
...***...
"Itu dia," tutur Marko pada Taz seraya tangannya menunjuk ke arah Nero yang baru saja berjalan keluar dari dalam kamarnya. Nero hendak pergi menjumpai Nataliya sepupunya untuk meminta bantuannya. Namun belum sempat dirinya jauh, Marko sudah lebih dulu memanggil nama pria itu.
"Nero!" Teriaknya memanggil nama pria itu. Pria dengan manik mata hijau itu lantas berhenti. Menoleh ke arah datangnya suara dan menatap Marko yang kini berjalan menghampirinya dengan Taz di belakangnya. Nero kenal dengan Marko, pasalnya tahun kemarin, mereka merupakan teman satu kamar yang akrab dan sering sekali bercerita mengenai masalah masing-masing.
"Marko?" Gumamnya menatap heran ketika keduanya sudah berada tepat di hadapannya.
"Kalian sedang apa?" Sambungnya bertanya.
"Sejak tadi aku dan Taz mencari kamarmu, ternyata tidak jauh dari kamar Taz," Marko tampak kesal, pasalnya sejak tadi dirinya dengan Taz hanya berkeliaran mencari keberadaan kamar mereka tapi tak kunjung mereka temukan, padahal sudah jelas-jelas kamar Nero hanya terhalang sepuluh kamar dari kamar Taz.
Nero yang mendengar ucapan Marko lantas mengerutkan keningnya, tidak mengerti mengapa kedua pria itu mencari keberadaannya.
"Kenapa kau mencariku?" Tanyanya bingung.
"Aku mencarimu karena aku lihat tadi kau masuk ke kamar Taz dengan di temani seorang lelaki yang membantu melerai pertengkaran antara Taz dan… siapa namanya?" Marko menoleh ke arah Taz. Ia tidak ingat dengan nama orang yang di tempatkan satu kamar dengan sepupunya itu.
"Vicenzo!" Taz tampak kesal, sepupunya itu sejak tadi tidak kunjung dapat mengingat nama pria yang merupakan teman sekamarnya itu. Sudah hampir seratus kali Marko bertanya tentang namanya namun tak kunjung di ingat olehnya.
"Ya, itu dia! Apakah kau kenal dengannya?"
"Vice? Ya. Sekarang dia ada di dalam. Memangnya kenapa kau memcarinya?"
"Taz ingin meminta maaf padanya, dan pada orang yang telah di lukai olehnya."
"Dean maksudmu?"
"Mungkin, aku tidak tahu."
"Masuklah, mereka ada di dalam."
__ADS_1
"Baiklah terima kasih," tutur Marko seraya menepuk pelan pundak Nero.
"Oh! Tapi ingat! Jangan membuat kekacauan di dalam kamarku, aku tidak ingin karena ulahmu aku dan kedua temanku yang ada di dalam sana jadi terseret masalah," pesannya pada Taz.
"Ya, aku tidak akan membuat masalah. Aku berjanji," ucap Taz dengan suara lembut. Dari warna yang muncul Nero dapat memegang perkataannya jika dia tidak akan membuat masalah. Tampak jelas jika Taz menyesal atas perbuatannya sendiri.
"Baiklah, aku percaya padamu. Kalau begitu masuklah," Nero tersenyum simpul ke arahnya. Ia lantas berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kedua orang itu disana.
Sepeninggal Nero, Taz terdiam menatap Nero yang kini menghilang di balik pertigaan sana.
"Semudah itukah dia percaya pada orang yang baru saja di kenalnya?" Gumamnya tidak percaya. Marko menoleh ke arah Taz lantas berkata.
"Dia memiliki sinestesia. Jadi sangat mudah baginya membedakan mana perkataan yang tulus dengan yang tidak hanya dengan melihat warna suaranya!" Cetus Marko membuat Taz mengerutkan keningnya bingung.
"Sinestesia? Kekuatan apa itu?"
"Bukan kekuatan, melainkan kemampuan alamiah yang dimiliki olehnya. Orang seperti dirinya jadi bisa melihat warna-warna dari suara yang timbul di sekitarnya," jelas Marko.
