
...***...
"I-ini benar-benar nyata?" Nero membatin. Ia semakin dibuat bingung dengan situasi yang tengah dihadapi olehnya.
"Jika ini nyata. Lalu selama ini yang aku alami itu apa?" Innernya. Nero terdiam sesaat, semuanya tampak tak masuk akal baginya. Entah apa yang ia alami selama ini. Apakah itu mimpi atau nyata, ia bahkan benar-benar tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.
"Nero?" Nata di sana menatapnya dengan raut wajah bingung. Tangannya perlahan terulur menepuk pelan pundak adiknya.
"Nero?" Panggilnya sekali lagi yang spontan membuatnya sadar.
"A-ah, ya?" Nero seketika tersadar. Ia menatap Nata dengan raut wajah terkejut.
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau melamun?" Tanya Nata dengan raut wajah bingung.
"A-ah, ya aku baik-baik saja," tutur Nero terbata.
"Jika ini sungguhan, lalu apa yang aku alami selama ini adalah mimpi? Apakah semua orang yang aku lihat itu mimpi? Tentang Marko, Dean, Vicenzo, dan Taz… apakah itu hanya bagian dari mimpiku?" Nero membatin. Otaknya masih terus berputar mencari jawaban dari pertanyaan yang mulai bermunculan di benaknya, pertanyaan yang semakin lama semakin membuatnya bingung
"Hey!" Nata menepuk pundak Nero sekali lagi membuatnya sadar. Nero tersadar dan menatap ke arahnya bingung.
"Kau kenapa? Kenapa kau melamun?"
__ADS_1
"A-ah tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," gumamnya.
"Sudahlah berhenti memikirkan apapun itu yang membuatmu melamun. Sekarang lebih baik kau sarapan. Aku sudah membawakan makanan kesukaanmu," Nata meraih kembali piring yang di taruhnya di atas meja nakas dekat tempat tidurnya di sana.
Nero memandangi hidangan yang di bawa kakaknya itu. Di sana Nero dapat melihat sarapan kesukaannya sejak kecil. Sandwich berlapis daging yang di buatkan secara langsung oleh Nata. Hanya sekali melihatnya saja, Nero dapat membedakan mana yang buatan Nata dan mana yang bukan. Karena setiap kali Nata membuatkan hidangan untuknya, ia selalu menata tampilannya agar lebih menarik. Dan wanita itu terkadang sering meninggalkan sebuah tanda di roti sandwich nya. Ada tanda tangan wanita itu yang di tulis dengan mayones yang kemudian di akhiri dengan sebuah gambar hati kecil di bagian ujung tanda tangannya. Bentuk hati itu di gambarnya dengan saus tomat.
Di piring yang berada dalam genggaman tangannya. Nata menata beberapa potong sandwich yang dibuatnya khusus untuk Nero. Sandwich buatannya adalah sarapan yang selalu di inginkan oleh Nero, seakan tidak ada makanan lain dan seakan tidak pernah merasa bosan dengan hidangannya. Nero bahkan sering meminta Nata untuk membuat kan sandwich setiap pagi untuknya. Dan Nata sebagai kakaknya tidak pernah merasa keberatan untuk membuatkannya.
Nero tersenyum simpul menatap apa yang ada di atas piring itu. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak merasakan sandwich buatan kakaknya itu. Bahkan seingatnya, sandwich buatan Nata yang di makannya terakhir kali adalah saat usianya sepuluh tahun. Dan itu sudah lewat bertahun-tahun lamanya.
"Kau mau sarapan kan?" Tanya Nata memastikan. Nero beralih pandang menatap ke arahnya, masih dengan senyuman yang mengukir wajah tampannya.
"Aku ingin sarapan bersamamu di ruang makan," tuturnya pelan.
"Iya." Nero mengangguk.
