Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 65


__ADS_3

...***...


"Tapi kenapa kau ingin kertasnya di kembalikan seperti semula?" Tanya Rei.


"Aku ingin tahu berapa nilainya," sahut Taz.


"Apa?! Please jangan! Jangan kembalikan kertas itu seperti semula." Marko memohon di sana.


"Hanya itu? Aku bisa memberitahu kan hal itu pada kalian," tutur Rei.


"Benarkah itu?" Tanya Taz.


"Iya. Bahkan aku tidak perlu mengembalikan kertasnya."


"Lalu? Berapa nilainya?"


"C minus," sahut Rei yang membuat mereka semua melongo menatap Marko dengan raut wajah tak menyangka.


"Astaga," Taz yang merupakan sepupunya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Rei. C minus? Oh ayolah, nilainya saja bahkan tidak lebih jelek dari itu.


"Hehe… aku janji akan belajar lebih giat. Jadi… tolong jangan beritahukan ini pada orang tua ku ya?" Ucap Marko pada Taz.


"Akan aku adukan kau pada papamu!"


"Oh! Tidak! Jangan!!!" Marko menatap sepupunya itu horor.


"Kau pasti bolos kelas matematika lagi kan?"


"Tidak! Aku tidak bolos. Hanya saja… saat guru menerangkan, aku sedikit ketiduran," Marko menunjukkan sederet gigi putihnya.


"Sama saja bodoh!" Taz kesal dibuatnya. "Akan aku adukan kau pada apapamu!"


"Oh ayolah! Jangan seperti itu. Jika kau mengadukan aku, bisa-bisa mereka marah! Aku mohon jangan!"


"Tapi nilaimu justru lebih anjlok di bandingkan tahun lalu. Setidaknya tahun lalu kau mendapat B minus, setidaknya itu lebih baik dibandingkan C minus."


"Aku tahu. Tapi aku janji aku akan belajar lebih giat lagi asalkan kau berjanji untuk tidak mengadu pada kedua orang tua ku."


"Tetap akan aku adukan!"


"Oh ayolah. Atau begini saja, sebagai gantinya aku akan memberikan apapun yang kau mau. Bagaimana?"


"Kau berusaha menyuapku? Oh itu tidak akan berhasil! Lagipula apa yang aku inginkan darimu! Tidak ada, bahkan aku bisa memiliki apapun yang aku inginkan hanya dengan berbicara pada orang tua ku. Untuk apa aku memintanya darimu."


"Ayolah Taz. Aku mohon! Jangan adukan aku. Kalau begitu sebagai gantinya akan aku berikan barang kesayangan ku bagaimana?"


"Tidak! Kau tidak akan pernah bisa menyuapku! Lupakan saja!"

__ADS_1


"Oh ayolah. Kalau begitu aku akan membelikan kau makanan dan barang-barang yang kau inginkan bagaimana?" Tawar Marko lagi. Taz terdiam sesaat. Tampaknya pria itu mulai tergiur dengan tawarannya kali ini. Tapi Taz bergegas menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" Tolaknya lagi.


"Baiklah penawaran terakhir ku. Akan aku berikan setengah dari uang jajan ku. Bagaimana?" Tanya nya. Taz melirik ke arahnya.


"Tiga perempat aku baru mau!"


"Ah kau serakah sekali! Tidak bisa! Dua perempat! Bagaimana?"


"Itu sama saja dengan setengah bodoh! Aku tetap tidak mau!"


"Ayolah aku mohon!"


"Tiga perempat."


"Dua perempat!"


"Tiga, atau lupakan saja! Akan aku adukan sekarang juga," Taz mengeluarkan ponsel miliknya yang berhasil membuat Marko panik di sana.


"Okay! Okay! Tiga perempat! Aku mengalah!"


"Kau serius?"


"Iya!"


"Oke, deal!" Taz menjabat tangan Marko.


"Senang berbisnis dengan ada," Taz tersenyum senang di sana.


"Tapi aku tidak!" Ketusnya.


"Oh ayolah. Nanti aku akan membelikanmu makanan yang enak begitu aku menerima uang darimu, bagaimana?"


"Itu sama saja dengan kau membelikan aku sesuatu dengan uang milik ku sendiri!"


"Tentu saja berbeda. Karena uang itu nantinya sudah berada di tanganku!"