"Iya. Dan maka dari itu, dia sangat ahli dalam mengenali warna-warna suara dan mengerti akan apa yang di ucapkan oleh kita. Apakah itu tulus atau tidak, dia pasti akan tahu. Kau tidak akan bisa berbohong dengannya!" Ucapnya.
"B-begitu ya."
"Iya. Sudahlah, ayo masuk!" Marko mendorong pintu itu ke arah dalam lantas melangkah masuk dengan di ikuti Taz di belakangnya.
...*...
Dean disana terbaring, ia baru saja selesai di obati oleh Nero yang kini pergi untuk mencari Nataliya sepupunya untuk meminta bantuan. Sementara itu, Vicenzo disana mulai tertidur lelap. Tampaknya setelah kejadian itu, ia benar-benar lelah.
Dean termenung, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu. Ia mulai bosan, pasalnya tidak ada yang bisa di lakukan olehnya. Kecuali… ya, membereskan barang-barang miliknya, namun untuk sekarang ia malas melakukannya.
Fokusnya tersita seketika saat secara tiba-tiba sepasang telinganya menangkap suara pintu yang terbuka. Ia mendongak menatap ke arah pintu, disana ia mendapati Marko masuk bersama dengan Taz ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Permisi," gumam Marko pelan. Dean beranjak dari tempatnya, menghampiri keduanya yang kini sudah berada di dalam.
"Oh ternyata kalian. Ada apa?" Tanya Dean pada keduanya dengan suara rendah.
"Begini, aku dan Taz sepupu ku datang kemari untuk bertemu dengan kalian. Dia ingin meminta maaf atas kejadian yang telah terjadi," Marko berucap.
"Ya, aku mau meminta maaf karena sudah membahayakan nyawamu dan maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan karena menyelesaikan semuanya dengan kekerasan," Taz tampak merasa bersalah.
"Soal itu, tidak masalah bagiku karena aku tahu kau tidak terlalu bisa mengendalikan emosimu ketika sedang marah. Lagipula aku tidak apa-apa, hanya luka kecil saja dan beberapa hari lagi juga pasti sembuh. Lalu soal Vicenzo, aku juga minta maaf atas namanya karena sudah bersikap seperti itu. Harap di maklumi karena Vicenzo adalah orang yang kurang suka jika orang lain menyentuh barang-barangnya. Maka dari itu dia sering sekali membuat batas wilayah agar kedua belah pihak damai. Kau mengerti kan?"
"Ooh begitu rupanya. Aku baru tahu kenapa dia bersikap begitu," Taz bergumam.
"Iya. Dia sama sekali tidak memiliki maksud untuk membatasi ruang gerakmu."
"Aku mengerti sekarang. Ya, maksudku tentu saja aku juga tidak suka ketika orang lain menyentuh barang-barang milikku karena itu mengganggu, jadi aku memaklumi nya."
"Terima kasih."
"Tampaknya kau tahu banyak tentang dia, apakah kau adalah saudara atau sepupunya?" Tanya Marko yang merasa heran.
"Oh, tidak. Aku bukan saudara atau sepupunya. Tapi aku adalah teman sekamarnya tahun lalu. Dia juga melakukan hal yang sama ketika kita berada dalam satu ruangan yang sama. Membuat garis untuk membatasi wilayah masing-masing. Dan saat itu aku tidak keberatan aku hanya heran lalu aku tanyakan mengenai itu padanya. Lalu dia menjelaskan alasannya padaku. Dan sejak saat itu, kami menjadi akrab," jelas Dean.
"Ooh, begitu ya," Marko menanggapi.
"Ya, begitulah. Oh ya, kita belum sempat berkenalan. Namaku Dean Apollo," Dean menyodorkan tangan ke arahnya.
"Namaku Marko Oktavius," Marko menjabat tangan Dean seraya tersenyum simpul ke arahnya. "Oh, dan ini adalah sepupuku. Taz Xantheus," Marko memperkenalkan. Taz dan Dean saling berjabat tangan masing-masing.
"Senang berkenalan denganmu. Aku harap kita bisa akrab dan menjadi teman hingga lulus nanti," kata Marko yang kini senang.
...***...
__ADS_1