adalah penghubung antar mimpi kami masing-masing," William menyahuti.


"Wah, benar-benar sulit untuk aku percaya," ujar Marko.


"Jika kau hanya bisa menampakkan diri di dunia nyata, maka apa itu artinya kau juga adalah bagian dari dunia mimpi ini?" Tanya Vicenzo retoris, di tatapnya Louis yang duduk bersebelahan dengan Elvina. Louis beralih pandang padanya.


"Tidak. Louis itu berbeda," Rei yang menyahut.


"Huh?"


"Tapi kenapa begitu?" Vicenzo bingung, ia benar-benar tidak mengerti.


"Karena Louis adalah sosok yang tercipta dari pangkal imajinasi ku."


"A-apa?" Dean dan keempat sahabatnya itu menatapnya tak bisa berkata-kata. Apa yang di ucapkan Rei benar-benar tidak dapat masuk dalam akal sehat mereka.


Rei mengulum senyum, ia sudah tahu jika beginilah reaksi mereka saat mendengar semuanya. Mereka tidak akan bisa percaya dengan semuanya.


"Louis adalah teman imajiner yang aku ciptakan. Dia memiliki berbagai kemampuan yang sebagian besar kemampuannya itu sama dengan kekuatan yang aku miliki."


"T-teman imajiner?" Marko mengulang.


"Iya."

__ADS_1


"Jadi metode itu benar-benar nyata? Aku pikir hanya karangan saja," ujar Nero. Keempat sahabatnya itu menoleh serentak padanya yang duduk tepat di tengah.


"Apa maksudmu?" Tanya Taz.


"Apakah kau tahu tentang ini?" Tanya Rei.


"Ya, aku tahu."


"Benarkah?" Elvina dan William tidak menyangka.


"Ng." Nero mengangguk.


"Tapi darimana kau tahu? Bahkan cerita tentang zaman dulu saja sudah hilang. Zaman saat dimana manusia hidup sebagai manusia murni dan bukan evolver. Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Elvina.


"Itu karena, mama ku memiliki buku-buku dari masalalu. Buku-buku yang bahkan sudah berusia berabad-abad lamanya."


"Benarkah itu?" Dean menatapnya.


"Iya. Dan aku sering sekali di ajaknya membaca olehnya, sampai ada salah satu buku yang menjelaskan tentang metode pembuatan teman imajiner. Aku pikir itu hanya karangan saja, dan aku pikir tidak pernah ada orang yang bisa membuktikannya. Tapi ternyata ada?"


"Ya. Memang ada, tapi tidak banyak. Bahkan perbandingan adalah 2 banding 10. Hanya segelintir orang saja yang memiliki kemampuan ini dan tahu tentang ini," sahut Rei.


"Wah, aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang aku dengar," Taz tak dapat berkata-kata.


"Sudah ku bilang. Banyak hal yang sulit untuk bisa di percaya oleh kalian. Apalagi jika aku jelaskan mengenai setiap pertanyaan yang kalian ajukan. Kalian akan lebih sulit lagi untuk bisa percaya."


"Ini benar-benar sulit untuk masuk dalam akal sehat kami," ucap Dean.


"Memang. Oleh karena itu, aku, Elvina, ataupun William tidak akan menjawab setiap pertanyaan kalian. Sampai semua yang aku lihat dalam kemampuan meramalku itu benar-benar terjadi. Seiring dengan berjalannya waktu, setiap pertanyaan kalian akan terjawab," tutur Rei. "Dan… Dean," Rei beralih pandang padanya. "Kau adalah orang yang akan menuntun teman-temanmu menuju jawaban dari semua pertanyaan itu."


"Aku? Tapi kenapa?"


"Karena itulah kekuatanmu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2