
...***...
"Maksudmu?"
"Itu tidak penting untuk sekarang. Tapi yang ingin aku katakan adalah, mulai sekarang kau harus membiasakan dengan setiap obrolan kita lewat telepati ini. Karena ini akan menjadi jalan untuk kita berkomunikasi saat kita berjauhan. Aku tidak bisa melepaskan kalian begitu saja. Terlalu berbahaya."
"Jadi maksudmu… kau akan mengawasi ku dan teman-teman ku, begitu?"
"Kurang lebih begitu. Tapi hanya untuk memastikan jika kalian baik-baik saja. Aku tidak bisa membiarkan kalian di tangkap oleh mereka atau kalian terluka. Pokoknya jika terjadi sesuatu padamu atau teman-temanmu, panggil namaku tiga kali dalam pikiranmu. Maka kita akan terhubung dalam telepati."
"Siapa 'mereka' yang kau maksud?"
"Orang-orang yang di tugaskan untuk menangkap para evolver seperti kalian. Aku tidak bisa membiarkan mereka menangkap kalian."
"Tapi kenapa kau begitu peduli terhadap kami? Bahkan kita baru bertemu, dan kenapa aku serta teman-teman ku harus percaya padamu dan kedua sepupumu?"
"Sepertinya yang aku katakan. Aku, El, dan Will peduli pada kalian, karena kalian adalah orang-orang terpilih yang di tugaskan untuk membantu kami menyelesaikan semua ini. Maka dari itu, sudah menjadi tugas kami untuk membantu dan melindungi kalian."
"Okay, aku akan berusaha mengerti mengenai hal itu. Tapi apa alasan untuk kami percaya pada kalian? Bagaimana jika ternyata kalian hanyalah orang-orang yang berusaha berbuat jahat terhadap kami?"
"Dengar! Kau harus percaya padaku. Karena aku, El, dan Will yang akan membantu kalian untuk menemukan kebenarannya. Kita yang membantumu dan teman-teman mu untuk menyelesaikan semua ini."
"Baiklah. Aku akan berusaha untuk percaya. Tapi ada satu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa? Mengenai mimpimu?" Tebak Rei yang spontan membuat Dean terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena aku bisa membaca pikiran dan isi hatimu. Bukan hanya telepati saja."
"Wah astaga, aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang aku dengar. Apakah kau benar-benar memiliki kekuatan lebih dari dua?"
"Ya. Sudah aku bilang. Aku bukan evolver biasa."
"Lalu, mengenai mimpiku—"
"Itu adalah petunjuk yang aku berikan padamu."
"H-huh?"
"Mimpimu adalah petunjuk yang aku berikan. Aku semalam membawa kalian masuk kedalam dunia mimpiku, karena aku ingin memberikan petunjuk untukmu mengenai kekuatan yang kau miliki."
__ADS_1
"Jadi… aku benar-benar masuk ke dalam dunia mimpi? Dan semua itu memang buatanmu?"
"Benar. Dunia itu adalah dunia yang aku buat agar aku bisa terhubung dengan orang yang aku mau temui saat tidak bisa bertemu dan berbicara langsung di dunia nyata. Jadi bisa dibilang jika dunia mimpi yang aku ciptakan itu, adalah dunia penghubung agar kita bisa berkomunikasi dan bertemu langsung."
"Begitu rupanya. Tapi, kenapa hanya aku yang mengingat dengan jelas mimpi itu, sedangkan teman-teman ku tidak?"
"Itu karena aku memberikan petunjuk hanya untukmu. Aku tahu kau memiliki keingintahuan yang besar mengenai kekuatan yang kau miliki, tapi aku tidak bisa berbicara secara langsung padamu. Maka dari itu aku memberikan petunjuk nya lewat mimpi."
"Jadi itu alasannya. Lalu. Apa yang kau maksud dengan perkataanmu di dunia mimpi itu? Yang kau bilang jika aku adalah orang yang akan menuntun teman-teman ku menuju jawaban dari semua pertanyaan itu?"
