Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 51


__ADS_3

...***...


KRIIINGGGGG!!!!!


Spontan ia membuka matanya saat secara tiba-tiba bunyi alarm pada ponselnya itu membuatnya terkejut. Kedua matanya terbuka seketika. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah keadaan kamar yang masih tampak sama seperti sebelum ia memejamkan mata.


Dean beranjak bangun, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati teman-temannya yang tengah berbaring di sana. Masih ditempat yang sama dan ruangan yang sama.


"Jadi… semua itu tadi hanya mimpi?" Batinnya.


"Bisakah kau matikan bunyinya? Itu benar-benar mengganggu," Taz bergumam disana. Masih dengan mata yang terpejam.


"Ah, maaf," Dean baru sadar jika suara alarmnya masih berbunyi. Dean meraih ponselnya lantas mematikan bunyi yang terdengar bising itu.


"Apakah ini sudah pagi?" Nero yang terbangun lalu duduk seraya mengucek kedua matanya, berusaha untuk memperjelas penglihatannya yang mengabur.


"Iya," sahut Dean seraya melirik padanya.


"Sepertinya tadi malam aku bermimpi sesuatu yang aneh," Nero menguap.


"Kau juga bermimpi?" Tanya Dean dengan raut wajah terkejut. Nero beralih pandang padanya.


"Memangnya kenapa? Kau juga?"


"Iya. Di dalam mimpi itu, aku, kau, Vice, Taz dan Marko pergi ke suatu tempat bersama dengan Rei dan kedua sepupunya. Setelah itu kita duduk bersama di sebuah ladang hijau yang begitu indah, kita piknik di tepi sungai dan kita mengobrol. Oh dan ada satu pria asing. Kalau tidak salah namanya… Louis. Ya, Louis. Apakah kau juga memimpikan hal yang sama?" Dean bersemangat. Nero yang mendengarnya hanya bisa mengerutkan keningnya bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Dean.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan. Tapi yang jelas, aku tidak ingat aku memimpikan apa," sahut Nero.


"Kau tidak ingat?" Tanya Dean. Nero mengedikkan bahunya.


"Sama sekali tidak," jawabnya kemudian.


"Astaga, tidak bisakah kalian berbicara pelan sedikit?" Vicenzo bangun membuat mereka menoleh spontan padanya. "Apa yang kalian ributkan pagi-pagi begini?" Vicenzo mengucek kedua matanya.


"Ah. Maaf jika pembicaraan kami membuatmu terbangun," ujar Dean.


"Tidak apa-apa. Tapi apa yang kalian ributkan? Sampai kalian berisik begini?"


"Oh, itu. Dean bermimpi," tutur Nero.

__ADS_1


"Kalian ribut hanya karena mimpi?"


"Kurang lebih begitu. Ah, tapi… apakah kau juga bermimpi?" Tanya Dean.


"Huh? Aku?" Vicenzo terdiam sesaat berusaha mengingat-ingat. "Entahlah aku tidak ingat. Memangnya kenapa?"


"Jadi… hanya aku yang memimpikan itu? Atau… hanya aku yang mengingat mimpinya?" Dean membatin. Ia terdiam seketika.


"Sudahlah jangan mengurusi hal yang tidak penting. Lebih baik kita bersiap. Kita harus pulang, pagi ini. Ingat?"


"Ah ya. Kau benar," sahut Nero.


"Aku mau bersiap lebih dulu," Vicenzo beranjak dari tempat duduknya lantas berjalan menuju arah kamar mandi untuk bersiap pulang.


"Dean!" Nero memanggil pria itu, berusaha menyadarkannya dari lamunan.


"Y-ya? Kenapa?" Dean terkejut.


"Jangan melamun seperti itu. Lebih baik kita bangunkan Taz dan Marko, kita harus pulang pagi ini."


"Ya. Kau benar. Kalau begitu ayo bangunkan mereka."


...*...


