Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 97


__ADS_3

...***...


"Oh ya. Kakek hampir lupa. Kakek memiliki sesuatu untukmu. Sebentar ya, kakek ambilkan dulu." Pria itu beranjak bangun dari tempat duduknya. Berjalan menghampiri ruangan lain, meninggalkan Dean seorang diri yang kini terduduk di sofa sembari menatap ke arah lukisan yang berada di belakang sofa itu. Lukisan yang sama yang dilihatnya dikamar.


"Dean!" Nero mengguncang tubuh Dean sekali lagi.


"Hahh!!!" Dean nyaris berteriak. Marko, Taz, Vicenzo, dan Nero seketika tersentak dibuatnya saat Dean secara tiba-tiba membuka kedua matanya seperti seorang yang baru saja kerasukan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Nero yang kini menatapnya dengan raut wajah cemas. Pria itu kini terduduk sembari berusaha mengatur napasnya yang masih terengah-engah.


Dean secara perlahan mendongakkan kepalanya, menatap satu persatu sahabatnya yang ada di hadapannya.


"Kau baik-baik saja?" Nero bertanya sekali lagi berusaha memastikan saat setelah tidak ada jawaban darinya sejak tadi.


"Ya… aku baik-baik saja," gumam Dean pelan.


"Apakah kau bermimpi lagi?" Tanya Vicenzo yang menyadari gelagat aneh dari Dean sahabatnya. Dean mendongak menatap Vicenzo.


"Iya," sahutnya kemudian.


"Benarkah? Apakah masih mimpi yang sama?" Kali ini Marko yang bertanya.


"Tidak. Aku rasa ini berbeda, tapi sama halnya seperti mimpi sebelumnya… aku tidak ingat sama sekali isi mimpinya."


"Lagi?" Taz menatapnya tak percaya.


"Iya," sahut Dean sembari memandanginya meyakinkan.


"Entah apa isi jelas dari mimpinya, tapi yang pasti rasanya berbeda di bandingkan sebelumnya," gumam Dean.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu di paksakan untuk mengingat mimpinya. Pada saat yang tepat, nanti kau juga akan tahu isi mimpinya. Sama seperti sebelumnya," ujar Nero berusaha mengalihkan perhatian Dean.


"Nero benar, sekarang lebih baik kita keluar dan kita sarapan. Rei, William, dan Elvina sekarang sedang menunggu kita di ruang makan." Vicenzo menimpali.


"Ya, ayo bangun." Nero beranjak bangun dari sana, Dean yang di ajaknya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku akan mencuci wajahku lebih dulu baru aku turun," kata Dean.


"Kalau begitu kami tunggu kau di ruang makan." Taz menghampiri pintu keluar.


"Iya."


Detik berikutnya Taz, Marko, Vicenzo, dan Nero keluar dari dalam kamar mereka meninggalkan Dean seorang diri di dalam sana yang kini mulai beranjak bangun dan melangkah perlahan menuju toilet.


Di dalam toilet Dean terdiam memandangi dirinya lewat pantulan cermin yang letaknya berada tepat di hadapannya. Wajahnya basah dan ia belum mengelapnya dengan handuk yang ada.


"Mimpi apa lagi kali ini? Kenapa aku mengalami mimpi yang aneh lagi? Dan kenapa setiap kali aku bermimpi, aku selalu lupa akan isi mimpinya?" Dean memonolog. Ia menundukkan kepalanya, menatap kosong air keran yang kini masih dalam keadaan menyala. Otaknya masih memikirkan mengenai mimpi yang baru saja di alami olehnya.


"Tampaknya tidak ada cara lain," Dean mendongak menatap dirinya. Tidak ada pilihan lain selain apa yang semalam ia pikirkan.


...*...


"Tangkap!" Ujar Tessa pada Trish yang tengah terduduk di sana. Pria itu mendongak spontan dan kedua tangannya refleks menangkap benda yang baru saja di lemparkan olehnya.


"Apa ini?" Tanya Trish, ia kemudian menundukkan kepalanya menatap sebuah roti berbungkuskan plastik.


"Sarapan untukmu. Maaf karena aku tidak memiliki terlalu banyak uang," sahut Tessa yang kemudian duduk di satu kursi kosong yang terletak di hadapan Trish.


"Dan untuk minumnya. Aku rasa satu botol saja cukup, kita bisa berbagi," tuturnya lagi seraya menaruh botol berisi air mineral yang di belinya ke atas meja di hadapan mereka.

__ADS_1


Saat ini mereka tengah berada di sebuah penginapan sederhana, dalam satu kamar yang sama yang semalam melindungi mereka dari udara malam. Jangan tanya apa yang terjadi tadi malam, karena tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Walaupun Trish dan Tessa tidur dalam satu ruangan yang sama, tapi Tessa membuat sebuah batas wilayah di antara mereka yang tidak boleh di langgar oleh masing-masing. Dan beruntungnya Trish mau mengikuti peraturannya.


Tessa membuka plastik berisi roti miliknya, membukanya dengan kasar dan memakannya dengan sangat lahap. Trish terdiam menatapnya, entah mengapa cara makan Tessa seakan-akan seperti seorang wanita yang sudah tiga hari belum makan apa-apa. Wanita itu makan dengan cara yang sangat berantakan.


"Maksudmu kita hanya sarapan dengan ini?" Tanya Trish memperjelas keadaan.


"Kita tidak memiliki banyak waktu, di tambah uangku juga hanya tinggal sedikit. Jadi makan dan jangan mengeluh, salahmu sendiri karena kau tidak mau mendengarkan aku untuk pulang. Jika kau ingin makan enak, lebih baik kau pulang dan makan di rumahmu!" Cetusnya. Berbicara dengan mulut mengembung penuh roti di sisi kiri dan kanan pipinya. Tessa mengunyah semuanya secara bersamaan.


"Pantas saja kau begitu kurus. Apakah kau makan seperti ini setiap hari?"


"Ya, memangnya kenapa? Kau keberatan? Makan dengan roti lebih murah dan menghemat biaya bagiku."


"Kau tidak bisa makan seperti ini terus menerus, kau butuh tenaga. Kau butuh protein dan karbohidrat untuk tubuhmu, kau harus makan dengan benar!"


"Ya, andai aku bisa makan seperti orang lain. Tapi ya… inilah hidupku, lagipula aku tidak keberatan makan roti setiap hari, di tambah lagi… bagiku ini keren. Kau tahu? Orang Eropa saja bahkan makan roti setiap paginya, dan dengan makan roti setiap hari, membuatku seakan-akan menjadi orang Eropa."


"Kau orang Asia! Dan kau tidak bisa menggunakan roti sebagai makanan pokok sehari-hari! Kau butuh lebih banyak protein agar tubuhmu kuat untuk beraktivitas. Sekarang bangun!" Trish beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia menghampiri Tessa dan menarik tangan wanita itu, memintanya untuk bangkit dari duduknya.


Tessa mendongak menatapnya dengan raut wajah bingung. "Ada apa? Kenapa kau memintaku untuk bangun?" Tanya nya.


"Sudahlah! Jangan banyak bertanya, sekarang ayo bangun dan ikut aku!" Trish menarik tangannya.


"T-tunggu! Kau mau mengajakku kemana?"


Trish menarik tangannya cepat, menuntun wanita itu keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Tunggu! Kau mau membawaku kemana sebenarnya?" Tanya Tessa yang masih bingung.


"Kita sarapan dengan benar!" Ujar Trish yang terus menariknya. Membawanya keluar dari penginapan dan berjalan menghampiri salah satu restoran sederhana terdekat di sana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2