"Jangan tanyakan padaku. Karena hanya kau yang tahu jawabannya."
"A-apa?"
"Kau akan sadar saat kekuatan dalam dirimu itu muncul. Dan saat kepingan ingatan masa lalu mu itu, mulai bisa kau ingat."
"Tunggu…" Dean terdiam. Ia semakin lekat menatap Rei disana. Apa yang baru saja di ucapkan Rei dalam telepati nya membuat ia tersadar akan suatu hal.
...*...
"Dean!" Taz memanggilnya sekali lagi yang berhasil membuat pria di sampingnya itu seketika tersadar dari lamunannya.
Saat ini Dean dan ketiga sahabatnya tengah berada di asrama. Berkumpul bersama di kamar milik Taz dan Vicenzo. Di dalam sana ada Dean yang duduk bersebelahan dengan Taz yang tengah sibuk bermain game. Duduk bersama di ranjang miliknya. Sementara itu, Vicenzo dan Marko terduduk di ranjang seberang mereka. Vicenzo tengah sibuk dengan kecemasannya, dan Marko berusaha untuk membuatnya tenang.
Hanya Nero yang tidak ada di dalam sana. Pria itu sekarang sedang berada di sekolah. Setelah keempatnya memutuskan untuk bolos satu hari karena lelah, hanya Nero saja yang begitu tiba langsung memutuskan untuk berangkat ke sekolah.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Taz yang kemudian meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada permainannya.
"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Kenapa kau melamun? Apakah kau memiliki masalah? Jika kau memiliki masalah, tidak ada salahnya untuk bercerita. Siapa tahu dengan kau bercerita setidaknya kau merasa lebih lega."
"Ah itu…" Dean terdiam sesaat, bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Cerita saja. Siapa tahu aku atau teman-teman yang lain bisa membantumu," ujar Taz lagi.
"Sebenarnya ini bukan masalah yang terlalu berat. Hanya saja…"
"Hanya saja apa?" Taz menghentikan permainannya.
"Apakah kau bisa mengingat setiap kejadian yang kau alami di kehidupan masa lalu mu? Maksudku, saat kau masih kecil."
__ADS_1
"Ya, aku masih ingat. Memangnya kenapa?" Taz menatapnya tidak mengerti. Ia bingung kenapa Dean menanyakan hal itu pada dirinya. Dean menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku baru sadar jika ternyata selama ini aku tidak bisa mengingat sedikit pun momen-momen yang aku alami saat aku kecil."
"Huh? Benarkah?"
"Iya."
"Sedikit pun tidak?"
"Ng," Dean menganggukkan kepalanya.
"Aneh. Kenapa bisa ya?"
"Itulah yang membuat aku terus kepikiran sejak tadi. Tentang kenapa aku tidak bisa mengingat sedikit pun kejadian yang aku alami saat aku kecil."
"Apakah kau pernah mengalami suatu kecelakaan yang membuatmu kehilangan ingatanmu?"
"Entahlah. Tapi sepertinya tidak. Karena jika aku mengalami kecelakaan, maka mungkin saja ada bekas luka di tubuhku. Tapi ini tidak ada."
"Lalu, apa sebabnya ya?" Taz terdiam disana ia juga kini disibukkan dengan mencari jawaban dari pertanyaan yang muncul dibenaknya mengenai apa yang dialami oleh Dean.
"Taz! Dean!" Marko memanggil keduanya, membuat mereka berdua spontan menoleh kearahnya.
"Huh?"
"Aku lapar. Ini sudah waktunya makan siang. Bagaimana jika kita pergi ke luar untuk makan?"
"Pergi keluar?" Beo Dean.
"Iya. Kita makan di restoran, tidak mungkin kan jika kita makan di kafetaria. Apalagi orang-orang tahunya kita tidak masuk karena alasan lain bukan bolos."
"Ya, kau benar," sahut Taz.
"Aku juga lapar," Vicenzo menimpali.
"Kalau begitu ayo bersiap. Setelah itu kita pergi lewat pintu samping. Akan lebih aman lewat sana."
"Ayo."
...***...
__ADS_1