"Ah terserah kau saja!" Kesal Marko.


Rei, Dean serta Vicenzo di sana terkekeh melihat perdebatan dua sepupu itu. Benar-benar sesuatu yang sangat jarang mereka lihat.


"Kalian sejak tadi terus bertengkar sampai-sampai tidak sadar jika kami ada di sini," ujar Rei.


"O-oh, ya. Maaf atas keributannya," Marko tersenyum di sana.


"Tidak apa-apa. Oh ya, omong-omong sepertinya mulai hari ini dan seterusnya kalian harus tetap bersama dengan aku dan kedua sepupu ku. Aku tidak ingin mengambil resiko jika kalian sampai kenapa-kenapa hanya karena kalian jauh dari pengawasanku."

__ADS_1


"Maksudmu kita harus di sini?" Tanya Dean.


"Kurang lebih seperti itu."


"Tapi bagaimana dengan sekolah? Kami tidak mungkin tidak masuk sekolah kan?" Tanya Vicenzo.


"Kalian tidak usah khawatirkan hal itu. Orang-orang akan mengira nya kalian hilang karena kalian tertangkap oleh orang-orang yang menculik para evolver."


"A-ah ya. Itu masuk akal."


"Jadi aku harap kalian tidak jauh-jauh dariku dan tetap di sini."


"Tapi apa yang akan kita lakukan selama kita di sini? Dan lagi kenapa kita harus bersembunyi di tempatmu?"


"Karena hanya tempatku ini satu-satunya tempat yang tidak bisa mereka lacak keberadaan nya."


"Benarkah?"


"Iya."


"Tapi bagaimana bisa?"


"Aku menciptakan rumah ini di bawah pelindung tidak terlihat yang aku rancang. Maka mereka tidak akan ada yang tahu kalau kalian di sini."


"Ah begitu ya," Marko menyimak.


"Iya. Dan lagi, aku akan menceritakan secara perlahan apa saja yang sebenarnya terjadi dan alasan mengenai banyak hal dari pertanyaan kalian. Sebisa mungkin aku akan menjelaskan nya."


"Baiklah. Kami mengerti."


"Kalau begitu lebih baik sekarang kalian istirahat. Aku harus mengecek keadaan Nero lebih dulu, memastikan jika dia baik-baik saja," Rei beranjak dari tempatnya duduk. Berjalan menghampiri kamar dimana kloningnya memindah Nero.


"Kalau begitu ayo kita istirahat sementara menunggu Nero sadar," Marko beranjak bangun bersama dengan ketiga sahabatnya.


Mereka berempat kemudian beranjak pergi menuju satu kamar lain yang kemarin mereka gunakan untuk tidur bersama.


Sementara itu, Rei yang baru saja tiba di dalam kamar nya, kini dapat melihat Nero yang terbaring tak sadarkan diri di sana.


Rei menghampiri Nero dan duduk tepat di tepi ranjangnya. Ia menatap pria yang masih terpejam itu lekat.


"Aku tidak menyangka jika aku akan bertemu dengan reinkarnasi dari nya di sini. Setelah kejadian beratus-ratus tahun lalu, aku pikir aku dan Lucy berhasil mengalahkannya. Tapi tidak di sangka, dia hidup lagi, tapi dengan identitas yang berbeda," Rei bergumam.


"Maaf membuat kalian harus terjebak dalam semua ini," Rei mengusap pelan tangan Nero di sana. Ia lantas menaruh kedua tangannya di atas perutnya, melipat keduanya dengan amat pelan dan rapi.


"Aku akan berusaha sebisa mungkin membuat mu sadar dari sana. Aku tidak akan membiarkan kau tinggal dan terjebak terlalu lama dalam cengkeraman pria itu. Aku akan membebaskan mu. Dan akan aku pastikan kau pulang dengan selamat. Agar kau bisa kembali berkumpul dengan keempat sahabatmu," kata Rei lagi.


Ia lantas beralih pandang ke arah lain. Ia terdiam sesaat, kedua matanya terpejam dan dalam hatinya ia memanggil sang teman imajiner yang senantiasa membantunya.

__ADS_1


"Louis," ucapnya dalam hati. Sosoknya muncul begitu ia membuka mata.


...***...


__ADS_2