"Aku tahu kau masih mengingat mimpinya," Dean seketika terdiam saat secara tiba-tiba mendengar suara Rei. Ia melirik pada Rei yang duduk di ujung meja sana. Pria itu tengah sibuk berkutat dengan makanannya dan tidak berbicara sepatah kata pun. Tapi anehnya, Dean bisa mendengar suaranya. Bahkan terdengar nyata dan sangat jelas.


"Aneh. Aku seperti mendengar suara Rei yang berbicara padaku. Apakah hanya perasaanku saja? Rei bahkan sedang sibuk dengan makanannya. Tampaknya aku berhalusinasi karena kurang tidur," pikir Dean yang kemudian kembali memutuskan untuk fokus pada makanannya.


"Aku memang berbicara padamu!" Lagi. Ia tersentak saat lagi-lagi suara Rei di dengarnya. Ia terdiam, dengan mata yang terbelalak. Dean mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap satu persatu orang yang duduk mengelilingi meja makan itu.


Saat ini dirinya tengah menikmati sarapan bersama dengan keempat sahabatnya dan Rei serta kedua sepupunya juga.


"Kau kenapa Dean?" Nero yang duduk disebelahnya itu menoleh padanya sembari mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Semua orang yang mendengar suara Nero spontan beralih pandang pada Dean yang di pandang Nero.


"A-ah tidak. Tidak ada apa-apa," tuturnya.


"Kau yakin?" Tanya Nero lagi.


"Iya. Aku tidak apa-apa. Sudahlah kita lanjutkan makannya," ujar Dean yang berusaha bersikap biasa dan memilih untuk kembali fokus pada makanannya. Begitu pula dengan Nero, dan yang lainnya. Tapi Vicenzo yang duduk di hadapannya sempat meliriknya sekilas lewat ujung bulu mata lentiknya. Ditatapnya Dean untuk sesaat sebelum kemudian kemana fokus pada makannya.

__ADS_1


"Ini benar-benar aneh. Kenapa aku seakan-akan bisa mendengar suara Rei?" Dean membatin.


"Huft~ sudah aku bilang. Aku memang bicara denganmu!" Dean terkejut untuk yang ke sekian kalinya. Ia hampir tersedak gara-gara mendengar suara itu lagi-lagi dikepalanya.


Nero yang melihat Dean terbatuk bergegas memberikan gelas berisi minum pada Dean. Pria itu menyambarnya lalu meneguknya cepat.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Nero setelah Dean selesai minum.


"Ya. Aku baik-baik saja."


"Seharusnya kau makan lebih berhati-hati. Jangan terburu-buru," Taz di sana berkomentar. Memasukkan kembali makanannya ke dalam mulut.


"Ah ya."


"Jangan terkejut begitu. Kau bisa membuat yang lain bingung."


"R-rei?" Dean melirik pada Rei yang duduk disana. Rei tampak tenang, menyuapkan kembali makanannya ke dalam mulut lantas melirik ke arahnya sekilas. Pandangan mata mereka bertemu untuk sesaat sebelum kemudian Rei kembali fokus pada makanannya.


"Ya. Ini aku," ujarnya. Dean bahkan tidak bisa melihat mulutnya bergerak melontarkan kalimat.


"T-tapi… bagaimana bisa?"


"Aku berbicara denganmu lewat telepati."


"A-apa?" Dean terkejut, matanya masih memandangi Rei disana. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Ya, kau tidak salah dengar. ‘Telepati’."


"A-aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang aku dengar. Maksudku, bagaimana bisa kau memiliki begitu banyak kemampuan?"


"Karena aku bukan evolver biasa."


"Maksudmu?"


"Itu tidak penting untuk sekarang. Tapi yang ingin aku katakan adalah, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan setiap obrolan kita lewat telepati ini. Karena ini akan menjadi jalan untuk kita berkomunikasi saat kita berjauhan. Aku tidak bisa melepaskan kalian begitu saja. Terlalu berbahaya."


"Jadi maksudmu… kau akan mengawasi ku dan teman-teman ku, begitu?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2