"Astaga. Ada apa denganmu pagi ini? Tidak seperti biasanya kau bersikap seperti ini. Setiap hari biasanya kau hanya ingin makan di dalam kamarmu dan tidak ingin makan di ruang makan karena tidak ingin bertemu dengan nenek dan kakek. Kenapa sekarang tiba-tiba kau ingin makan bersamaku di ruang makan?" Nata terkekeh menatapnya dengan raut wajah keheranan.
Nero terdiam sesaat membenarkan ucapan dari Nata. Ia ingat sekarang. Saat usianya masih kecil, ia sering sekali menolak untuk makan bersama di ruang makan bersama dengan Nata, kakek, dan neneknya. Karena ia tidak ingin bertemu dengan mereka saat di pagi hari. Apalagi sejak dulu, neneknya adalah wanita yang keras terhadap dirinya. Hal itu membuat Nero takut dan segan untuk makan bersama di meja makan, maka dari itu ia meminta untuk sarapan di kamar setiap pagi. Dan biasanya Nata yang selalu membawakan sarapan untuknya.
"Aku hanya rindu untuk makan bersama dengan kalian," sahut Nero pelan.
__ADS_1
"Sejak tadi kau itu bicara jika kau rindu. Memangnya kau pikir kita ini sudah lama tidak bertemu? Bukankah setiap hari kita bertemu? Apakah itu tidak cukup bagimu?" Nata mengusap pelan pipi Nero di sana.
"S-setiap hari?" Ulang Nero dalam hatinya. Ia terkejut dengan ucapan Nata barusan.
"S-setiap hari? Memangnya semalam aku tidur di sini?" Tanya Nero dengan raut wajah bingung.
"Pertanyaan konyol apa lagi ini, haha. Tentu saja kau semalam tidur di sini. Apakah kau tidak ingat? Bahkan kita sudah tinggal seminggu di rumah kakek dan nenek. Dan bahkan kemarin kita duduk bersama serta mengobrol tentang cita-cita mu saat sudah besar nanti. Apakah kau tidak ingat?" Tanya Nata yang sama bingungnya dengan Nero. Nata berusaha mengingatkan apa yang terjadi beberapa hari lalu.
"B-benarkah?" Nero semakin bingung.
"Iya. Kau tidak ingat?"
"Tidak," gumam Nero seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Astaga. Biar aku bantu kau mengingat. Kemari kita itu bermain di sini, kemudian aku bertanya padamu. 'Apa cita-cita mu saat kau sudah besar nanti?' setelah itu kau menjawab jika kau sudah besar kau ingin memiliki banyak uang agar kau bisa membeli tiket pesawat untuk kita agar bisa terbang ke Indonesia. Tinggal di rumah Om dan Tante Zola agar kau tidak terus mendengarkan papa dan mama yang terus bertengkar dan membuatmu takut. Apakah kau tidak ingat itu?" Tanya Nata. Ucapan Nata barusan membuat Nero seketika terdiam di sana.
"A-apa? Tapi… apa yang baru saja di ceritakan oleh Nat barusan adalah kejadian beberapa tahun yang lalu. Dan seingatku saat Nat bertanya seperti itu padaku, usiaku masih sekitar tujuh atau delapan tahun. Tepat sebelum Nat meninggal karena kecelakaan. Tapi kenapa Nat bilang jika itu terjadi kemarin? Apa yang sebenarnya terjadi?" Pikir Nero. Ia benar-benar semakin bingung saat ini, berbagai pertanyaan semakin banyak bermunculan di benaknya membuat ia semakin bingung dan tidak mengerti dengan situasi yang saat ini sedang ia hadapi.
"Apakah kau ingat sekarang?" Tanya Nata menyadarkan Nero.
"O-oh ya… aku ingat. Tapi seingatku, kau bertanya seperti itu saat aku berusia tujuh atau delapan tahun."
__ADS_1
"Pfffttt! Omong kosong apa yang kau bicarakan! Jelas-jelas kemarin aku bertanya seperti itu. Tampaknya karena bermimpi buruk, kau jadi lupa banyak hal."
...***...